Akibat Durhaka Kepada Orang Tua

 Oleh: Ahmad Yasin

    Orang tua adalah orang yang sangat mulia, rela berkorban jiwa raga untuk kebaikan anak-anaknya. Namun tak sedikit dari mereka yang kebaikannya dibalas dengan air tuba, kadang kala anak tidak mau mengerti keadaan orang tua. Sedih rasanya jika ada anak durhaka kepada orang tuanya. Padahal durhaka kepada orang tua merupakan dosa besar. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah ditanya oleh sahabat tentang dosa besar, lalu beliau bersabda, 

الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ، وَقَتْلُ النَّفْسِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ

    “Menyekutukan Allah, mendurhakai orang tua, menghilangkan nyawa dan memberikan persaksian palsu.” (HR. Bukhari)

    Syaikh Musthofa Al Bugho memaknai dosa besar adalah setiap perbuatan buruk yang dilarang oleh syariat dan merupakan perkara yang besar (mendapat ancaman siksa yang pedih). Beliau menyerbutkan, “Makna عقوق (‘uquq) adalah setiap perbuatan yang sangat menyakiti orang tua. Kata عقوق merupakan bentuk jamak dari العق (al ‘aqqu) bermakna putus, sedangkan pelakunya adalah yang memutus tali ikatan diantara kedua sudut.” (Lihat catatan kaki kitab Shahih Bukhari pentahqiq Muhammad Zuhair bin Nashir An Nashir, juz 3 hal 172, Dar Thouq An Najaah, tahun 1422 H).

    Kata عقوق (‘uquq) didalam bahasa indonesia bermakna durhaka, maka dari keterangan di atas memberikan kesimpulan bahwa durhaka adalah memutus suatu hubungan dengan orang tua. Apa yang diputus? Bisa kasih sayang, cinta, bakti dan semua perbuatan baik yang harus anak lakukan untuk orang tuanya. 

    Durhaka bisa terjadi dengan lisan maupun perbuatan. Durhaka melalui lisan banyak sekali contohnya seperti, menghina, mencela dsb. Tapi perlu diketahui bersama bahwa ada perbuatan durhaka dengan lisan, namun orang tidak merasa melakukannya, karena pada waktu itu ia tidak sadar bahwa ia telah mendurhakai orang tuanya dengan lisannya. Coba simak hadis Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

مِنَ الكَبَائِرِ أَنْ يَشْتُمَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَهَلْ يَشْتُمُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ، يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَشْتُمُ أَبَاهُ وَيَشْتُمُ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ   

    “’Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela kedua orang tuanya,’ para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Apakah mungkin seseorang mencela kedua orang tuanya?’ beliau bersabda, ‘Iya (mungkin), ia mencela bapak orang lain, kemudian orang itu mencela bapak dan ibunya serta mengolok-oloknya.’”(HR. Tirmidzi, beliau berkata, “Ini hadis shahih”)

    Seseorang harus selalu meneliti kata perkata yang keluar dari lisannya. Jangan sampai ia durhaka kepada orang tuanya tanpa ia sadari. Seorang anak wajib memuliakan orang tuanya dalam keadaan apapun, walaupun berbeda keyakinan (agama). Dalam kasus ini seseorang tidak dibolehkan untuk tidak berbakti kepada keduanya, karena ia tetap diperintah berbakti kepada keduanya (walaupun keduanya kafir) dengan memperhatikan batasan-batasan yang ada. Batasan yang dimaksud adalah tidak mengikuti agama mereka walaupun hanya satu langkah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ   

    “Allah tidak menghalangi kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah : 8).

    Dalam ayat ini secara jelas bahwa seseorang diperbolehkan untuk berbuat baik kepada non muslim secara umum, termasuk orang tua. Dan juga berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَتْ قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ وَهِيَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُ أُمِّي قَالَ نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ

Dari Asma’ binti Abi Bakr radhiallahu’anhuma berkata, “Ibuku menemuiku saat itu dia masih musyrik pada zaman Rasulullah ﷺlalu aku meminta pendapat kepada Rasulullah ﷺ. Aku katakan, ‘Ibuku sangat ingin (aku berbuat baik padanya), apakah aku harus menjalin hubungan dengan ibuku?’ Beliau menjawab, ‘Ya, sambunglah silaturrahim dengan ibumu.’” (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar menukilkan perkataan Al Khattabi, “Dan bisa diambil kesimpulan dari hadis ini kewajiban memberi nafkah untuk bapak dan ibu yang keduanya merupakan kafir, walaupun anaknya seorang muslim.” (Fathul Bari, jilid 6 hal. 431)

Hukuman bagi orang yang durhaka kepada orang tua

Salah satu hukuman yang akan Allah berikan kepada orang yang mendurhakai orang tuanya diharamkannnya surga baginya, berdasarkan hadis Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنَّانٌ وَلَا عَاقٌّ وَالِدَيْهِ وَلَا مُدْمِنُ خَمْرٍ

“Tidak akan masuk surga seorang Mannan (orang yang mengungkit pemberian), orang yang durhaka kepada orang tuanya, dan pecandu khamer.” (HR. Ahmad)

Hukuman orang yang durhaka kepada orang tuanya akan Allah segerakan di dunia, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada suatu dosa yang lebih layak dipercepat hukumannya di dunia oleh Allah kepada pelakunya di samping (azab) yang disimpan baginya di akhirat daripada perbuatan zalim dan memutus silaturrahim (memutus silaturahim orang tua).” (HR. Tirmidzi, beliau berkata, “Hadis hasan shahih).

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan kita dari perbuatan durhaka kepada orang tua dalam keadaan sadar maupun tidak sadar, dan semoga kita menjadi anak yang selalu berbakti serta menuntun mereka ke jalan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga bersama-sama masuk ke surgaNya. Aamiin.

Rujukan:

  1. Al Quran
  2. Shahih Bukhari, dengan ta’liq Syaikh Musthofa Al Bugho
  3. Sunan Tirmidzi
  4. Musnad Ahmad
  5. Fathul Bari syarah Shohih Bukhari Ibnu Hajar Al Asqalani
  6. I’dad Hadis Dr. Subhi Abdu Al Fatah Sayyid Rabi’ bab Birr Al Walidain hal. 160-161, Al Azhar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *