Antara Fitnah Kesenangan dan Fitnah Kesulitan

Oleh : Umar Zaki Giffari

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ ابْتُلِينَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالضَّرَّاءِ فَصَبَرْنَا ثُمَّ ابْتُلِينَا بِالسَّرَّاءِ بَعْدَهُ فَلَمْ نَصْبِرْ

“Dari Sahabat Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu beliau berkata “Ketika bersama Rasulullah, kami di uji dengan kesusahan dan kami bersabar, kemudian setelah beliau meninggal kami diuji dengan kesenangan dan kami tidak bersabar.”[1[

Sahabat yang mulia, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu salah satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk syurga oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Beliau adalah satu dari delapan orang pertama yang memeluk Islam. Sebelum memeluk Islam, nama aslinya Abdul Ka’bah atau Abu ‘Amr dalam riwayat lain. Kemudian, setelah bergabung dengan kaum Muslimin, Rasulullah menggantinya dengan Abdurrahman. Sejarah mengenalnya sebagai sahabat Nabi paling kaya raya sekaligus dermawan.

Suatu ketika Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam menyeru kepada umat Islam untuk berinfak di jalan Allah, Abdurrahman bin ‘Auf pun tanpa pikir panjang langsung menyumbangkan separuh hartanya. Abdurrahman bin ‘Auf menyumbangkan setengah hartanya sebanyak 40.000 dinar, 500 kuda perang, serta 500 hewan tunggangan di jalan Allah.[2]

Beliau pun pernah mengeluarkan 200 uqiyah emas (1 uqiyah setara 31,7475 gram) demi memenuhi kebutuhan logistik selama Perang Tabuk.

Beliau pun pernah memberikan santunan kepada veteran Perang Badar yang jumlanya mencapai seratus orang, masing-masing mendapatkan santunan 400 dinar. Abdurrahman memang sangat pandai dalam berbisnis. Semua kekayaannya pun merupakan hasil perdagangan.

Bahkan setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meninggal, beliau menjual kebunnya seharga 400.000 dan membagikannya kepada Ummahatul Mukmininin (istri-istri Rosulullah)[3]

Sahabat Mulia ini wafat di Madinah pada tahun 32 Hijriyah, ketika itu usianya 75 tahun dan dimakamkan di Baqi’.

Subhanallah, Meskipun beliau radhiyallahu anhu diliputi kekayaan yang melimpah ruah, beliau tetap berhati-hati dengan fitnah kemewahan tersebut dan memilih untuk banyak menginfakkannya di jalan Allah subhanahu wata’ala dan berbuat baik dengannya.

Hakikat Dunia

Kehidupan dunia adalah tempat ujian dan penuh dengan cobaan. Tidaklah seorang hamba hidup di dunia kecuali dia akan diuji dan nantinya akan kembali kepada Allah Ta’ala. Allah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan“ (QS. Al-Anbiya’ :35)
 

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan (makna ayat di atas adalah): “Kami akan menguji kalian; terkadang dengan musibah, dan terkadang pula dengan kenikmatan, maka kami lihat siapa di antara kalian yang bersabar (dengan musibah itu)  dan bersyukur (dengan kenikmatan itu)“.[4]

Sangat jelas dari ayat di atas bahwa cobaan bukan hanya sekedar malapetaka, musibah, kehilangan,  dan kekurangan, bahkan kesenangan, kemewahan, kenikmatan dan kekayaan juga merupakan cobaan. Bahkan fitnah kesenangan lebih besar ujiannya daripada fitnah kesulitan,  karena kesenangan itu yang paling berpotensi untuk menjauhkan seorang hamba dari Allah subhanahu wata’ala, hingga dia akan lupa kepada Robb-nya dan hakikat hidupnya. Boleh saja ujian kesulitan bisa di hadapi oleh orang baik maupun orang jahat tetapi ujian kesenangan tidak dapat dihadapi kecuali oleh mereka yang jujur dalam keimanannya. Allah menurunkan ujian kepada hambaNya, dengan ujian itu Allah tahu diantara hambanya yang benar imannya dan hanya dusta belaka.

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖفَلَيَعْلَمَنَّ الله الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” (QS. Al-Ankabut: 3)

Makna Istidroj

Dengan mendapatkan limpahan harta dan kekayaan seperti itu bukan berarti itu adalah tanda kemuliaan seseorang di sisi Allah, bahkan bisa jadi itu adalah istidroj. Istidroj adalah suatu jebakan, ketika seseorang diberikan kelapangan rezeki, dengan itu dia akan terus menerus bermaksiat kepada Allah.

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُون

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am: 44)

Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan, “Ketika mereka meninggalkan peringatan yang diberikan pada mereka, tidak mau mengindahkan peringatan tersebut, Allah buka pada mereka segala pintu nikmat sebagai bentuk istidroj kepada mereka. Sampai mereka berbangga akan hal itu dan bersombong dengannya. Kemudian kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam dari segala kebaikan.”[5]

Memperbanyak harta dan bermegah-megahan dengannya, diantara hal yang paling dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terjadi pada ummatnya. Rasulullah bersabda :

مَا أَخْشَى عَلَيْكُمُ الْفَقْرَ وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمُ التَّكَاثُر

“Yang aku khawatirkan pada kalian bukanlah kemiskinan, namun yang kukhawatirkan adalah saling berbangganya kalian (dengan memperbanyak harta)” (HR. Ahmad 2)[6]

Allah Ta’ala berfirman :

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِر (2)

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu(1) sampai kamu masuk ke dalam kubur(2) (QS. At-Takatsur: 1-2)

Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan : “Berbangga-bangga dengan harta, dan anak-anak telah melalaikan kalian dari ketaatan kepada Allah dan kematian sampai kalian masuk ke dalam kubur dalam keadaan menyesal. [7]

Kecenderungan inilah yang membuat Allah murka dan marah karena manusia sering lupa bahwa ada hak Allah yang harus ditunaikan dalam sikapnya terhadap harta dan nikmat yang diperolehnya. Padahal manusia tidak dibenarkan bersikap rakus, tamak, sombong dan berlebih-lebihan dengan harta. Harta merupakan karunia Allah yang seharusnya disyukuri dengan cara mengusahakan harta itu dari jalan yang halal dan membelanjakannya pada jalan yang juga diridhoi Allah. Wallahu A’lam

[1] Sunan Al-Tirmidzi No 2464

[2] Siyarul A’lam wan Nubala’ hal. 68/1

[3] As-Shahihul Musnad min Fadha’il As-Shahabah/Syekh Musthofa Al-Adway hal. 172

[4] Tafsir Ibnu Katsir hal. 421/3

[5] Tafsir Al-Jalalain hal. 132

[6] Al-Jami’ As-shagir/Imam As-Suyuthi no. 7782

[7] Tafsir Al-Jalalain hal. 600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *