Bab Zakat

Oleh : Mukhlis Ibnu Katsir

  • Definisi zakat.

Kata zakat dalam Bahasa arab mempunyai beberapa makna, yaitu:

1. Numuw (perkembangan).

زكا الزرع

“Tumbuhan itu sudah berkembang.”

2. Barakah (berkah).

زكت النفقة

“Infaknya berkah.”

3. Ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan).

فلان زاك  

“Fulan memiliki banyak kebaikan.”

4. Tathir (mensucikan).

Seperti firman Allah ﷻ:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan dirinya.” (QS. As-Syams:9).

5. Madh (pujian).

Seperti firman Allah ﷻ:

 فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ٓ

“Janganlah memuji diri kalian sendiri.” (QS. An-Najm:32).

Adapun menurut istilah, zakat adalah suatu nama dari takaran tertentu yang diambil dari harta atau badan tertentu dengan cara tertentu dan diberikan kepada golongan tertentu.

Dan harta tersebut dinamakan dengan zakat karena mengandung makna dalam kata zakat itu sendiri, yaitu ia akan berkembang (numuw) dan berkah (barakah) saat dikeluarkan dengan perantara doa dari penerima zakat, mensucikan dirinya (tathir) dari dosa dan mendapat pujian (madh) karena Allah ﷻ mengakui keimanannya.

  •  Hukum zakat.

Zakat hukumnya wajib, berdasarkan firman Allah ﷻ:

وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ

“Dan tunaikanlah zakat.” (QS. Al-Baqarah:43).

Di dalam hadis juga disebutkan tentang kewajiban zakat bagi kaum muslimin.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ “. صحيح البخاري.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Agama Islam dibangun diatas lima perkara; persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa ramadhan.” (HR. Bukhari).

Pada hadis ini kita dapat mengambil hukum bahwa zakat termasuk rukun islam, dan orang yang mengingkari atas kewajibannya maka dihukumi kafir, meskipun ia mengeluarkan zakat; karena dia telah mengingkari perkara yang sudah jelas hukumnya dalam agama islam.

Orang yang enggan untuk berzakat boleh diperangi dan diambil hartanya secara paksa sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, namun hukum ini hanya berlaku untuk zakat yang mana para ulama telah bersepakat atas kewajibannya. Adapun zakat yang masih diperselisihkan, seperti zakat rikaz (barang tambang) atau harta milik orang yang belum mukallaf[1] maka tidak dihukumi kafir; karena adanya perbedaan pada harta tersebut.

  • Kapan diwajibkan zakat?

Para ulama bersepakat bahwa semua jenis zakat diwajibkan pada bulan Sya’ban tahun 2 H, namun mereka berbeda pendapat pada zakat fitrah; sebagian mereka berpendapat pada bulan Sya’ban dan sebagian lainnya berpendapat pada bulan Ramadhan.

  • Harta yang wajib dizakati.

Zakat diwajibkan pada lima macam harta:

  1. Na’am (binatang ternak).
  2. Ma’syarat (makanan pokok) yaitu sesuatu yang wajib dizakati 1/10 atau setengahnya (1/20).
  3. Naqd (mata uang).
  4. Tijarah (perdagangan).
  5. Fitrah.

Dengan demikian kita dapat menjabarkannya menjadi delapan jenis harta yaitu; onta, sapi, kambing, tumbuhan, kurma, anggur, emas dan perak. Oleh karenanya zakat ini diperuntukkan untuk delapan golongan yang tercantum dalam Al-Qur’an. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلْفُقَرَآءِ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْعَٰمِلِينَ عَلَيْهَا وَٱلْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَٱلْغَٰرِمِينَ وَفِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

 “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah:60).

Kita akan membahasnya satu persatu pada pembahasan selanjutnya Insya Allah.

Nantikan di serial berikutnya.

________

[1] Mukallaf adalah orang yang berakal dan sudah dewasa.

Referensi:

Diktat kuliah Syari’ah Islamiyah Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Ditulis oleh kumpulan ulama dalam bidang Fiqih.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *