Cara Berbakti Kepada Orang Tua

Oleh: Ahmad Yasin

Berbakti kepada orang tua adalah salah satu jalan menuju surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

الوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الجَنَّةِ، فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ البَابَ أَوْ احْفَظْهُ

            “Orang tua ibarat pintu surga paling tengah, jika engkau mau, hilangkanlah ia atau jagalah ia baik-baik.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani)

            Al Qadhi Baidhawi berkata, “Berbakti kepada orang tua adalah pintu terbaik dan tertinggi untuk masuk surga. Maknanya, sarana terbaik untuk masuk dan mencapai derajat paling tinggi di surga adalah dengan berbakti kepada orang tua dan selalu berada di sampingnya. Ulama yang lain berkata, ‘Sesungguhnya surga memiliki banyak pintu, sebaik-baik pintu yang dimasuki adalah yang paling tengah, dan sebab untuk masuk pintu itu adalah dengan menjaga hak-haknya orang tua.’”[1]

Berbakti Dengan Perbuatan, Lisan, dan Hati

            Yang harus kita lakukan untuk berbakti kepada orang tua adalah dengan menjaga hak-hak mereka. Hak-hak orang tua yang harus kita lakukan hanya terbagi menjadi tiga bagian; pertama hak bakti kita kepada mereka melalui perbuatan, kedua melalui lisan, dan yang ketiga melalui hati.

Pertama, hak orang tua yang harus kita lakukan melalui perbuatan misalnya:

  1. Meringankan pekerjaan mereka.
  2. Menyambung silaturahim dengan mereka.
  3. Membawakan oleh-oleh ketika pulang (jika ada kemudahan dalam hal ini).
  4. Jika berjauhan sering menghubungi dan menanyakan kabar.
  5. Mengirimi hadiah, dan banyak lagi perbuatan-perbuatan baik yang dapat dikerjakan.

Kedua, hak orang tua yang harus kita lakukan melalui lisan misalnya:

  1. Tidak mengangkat suara ketika berbicara.
  2. Tidak menggunakan kata kasar, karena berkata “ah” saja tidak boleh.
  3. Jika di daerah kita ada tingkatan bahasa seperti bahasa halus, menengah, dan biasa, maka gunakan bahasa halus.
  4. Tidak memotong pembicaraan ketika orang tua berbicara.
  5. Menjaga lisan dari menyebutkan kekurangan mereka di manapun berada / menjaga kehormatan mereka dll.

Ketiga, hak orang tua yang harus kita lakukan melalui hati misalnya:

  1. Selalu memberikan rasa kasih sayang lebih kepada mereka.
  2. Selalu memberikan empati dan rasa iba kepada mereka, agar kita ringan tangan untuk mendekat dan membantu mereka.
  3. Selalu berbaik sangka kepada keduanya.
  4. Mencari udzur jika keduanya memiliki kekurangan.

Berkbakti Kepada Orang Tua Setelah Meninggal

Yang kami sebutkan di atas adalah perbuatan-perbuatan yang dapat dilakukan oleh seorang anak saat orang tuanya masih ada. Namun, jika orang tua sudah tiada, apakah bisa kita tetap berbakti kepada mereka?

Berbakti kepada orang tua dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, keadaan hidup atau meninggal bukan menjadi halangan untuk berbakti kepada keduanya. Berikut beberapa contoh berbakti kepada orang tua disaat mereka telah tiada:

  1. Tetap menjaga nama baik orang tua dengan tidak menyebarkan aib keduanya. Menjaga akhlak diri sendiri, karena seorang anak ketika berbuat buruk, bisa jadi nama baik orang tua menjadi buruk juga.
  2. Menunaikan seluruh wasiat dan amanah yang mereka sampaikan sebelum meninggal, dengan syarat bukan untuk kemaksiatan.
  3. Membayarkan hutang kedua orang tua jika ada yang belum terbayar, serta menyelesaikan seluruh tanggungan orang tua kepada orang lain.
  4. Selalu mendoakan dan sesekali bersedekah atas nama orang tua yang sudah meninggal. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwasannya ibunya Sa’d bin ‘Ubadah meninggal dan dia tidak ada disana ketika itu, kemudian dia berkata kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku bersedekah untuknya? Beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Iya”, kemudian Sa’d berkata, “Kalau begitu aku bersaksi kepadamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya.” (HR. Bukhari 2756)

Berdoa dan bersedekah atas nama orang yang sudah meninggal bermanfaat baginya (pahala sedekahnya). Namun dengan syarat orang yang didoakan dan disedekahi, meninggal dalam keadaan muslim. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kaum kerabatnya, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni Jahanam.” (QS. At Taubah : 113)

Wallaahu Ta’ala A’lam.


[1] Muhammad bin Abdur Rahman Al Mubarakfury ,Tuhfah Al Ahwadzi juz 6 hal. 21, Dar Al Kutub Al Ilmiyyah, Beirut, tanpa tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *