Benarkah Ibunda Aisyah Dinikahi Pada Usia 18 Tahun?

Sebagian orang menyanggah berita yang menyatakan bahwa Rasulullah menikahi Ibunda Aisyah pada usia enam tahun dan membangun rumah tangga pada usia sembilan tahun. Mereka menganggapnya sebagai kedustaan terhadap kitab-kitab hadis. Perkataan ini sudah pernah keluar dari lisannya sebagian Dai di Indonesia, tentunya sangat memperihatinkan.

Ada seorang jurnalis Mesir bernama Islam Buhairi, dia pernah menyampaikan hasil penelitiannya dalam artikel yang berjudul “Pernikahan Nabi dengan Aisyah saat umur 9 tahun merupakan kedustaan besar terhadap kitab-kitab hadis.” Dan hasil penelitian tersebut disebarluaskan oleh salah satu media Mesir, Al-Yaum As-Sabi’ Pada hari Kamis 16 Oktober 2018 M.

Lihat di sini: Media berita Mesir, Al-Yaum As-Sabi’

Dalam tulisannya, dia memberikan kesimpulan bahwa umur Aisyah ketika menikah dengan Rasulullah adalah 18 tahun. Sedangkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari nashnya rusak serta sanadnya masih diragukan; karena menyelisihi syariat, akal sehat, hadits shahih adat perasaan dan kebiasaan manusia.

Dia mengatakan seluruh kitab sejarah telah bersepakat bahwa saudari perempuan Aisyah yang bernama Asma dilahirkan 27 tahun sebelum peristiwa Hijrah. Hal ini menunjukkan bahwasanya Asma lahir 14 tahun sebelum Rasulullah diangkat menjadi Nabi dengan perhitungan 27-13 = 14.

Dia juga mengatakan kitab sejarah telah bersepakat bahwa Asma lebih tua dari Aisyah 10 tahun. Dan ini menunjukkan Aisyah di lahirkan 4 tahun sebelum tahun kenabian.Kemudian Rasulullah menikahi Aisyah pada tahun ke-10 setelah kenabian; karena beliau berdakwah di Mekah selama 13 tahun.

Dan ini menunjukkan bahwa Aisyah dinikahi Rasulullah ketika umur 14 tahun. Kemudian Rasulullah menggauli Aisyah di akhir tahun 1 H, masuk ke awal tahun 2 H. Dengan demikian, Aisyah dinikahi Rasulullah pada umur 18 tahun.

Sanggahan:

Setelah kita mengecek ulang kitab-kitab sejarah, kita dapati bahwa apa yang dikatakan oleh Islam Buhairi tidak benar. Imam Dzahabi menyatakan bahwasanya Asma lebih tua dari Aisyah sekitar 13-19 tahun. Jika saat hijrah umur Aisyah 9 tahun, maka dia lahir 4 tahun setelah kenabian (13-9=4).[1]

Silahkan lihat juga perkataan Imam Abu Nu’aim dalam kitabnya yang berjudul Ma’rifatus Shahabah bahwa Asma dilahirkan 10 tahun sebelum kenabian (6/3253). Itu menunjukkan ketika Aisyah lahir, Asma sudah beranjak usia 14 tahun (10 + 4 = 14).

Dan ini sesuai dengan perkataan Imam Dzahabi diatas. Ini juga menunjukkan bahwa Asma dilahirkan bukan 27 tahun sebelum peristiwa Hijrah, tetapi 23 tahun. Dikuatkan lagi dengan ungkapan Ibnu Hajar bahwa Aisya dilahirkan 4 atau 5 tahun setelah kenabian.[2]

Aisyah pernah mengkisahkan tentang pernikahan beliau dengan Baginda Rasulullah sallallahu wasallam,

تَزَوَّجَنِي النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وأَنَا بنْتُ سِتِّ سِنِينَ، فَقَدِمْنَا المَدِينَةَ فَنَزَلْنَا في بَنِي الحَارِثِ بنِ خَزْرَجٍ، فَوُعِكْتُ فَتَمَرَّقَ شَعَرِي، فَوَفَى جُمَيْمَةً فأتَتْنِي أُمِّي أُمُّ رُومَانَ، وإنِّي لَفِي أُرْجُوحَةٍ، ومَعِي صَوَاحِبُ لِي، فَصَرَخَتْ بي فأتَيْتُهَا، لا أدْرِي ما تُرِيدُ بي فأخَذَتْ بيَدِي حتَّى أوْقَفَتْنِي علَى بَابِ الدَّارِ، وإنِّي لَأُنْهِجُ حتَّى سَكَنَ بَعْضُ نَفَسِي، ثُمَّ أخَذَتْ شيئًا مِن مَاءٍ فَمَسَحَتْ به وجْهِي ورَأْسِي، ثُمَّ أدْخَلَتْنِي الدَّارَ، فَإِذَا نِسْوَةٌ مِنَ الأنْصَارِ في البَيْتِ، فَقُلْنَ علَى الخَيْرِ والبَرَكَةِ، وعلَى خَيْرِ طَائِرٍ، فأسْلَمَتْنِي إلَيْهِنَّ، فأصْلَحْنَ مِن شَأْنِي، فَلَمْ يَرُعْنِي إلَّا رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ضُحًى، فأسْلَمَتْنِي إلَيْهِ، وأَنَا يَومَئذٍ بنْتُ تِسْعِ سِنِينَ.

“Nabi Shallallahu alaihi sallam menikahiku saat aku berusia enam tahun, lalu kami tiba di Madinah dan singgah di kampung Bani Al-Harits bin Khazraj, kemudian aku menderita demam hingga rambutku menjadi rontok. Setelah sembuh, rambutku tumbuh lebat sehingga melebihi bahu. Kemudian ibuku Umu Ruman datang menemuiku saat aku sedang berada dalam ayunan bersama teman-temanku, ibuku berteriak memanggilku lalu Aku datang sementara aku tidak mengerti apa yang diinginkannya. Ibuku menggandeng tanganku lalu membawaku hingga sampai di depan pintu rumah. Aku masih dalam keadaan tengah-tengah hingga aku menenangkan diri sendiri. Lalu ibuku mengambil air kemudian membasuhkannya ke muka dan kepalaku. Kemudian dia memasukkan aku ke dalam rumah yang ternyata di dalamnya ada wanita-wanita Anshar, mereka berkata mudah-mudahan memperoleh kebaikan dan keberkahan, juga semoga mendapat nasib yang terbaik. Lalu ibuku menyerahkan aku kepada mereka, dan merekapun merapikan penampilanku. Tidak ada yang membuatku terkejut melainkan keceriaan Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Sallam. Akhirnya mereka menyerahkan aku Kepada beliau di mana saat itu usiaku sembilan tahun.” (HR. Bukhari).

Dalam hadits ini Aisyah sendiri yang bercerita, tentunya beliau lebih mengetahui terhadap dirinya sendiri daripada orang lain.

Keabsahan Hadis Bukhari.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitabnya. Para ulama telah bersepakat bahwa kitab shahih Bukhari merupakan kitab yang paling shahih setelah Al-Qur’an. Oleh karenanya penetapan usia ibunda Aisyah saat dinikahi Rasulullah bukan hasil ijtihad para ulama, namun suatu sejarah yang datang dari jalur yang benar, sehingga tidak perlu diragukan.

Meskipun demikian, sebagian orang bersikeras mengkritik hadis tersebut karena dua hal:

1. Hadis tersebut hanya diriwayatkan dari satu jalur saja, sehingga statusnya hadits Ahad.

Sanggahan:

Perlu diketahui bahwa hadis yang datang dari Rasulullah selama itu shahih maka wajib diterima, meskipun statusnya hadis Ahad. Jika kita telusuri kitab-kitab hadis, maka akan kita dapati bahwasanya hadis tersebut tidak hanya datang dari satu jalan, namun juga dari berbagai jalan yang lain. Seperti hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim lewat Imam Zuhri dari Urwah bin Zubair dari Aisyah yang hadisnya berbunyi,

أنَّ النبِّيَّ صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ تزَوَّجَهَا وَهِيَ بنِتُ سَبْعِ سِنيِنَ ، وَزُفَّتْ إِليْهِ وَهِيَ بنِتُ تسِعِ سِنيِنَ، وَلعَبهَا مَعهَا، وَمَاتَ عَنْهَا وَهِيَ بِنْتُ ثمَانَ عَشْرَة

“Rasulullah ﷺ menikahi Aisyah pada usia tujuh tahun dan dibawa oleh Rasulullah ﷺ kerumahnya pada usia sembilan tahun dan beliau bermain dengannya, sedangkan ketika Rasulullah ﷺ meninggal dunia saat itu ibunda Aisyah berusia delapan belas tahun.”[3]

Dan beliau juga meriwayatkan lewat sanad yang lain dari A’masy dari Ibrahim dari Al-Aswad dari Aisyah yang hadisnya berbunyi,

تزَوَّجَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ بنِتُ سِتٍّ، وَبنَى بهِا وَهِيَ بنِتُ تسِعٍّ، وَمَاتَ عَنْهَا وَهِيَ بنِتُ ثمَانَ عَشْرَة 

“Rasulullah ﷺ menikahi Aisyah pada usia enam tahun dan membangun rumah tangga dengannya pada usia sembilan tahun dan ketika Rasulullah ﷺ meninggal dunia ibunda Aisyah berusia delapan belas tahun.”  [HR. Muslim: 1422 ]

Dan diriwayatkan juga oleh Abu Dawud lewat Hisyam bin Urwah dari Urwah dari Aisyah, beliau berkata,

فَلمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ جَاءَنِي نسِوَةٌ وَأنَا ألَعبَ عَلَى أرْجُوحَةٍّ، وَأنَا مُجَمَّمَةٌ فَذهَبْنَ بِي، فهَيَّأنْنِي وَصَن عْنَنِي، ثمَّ أتَيْنَ بِي رَسُولَ اللَّه صَلىَّ اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ فبَنَى بِي وَأنَا ابْنَةُ تِسْعِ سِنيِنَ

“Tatkala kami datang ke kota Madinah dan aku sedang bermain ayunan para wanita mendatangiku, dan rambutku sampai kebahu. Lalu mereka membawaku dan mereka mempersiapkanku juga menghiasiku, kemudian mereka membawaku kepada Rasulullah ﷺ dan beliaupun mendatangiku saat aku berusia Sembilan tahun.” [HR. Abu Dawud: 4/285]

Dengan riwayat-riwayat ini maka hadis tersebut lebih bisa dijamin keabsahanya.

2. Pada jalur tersebut terdapat perawi yang dipermasalahkan; karena pada jalur periwayatannya terdapat perawi yang bernama Hisyam bin ‘Urwah.

Sanggahan:

Hisyam adalah seorang parawai tsiqah (terpercaya) namun pernah terpapar sebagai perawi yang mukhtalath di akhir hayatnya, dan ini yang dikatakan oleh Abu Hasan bin Qathan. Namun anggapan tersebut tidak benar. Imam Dzahabi dalam kitabnya “Mizan Ta’dil” menyebutkan, “Hisyam memang hafalannya berkurang di usia tua namun tidak pernah mukhtalath selamanya, dan tidak ada gunanya terhadap apa yang dikatakan oleh Abu Hasan bin Qathan bahwa dia mukhtalath dan berubah. Iya, memang orang tersebut sedikit berubah yaitu hafalanya tidak seperti pada usia mudanya dan dia lupa sebagian yang dihafal atau salah, memangnya kenapa? Apakah dia adalah orang yang ma’shum?.”

Dan beliau juga menambahkan lagi bahwa hal seperti ini biasa terjadi pada ulama besar seperti Imam Malik, Syu’bah, Waki’ dan ulama tsiqah lainya.[4]

Jadi kesimpulanya, hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari sudah jelas kebenarannya, sehingga bisa kita ambil hukum bahwa Ibunda Aisyah dinikahi oleh Rasulullah ﷺ pada umur 6 tahun serta diajak untuk membangun rumah tangga pada umur 9 tahun.

 Mengapa Rasulullah menikahi anak kecil? bukan itu sebuah kedzaliman?

Satu hal yang harus kita perhatikan bersama, bahwa orang-orang kafir tidak akan ridha terhadap kaum muslimin, sehingga mereka akan berusaha menyebarkan syubhat-syubhat agar kaum muslimin menjadi ragu dengan agamanya sendiri. Dan ini salah satu syubhat mereka, sementara hukum menikah dengan anak kecil dalam Islam dibolehkan tatkala anak tersebut sudah dewasa dan siap melayani suaminya.

Aisyah sebelum dilamar Rasulullah sudah pernah dilamar oleh orang lain yaitu Jubair bin Muth’im, ini menunjukkan bahwa beliau saat itu sudah dewasa. Dan kedewasaan penduduk suatu negara berbeda dengan negara yang lain. Sebagaimana menurut hasil penelitian para dokter bahwa kedewasaan seseorang yang tinggal di negara panas berbeda dengan orang yang tinggal di negara dingin atau negara yang tingkat panasnya lebih rendah.

Bukankah Rasulullah dan Aisyah berasal dari gurun pasir? Bukankah makanan mereka lebih bergizi dari makanan kita? Coba perhatikan keadaan orang tua kita di Indonesia, bukankah banyak diantara mereka yang menikah saat masih belia?

Salah satu dokter dari Amerika pernah berkata, “Sesungguhnya seorang wanita di Amerika akan memulai masa dewasanya pada umur 7 atau 8 tahun, sedangkan wanita Afrika pada umur 6 tahun.”

Dari pernyataan diatas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa orang yang menikah dengan wanita berumur enam tahun bukan satu peristiwa yang aneh, hanya saja kebiasaan kita pada saat ini selalu melihat wanita yang menikah berumur 18 tahun, sehingga tatkala mendengar berita pernikahan di bawah umur 18 tahun akan terlihat tabu dan aneh.

Wallahu A’lam.


[1]  Siyar A’lam An-Nubala, 2/288

[2] Al-Ishabah Fi Tamyiz As-Shahabah 8/231

[3] Kitab Shahih Muslim hadis ke 1422 halaman 1039 Bab tazwij al-ab al-bikr as-shaghirah.

[4] Kitab mizan ta’dil halaman 301

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top