Amalan yang Lebih Baik Dari Jihad fi Sabilillaah

Oleh: Ahmad Yasin

Agama islam sangat memuliakan orang tua.  Bahkan di dalam Al Quran Allah selalu menyebutkan berbakti kepada orang tua setelah menyebutkan larangan berbuat syirik kepada Allah. Hal itu menandakan bahwa ketaqwaan berada pada bakti kepada orang tua setelah ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berbakti kepada orang tua juga memiliki keutamaan melebihi jihad fi sabilillaah. Dalam sebuah hadis disebutkan,

أَبَو عَمْرٍو الشَّيْبَانِيَّ يَقُولُ حَدَّثَنَا صَاحِبُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ:سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: §أَيُّ العَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: «الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا» قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «بِرُّ الوَالِدَيْنِ» قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ:«الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ» قَالَ: حَدَّثَنِي بِهِنَّ، وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي

Abu ‘Amru Asy Syaibani berkata, “Pemilik rumah ini menceritakan kepada kami -seraya menunjuk rumah ‘Abdullah – ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Nabi ﷺ, “Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” ‘Abdullah bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Kemudian berbakti kepada kedua orangtua.” ‘Abdullah bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillaah.” ‘Abdullah berkata, “Beliau sampaikan semua itu, sekiranya aku minta tambah, niscaya beliau akan menambahkannya untukku.” (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar Al Asqalani menuqil perkataan Ibnu At Tiin bahwa alasan Rasulullaah Shallallaahu alaihi wa Sallam mendahulukan berbakti kepada orang tua, karena berbakti kepada orang tua bermakna memberi manfaat kepada orang lain, sebagai bentuk balas budi bagi  mereka dan juga menunjukkan adanya amalan yang lebih utama dari jihad fi sabilillaah. (Fathul Bari Jilid 13 hal. 414)

Ibnu Hajar juga menambahkan bahwa, tidak boleh berjihad kecuali dengan adanya izin dari keduanya. Imam Bukhari menyebutkan,

عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَأْذَنَهُ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ أَحَيٌّ وَالِدَاكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ

‘Abdullah bin ‘Amru radhiallahu’anhuma berkata, “Datang seorang laki-laki kepada Nabi ﷺ lalu meminta izin untuk ikut berjihad. Maka beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Laki-laki itu menjawab, “Iya”. Maka beliau berkata, “Kepada keduanyalah kamu berjihad (berbakti) “.

Ibnu Hajar berkata, “Maknanya jika engkau masih memiliki kedua orang tua, maka maksimalkan usahamu untuk berbakti dan berbuat baik pada keduanya, karena hal itu menggantikan posisimu memerangi musuh.” (Fathul Bari jilid 13 hal. 417)

Perkataan Ibnu Hajar memberikan makna bahwa kedudukan berbakti kepada orang tua menyamai jihad fi sabilillaah, bahkan hal itu lebih baik daripada jihad fi sabilillaah menurut perkataan Ibnu At Tiin.

Keutamaan Ibu

Ternyata seorang Ibu memiliki kedudukan khusus dalam islam, terdapat hadis dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam, dan berkata , “Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” beliau menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” beliau menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” beliau menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” dia menjawab, “Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari)

Ibnu Bathal berkata, “Seorang ibu harus mendapatkan tiga kali lipat bakti anak daripada bapaknya, hal itu disebabkan ibu telah bersusah payah mengandung, menyusui dan juga bersama-sama suaminya mendidik anaknya. (Fathul Bari jilid 13 hal. 415)

Begitulah perjuangan seorang ibu, begitu berat dan penuh dengan cobaan. Maka kewajiban berbakti pertama kali adalah kepada ibu kemudian bapak. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mejadikan kita semua sebagai anak yang berbakti kepada keduanya.

Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *