Bahaya Syirik

Oleh: Mukhlis Ibnu Katsir.

Syirik

Syirik artinya menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.

Syirik hukumnya Haram, bahkan Allah tidak akan mengampuni dosa Syirik sampai dia bertobat dari perbuatan tersebut. Berbeda dengan dosa lainya, maka masih ada kesempatan untuk diampuni oleh Allah.

Allah berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa:48).

Allah juga mengabarkan bahwa pelaku Syirik akan kekal di dalam api Neraka.

Allah berfirman,

إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al-Maidah:72).

Tatkala seseorang mengetahui akan bahayanya dosa ini, maka hendaknya dia memberikan perhatian lebih padanya. Jangan sampai Tauhid yang sudah ada dalam hati rusak disebabkan perbuatan Syirik; karena itu merupakan sebab terhapusnya amalan kebaikan dan tentunya ini awal kehancuran seorang muslim.

Allah berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar:65).

Macam-macam Syirik.

Syirik terbagi menjadi dua bagian:

  1. Syirik Akbar (besar).
    Hukumnya mengeluarkan pelaku dari agama Islam, menghapus amalan kebaikan yang sudah dilakukan, dan kekal di dalam api Neraka jika mati dalam keadaan tidak bertaubat.
  2. Syirik Asghar (kecil).
    Hukumnya tidak mengeluarkan pelaku dari Islam, namun menghapus amalan yang disertai Syirik Asghar dan di akhirat kelak berada dibawah kehendak Allah, sehingga masih ada kesempatan untuk diampuni oleh Allah.

Perbuatan Syirik Asghar sangat banyak, diantaranya adalah Riya’ (pamer), Sum’ah dan bersumpah atas nama selain Allah.

Perbuatan Syirik Besar.

Perbuatan Syirik Besar bermula dari dua pondasi:

A. Meyakini bahwa selain Allah dapat memberikan manfaat dan madharat.

Perbuatan Syirik yang berasal dari keyakinan ini sangat banyak, diantaranya:

  1. Sihir.

Seseorang tidak melakukan perbuatan sihir kecuali dalam hatinya meyakini bahwa selain Allah bisa memberikan madharat, makanya mereka menggunakan sihir guna melukai orang lain.

Perbuatan sihir tidak terlepas dari bantuan setan. Oleh karenanya seorang penyihir harus melakukan perbuatan Syirik terlebih dahulu, yaitu dengan mendekatkan dirinya kepada Iblis dan bala tentaranya.

Sebagaimana perkataan Harut dan Marut kepada orang yang minta belajar ilmu sihir,

إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

“Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” (QS. Al-Baqarah:102).

  1. Perdukunan.

Perdukunan identik dengan hal-hal yang ghaib, para dukun biasanya mengaku mengetahui hal-hal yang akan datang dengan bantuan dari para jin yang telah mencuri perbincangan malaikat di langit.

Dan Hukumnya Syirik Akbar; karena telah mengaku ilmu ghaib, sedangkan yang mengetahui ilmu ghaib hanyalah Allah SWT.

Allah berfirman,

قُل لَّا یَعۡلَمُ مَن فِی ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَیۡبَ إِلَّا ٱللَّهُۚ وَمَا یَشۡعُرُونَ أَیَّانَ یُبۡعَثُونَ

“Katakanlah, “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (QS. An-Naml:65)

Apa hukum orang mendatangi dukun?

Ada dua keadaan:

  1. Jika tujuannya hanya untuk bertanya sesuatu tanpa mempercayai perkataan Dukun, maka ibadah shalat yang dia lakukan tidak diterima disisi Allah selama empat puluh hari.

Rasulullah bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa mendatangi dukun, lalu dia bertanya sesuatu kepadanya maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari.”

  1. Jika bertujuan untuk bertanya dan juga mempercayai apa yang dikatakan oleh dukun tersebut, maka dia telah melakukan kekufuran dan tidak diterima baginya ibadah sholat selama empat puluh hari.

Rasulullah bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم

“Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang rama, lalu dia mempercayai perkataannya, maka sungguh dia telah mengkufuri apa yang diturunkan kepada Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam.”

Perlu diketahui, pada hadis ini yang dimaksud adalah Kufur Asghar (kecil) yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama Islam.

Kenapa? Karena dalam mempercayai dukun ada syubhat, yaitu berita tersebut berasal dari langit yang dicuri oleh Jin kemudian disampaikan ke para Dukun. Dan Syubhat termasuk penghalang dari Kufur Akbar.

  1. Tathoyur.

Tathoyur berasal dari kata Thoir yang artinya burung. Orang berthathayyur artinya orang yang menggantungkan nasib baik atau buruk kepada seeokor burung, atau hewan lainnya.

Kebiasaan orang Jahiliah dahulu ketika hendak Safar, mereka menerbangkan burung terlebih dahulu. Jika burung tersebut terbang ke arah kanan maka pertanda baik, namun jika terbang ke arah kiri maka pertanda buruk sehingga mereka akan menggagalkan safarnya.

Hukum Tathoyur.

Ada dua keadaan:
a. Jika seseorang meyakini bahwa burung tersebut memiliki pengaruh, maka Syirik Akbar.
b. Jika seseorang meyakini bahwa Allah yang memiliki pengaruh, sedangkan burung tersebut hanya sebagai sebab saja maka dosa besar.

Berdasarkan sabda Rasulullah,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ وَلا تُطُيِّرَ لَهُ

“Bukan termasuk dari kami orang yang Tathoyur, dan orang yang di Tathoyur.”

Kalimat “bukan termasuk dari kami” menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah dosa besar.

  1. Menyembelih hewan untuk mendekatkan diri kepada selain Allah.

Menyembelih hewan temasuk amalan ibadah yang seharusnya di persembahkan hanya untuk Allah, sehingga memalingkan kepada selain-Nya adalah syirik besar dan pelakunya berhak mendapatkan laknat Allah.

Rasulullah bersabda,

لعَن اللَّه من ذَبَحَ لغَيرِ اللّٰه

“Semoga Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” (HR. Muslim).

Namun jika menyembelih hewan untuk memuliakan tamu atau makan-makan, maka hukumnya mubah (boleh).

  1. Nazar dengan niat mendekatkan diri kepada selain Allah.

Seperti perkataan seseorang, “Aku berjanji atas nama Husain untuk melakukan begini dan begitu.”

Hukumnya Syirik besar; karena nazar termasuk ibadah yang tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah.

  1. Berdoa kepada selain Allah.

Berdoa termasuk bentuk ibadah, sehingga tidak boleh untuk dipersembahkan kepada selain Allah.

Allah berfirman,

فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدࣰا

“Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jin:18).

  1. Perbintangan.

Perbintangan disini maksudnya menjadikan bintang sebagai dalil terhadap kejadian di masa depan.

Hukumnya Haram, bahkan bisa sampai Syirik Besar jika dia meyakini bahwasanya bintang tersebut memiliki pengaruh atas peristiwa yang terjadi di muka bumi.

Oleh karenanya, belajar ilmu perbintangan hukumnya Haram.

Rasulullah ﷺ bersabda,,

 مَنِ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ، زَادَ ما زَاد

“Barangsiapa yang belajar ilmu perbintangan maka dia telah mengambil cabang dari ilmu sihir, setiap bertambah ilmu perbintangan tersebut maka bertambah pula dosa dan ilmu sihirnya.” (HR. Abu Dawud).

Namun terkadang menggunakan ilmu perbintangan diperbolehkan, yaitu tatkala digunakan untuk mengetahui arah kiblat, waktu dan perjalanan.

Allah berfirman,

وَعَلَٰمَٰتٍ ۚ وَبِٱلنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ

“Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl:16).

  1. Jimat.

Jimat biasanyan digantungkan di leher, berupa tulisan mantra, tulang atau semisalnya. Hal tersebut bertujuan untuk meraih manfaat atau menangkal madharat.

Hukumnya ada dua keadaan:
Jika meyakini bahwa jimat tersebut adalah sebab untuk meraih manfaat atau menolak madharat, maka hukumnya Syirik Kecil.

Adapun jika meyakini bahwa jimat tersebut adalah benda yang bisa memberikan manfaat atau menolak madharat dengan dirinya, maka hukumnya Syirik Besar.

Rasulullah bersabda,

مَنْ علَّق تَمِيمةً فقد أَشْرَكَ

“Barangsiapa menggantungkan Jimat, maka dia telah Musyrik (menyekutukan Allah).” (HR. Ahmad).

B. Ghuluw (berlebihan) terhadap makhluk Allah.

Awal mula terjadi kesyirikan di muka bumi disebabkan oleh sikap Ghuluw kepada orang-orang Shalih, yaitu pada zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam. Bermula dengan membuat patung orang-orang Shalih yang sudah meninggal dunia agar teringat mereka, sehingga memotivasi untuk berbuat kebaikan seperti apa yang mereka lakukan. Dengan berjalannya waktu, akhirnya patung tersebut dijadikan sesembahan selain Allah.

Diantara perbuatan Syirik yang bermula dari sikap Ghuluw adalah Tabarruk dan Tawassul.

  1. Tabarruk.

Kata Tabarruk artinya meminta berkah (kebaikan).

Tabarruk ada dua macam:

a. Tabarruk Masyru’ (disayriatkan).
Diantara Tabarruk yang diperintahkan dalam adalah:

  1. Al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah kitab yang diberkahi oleh Allah, sehingga bisa memberikan kebaikan kepada yang lain.

Allah berfirman,

وَهَـٰذَا كِتَـٰبٌ أَنزَلۡنَـٰهُ مُبَارَكࣱ

“Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi.” (QS. Al-An’am:92).

Dan cara Tabarruk dengan Al-Qur’an yaitu dengan membaca, merenungkan ayatnya dan mengamalkan isi kandungannya.

  1. Tempat.

Tempat disini maksudnya Masjid Al-Haram, Masjid Nabwai dan Masjid Al-Aqsha.

Cara Tabarruk dengan tiga masjid tersebut yaitu dengan memperbanyak Ibadah di dalamnya.

Shalat di masjid tersebut akan dilipatgandakan pahalanya, sebagaimana tercantum dalam sebuah hadits,

Dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 kali shalat di masjid lain kecuali Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.”

Adapun dalil bahwa Masjid Al-Aqsha diberkahi yaitu firman Allah,

سُبۡحَـٰنَ ٱلَّذِیۤ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَیۡلࣰا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِی بَـٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِیَهُۥ مِنۡ ءَایَـٰتِنَاۤۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡبَصِیرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Isra’:1)

  1. Waktu.
    Allah telah mengutamakan sebagain waktu dari sebagian yang lain, sehingga amalan kebaikan yang dilakukan pada waktu tersebut lebih utama dari pada waktu yang lain. Seperti halnya dengan bulan Ramadhan, hari Asyura dan sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah.

Rasulullah bersabda,

ما من أيَّامٍ العملُ الصَّالحُ فيهنَّ أحبُّ إلى اللهِ من هذه الأيَّامِ العشرِ . قالوا : يا رسولَ اللهِ ولا الجهادُ في سبيلِ اللهِ ؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : ولا الجهادُ في سبيلِ اللهِ إلَّا رجلًا خرج بنفسِه ومالِه فلم يرجِعْ من ذلك بشيءٍ

“Tidak ada hari yang mana amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari sepuluh ini (10 awal Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya, “Apakah lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah?” Beliau bersabda, “Iya. Lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwa raganya kemudian dia tidak pernah kembali lagi.” (HR. Abu Dawud).

  1. Orang Shalih.
    Orang Shalih mencangkup para Nabi, Rasul, Sahabat dan Ulama.

Keberkahan pada orang Shalih ada dua, yaitu Keberkahan Dzat dan keberkahan amal.

  1. Keberkahan Dzat.
    Yaitu barakah yang Allah jadikan dalam diri Nabi dan Rasul Nya. Barangsiapa mengusap tubuh mereka, atau mengambil rambut mereka maka akan mendapatkan Barakah, dan ini diperbolehkan; karena para sahabat dahulu bertabarruk dengan keringat nya Rasulullah, rambutnya, juga air wudhunya. Namun ini khusus untuk para Nabi dan Rasul.
  2. Keberkahan Amal.
    Yaitu Keberkahan yang Allah berikan kepada orang beriman. Dan ini kembali kepada keimanan seseorang, semakin tinggi iman seseorang maka semakin banyak pula keberkahan padanya.

Namun cara mengambil berkah dari mereka bukan dengan Dzatnya seperti mengambil berkah kepada para Nabi dan Rasul.

Akan tetapi dengan amalannya. Jika tabbaruk dengan orang Shalih maka caranya dengan minta doa. Jika Tabbaruk dengan Ulama maka caranya dengan mengambil ilmu dari mereka.

Mengapa tidak boleh Tabbaruk dengan Dzat mereka?

Karena para sahabat tidak melakukannya, padahal ditengah mereka ada orang-orang terbaik pada umat Islam, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiyallahu’anhum.

b. Tabarruk Ghairu Masyru’ (tidak disyariatkan).

Seperti Tabarruk dengan pohon, bebatuan dan kuburan. Dan ini hukumnya Syirik Besar, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Waqid Al-Laitsi,

خرَجنا معَ رسولِ اللَّهِ إلى حُنينٍ، ونَحنُ حَديثو عَهْدٍ بِكُفرٍ، وَكانوا أسلَموا يومَ الفتحِ قالَ: فمَرَرنا بشجَرةٍ فقُلنا: يا رسولَ اللَّهِ اجعَلْ لنا ذاتَ أنواطٍ كما لَهُم ذاتُ أنواطٍ، وَكانَ للكفَّارِ سِدرةٌ يعكُفونَ حولَها ويعلِّقونَ بِها أسلحتَهُم، يدعونَها ذاتَ أنواطٍ

“Suatu saat kami keluar bersama Rasulullah menuju Hunain, sedangkan kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran (masuk Islam), mereka masuk Islam pada hari Fath. Kami melewati sebuah pohon, kami berkata: “ya Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu anwath sebagaimana mereka memilikinya”. Disaat itu orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon Bidara yang mereka selalu duduk dan menggantungkan senjata-senjata perang mereka pada pohon tersebut, mereka menamainya dengan Dzat. Setelah kami berkata demikian, Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

اللهُ أَكْبَرُ إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيْلَ لِمُوْسَى- اجْعَل لَّنَا إِلَـٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ  لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

“Allahu Akbar, itulah tradisi (orang-orang sebelum kalian) demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian benar-benar telah mengatakan suatu perkataan seperti yang dikatakan oleh Bani Israel kepada Musa: “buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan, Musa menjawab: sungguh kalian adalah kaum yang tidak mengerti (faham)” kalian pasti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian.”

  1. Tawassul.

Tawassul artinya menjadikan sesuatu sebagai perantara dia dengan Allah dalam berdoa.

Tawassul ada dua macam:

  1. Tawassul Masyru’ (disyariatkan).
    Tiga hal yang bisa dijadikan sebagai wasilah:

a. Nama dan Sifat Allah.
Seperti seseorang berkata, “Ya Allah, Engkau Dzat Maha pemberi rizki, berilah rizki kepada ku.”

Dan ini dibolehkan, bahkan diperintah oleh Allah.

Allah berfirman,

وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَاۤءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ

“Dan hanya milik Allah Asmaul Husna, maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama tersebut.” (QS. Al-A’raf:180).

b. Amalan Shalih.
Seperti seseorang berkata, “Ya Allah, dengan keimananku kepada-Mu maka berilah kemudahan pada setiap urusanku.”

Allah berfirman,

رَبَّنَاۤ ءَامَنَّا بِمَاۤ أَنزَلۡتَ وَٱتَّبَعۡنَا ٱلرَّسُولَ فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّـٰهِدِینَ

“Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)”. (QS. Al-Imran:53).

c. Meminta doa kepada orang Shalih.
Seperti seseorang berkata kepada orang shalih, “Wahai Fulan, tolong doakan aku agar cepat menikah.”

Dan ini di syariatkan juga, sebagaimana para sahabat dahulu meminta kepada Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam.

Diantaranya adalah ‘Ukasyah radhiyallahu ‘anhu tatkala Rasulullah mengabarkan bahwa diantara umat Islam ada yang masuk Surga tanpa adzab dan Hisab, beliau berkata,

ادْعُ اللّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ

“Mintalah kepada Allah agar menjadikan aku diantara mereka.”

  1. Tawassul Mamnu’ (terlarang).

Yaitu Tawassul dengan sesuatu yang belum ditetapkan oleh Syari’at.

Diantaranya adalah:

  1. Tawassul dengan kedudukan para Nabi dan orang Shalih.
    Seperti berkata, “Ya Allah, dengan kedudukan Nabi-Mu maka mudahkanlah rizkiku.”

Ini tidak diperbolehkan, hukumnya Haram dan termasuk perkara Bid’ah; karena cara seperti ini tidak ada dizaman Sahabat.

Dan sebenarnya kedudukan mereka disisi Allah hanya bermanfaat bagi mereka sendiri.

Allah berfirman,

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm:39).

  1. Tawassul dengan orang yang sudah Mati.
    Seperti orang berkata, “Wahai Husain, mohonlah kepada Allah agar memberikan rizki kepadaku.”

Perbuatan ini hukumnya Haram, bahkan termasuk dalam kategori Syirik Besar; karena didalamnya mengandung unsur doa.

  1. Tawassul dengan perbuatan ibadah disebelah kuburan, tanpa berdoa kepada Shahibul Kubur.

Seperti seseorang Shalat atau berdoa di sebelah kuburan, dan ibadah tersebut murni untuk Allah.

Perbuatan ini hukumnya Syirik Kecil yang bisa mengurangi kesempurnaan Tauhid; karena hal ini dapat menyebabkan seseorang terjatuh kepada Syirik Besar.

Sumber: Kitab Al-Kalimat As-Sadidah karya Syaikh Khalid Al-Juhani hafidzahullah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top