Akhlak Mulia

Oleh : Ahmad Yasin

Rasulullaah Shallallaahu alaihi wa Sallam diutus dimuka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak manusia, beliau Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Bukhari dalam Adab Al Mufrod, dishahihkan oleh Al Albani)

Dan juga islam datang sebagai rahmat bagi seluruh alam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al Anbiya’ : 107)

Rahmat tersebut tidak akan pernah terwujud kecuali dengan prinsip dan amal akhlak mulia.

Pada dasarnya seluruh lini ajaran islam mengajarkan akhlak mulia, agar seluruh umat berbuat baik terhadap sesamanya. Ibadah-ibadah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan juga sebagai penyokong agar terwujudnya akhlak mulia. Sebagai contoh Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ

“Dan laksanakanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut : 45)

Menjaga shalat terutama shalat lima waktu dapat menjaga pelakunya dari berbuat maksiat dan kemungkaran.

Pernah suatu ketika salah seorang sahabat datang kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya fulan melakukan shalat malam, tapi ketika pagi ia mencuri” kemudian Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya hal itu akan mencegah ia dari apa yang kamu ucapkan (mencuri).” (HR. Bukhari, dalam Adab Al Mufrod, dishahihkan oleh Al Albani).

Hadis di atas sangat jelas bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam benar-benar mengatakan bahwa shalatnya akan membuatnya menjadi orang yang berakhlak mulia serta menjauhkannya dari akhlak-akhlak yang tercela.

Akhlak Mulia Lebih Berat Timbangan Amalnya Daripada Ibadah

Dari Abu Hurairah Radhiyallaahu Ta’ala ‘anhu beliau berkata,

 قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِي النَّارِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا وَصَلَاتِهَا وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنْ الْأَقِطِ وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِي الْجَنَّةِ

Seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, ada seorang wanita yang terkenal dengan banyak shalat, puasa dan sedekah, hanya saja ia menyakiti tetangganya dengan lisannya, “ maka beliau bersabda, “Dia di neraka.” Lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah, ada seorang wanita yang terkenal dengan sedikit puasa, sedekah dan shalatnya, ia hanya bersedekah dengan sepotong keju, tetapi ia tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya, “ maka beliau bersabda, “Dia di surga.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani)

Di atas disebutkan bahwa amal ibadah seseorang tidak memberi manfaat ketika  akhlaknya buruk, sebaliknya, walaupun amalnya sedikit, akan tetapi akhlaknya mulia maka hal itu lebih bermanfaat baginya.

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Tidak akan masuk surga, orang yang mana tetangganya tidak aman dari bahayanya.” (HR. Muslim)

Maka seseorang harus benar-benar memperhatikan sekitarnya. Jangan sampai perbuatannya membuat tidak nyaman tetangganya, walaupun hanya dengan tetesan air jemuran dari baju yang ia jemur. Begitulah islam sangat menjaga hak-hak sesamanya.

Fadhilah-Fadhilah Akhlak Mulia

  1. Akhlak mulia bisa menjadi sebab dekatnya seseorang dengan para nabi dan orang-orang shalih dihari kiamat nanti, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda,

 إنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقً

“Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan yang tempat duduknya lebih dekat kepadaku pada hari kiamat ialah orang yang akhlaknya paling bagus.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani)

  • Akhlak mulia merupakan timbangan amal yang paling berat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda,

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيء

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin kelak pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah amatlah murka terhadap seorang yang keji lagi jahat.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani)

  • Akhlak mulia bisa menjadi sebab masuknya seorang hamba ke dalam surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dari hadis Abu Hurairah Radhiyallaahu Ta’ala ‘anhu beliau berkata,

 سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, maka beliau pun menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani)

  • Dengan akhlak mulia seseorang dapat menyamai kedudukan orang yang berpuasa dan shalat malam. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ الْخُلُقِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

 “Seseorang dengan akhlak baiknya bisa mendapatkan derajat yang sama dengan orang yang berpuasa dan melaksanakan (qiyamullail) pada malamnya.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syuaib Al Arnauth)

 Cara Untuk Memperbaiki Akhlak

  1. Instrospeksi diri, selalu melihat dan menilai amal yang sudah dilakukan, benar atau salah. Jika salah maka berusaha untuk memperbaiki dan tidak mengulanginya.
  2. Selalu meneliti akibat dari akhlak yang buruk mulai dari penyesalan yang akan terjadi, kerugian serta kerusakan dll.
  3. Selalu berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rasulullah berdoa pada doa iftitahnya,

اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَقِنِي سَيِّئَ الْأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الْأَخْلَاقِ لَا يَقِي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, tunjukkan saya kepada perbuatan yang terbaik dan kepada akhlak yang terbaik, karena tidak ada yang bisa menunjukkan kepada yang terbaik kecuali Engkau. Jagalah aku dari perbuatan jelek dan akhlak yang jelek, karena tidak ada yang bisa menjagaku dari kejelekan kecuali Engkau.” (HR. Nasai, dishahihkan oleh Al Albani)

Baca juga: Pilihlah Temanmu, Sebelum Anda Menyesal

  • Selalu bersabar memperhatikan dan mempertahankan sifat-sifat yang menjadi dasar daripada akhlak mulia, diantaranya; menahan amarah dan berbuat buruk, toleransi, pelan-pelan dan tidak tergesa-gesa dalam menghadapai sesuatu, melawan keburukan dengan berbuat baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.” (QS. Al-Baqarah : 45)

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.” (QS. Fushilat : 34)

  • Membiasakan wajah berseri, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda,

 وَلَا تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنْ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ الْمَعْرُوفِ

“Janganlah engkau remehkan perkara ma ‘ruf, berbicaralah kepada saudaramu dengan wajah yang penuh senyum dan berseri, sebab itu bagian dari perkara yang ma’ruf.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Albani)

  • Bersahabat dengan orang-orang shalih. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu akan mengikuti agama temannya, karenanya hendaklah salah seorang diantara kalian mencermati kepada siapa ia berteman.” (HR. Tirmidzi, beliau berkata, “Hadits ini hasan gharib”)

Wallaahu a’lam.

Disadur dari kitab Akhlak Al Usroh Al Muslimah, karya Ahmad Abdul Muta’al hal. 12-25.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top