Benarkah Zina Adalah Hutang Yang Harus Dibayar ?

Penulis pernah membaca satu artikel yang mengatakan zina adalah hutang. Maksudnya barang siapa yang berzina maka anak dan keluarga harus siap menanggung akibatnya.

Dalam artikel tersebut dikatakan bahwa kaidah ini bersumber dari perkataan Imam Syafi’i rahimahullah,  

“Sesungguhnya zina adalah utang. Jika kamu sampai berani berutang, maka tebusannya ada pada anggota keluargamu. Siapa yang berzina dengan wanita lain dan membayar 2000 dirham  bisa jadi di keluarganya akan dizinai dengan harga ¼ dirham. Siapa yang berzina maka keluarga dan anaknya akan dizinai juga walau dari dalam rumahnya sekalipun.”

Benarkah kaidah ini? Jika benar, maka konsuekensinya akan banyak orang mengira kalau Allah telah melakukan kezhaliman dan ngak adil pada hamba-Nya.

Sehingga banyak orang yang mengira bahwa di dalam Islam ada yang dinamakan dengan dosa turunan, benarkah demikan? Bagaimana bisa seorang anak perempuan yang menjaga kesucian dan kehormatannya harus rela dizinai orang, karena dosa ayahnya. Sungguh ini tidak adil bagi si-anak.  

Jawaban:

Kami sendiri juga sering mendengar kaidah di atas, namun permasalahannya bukan pada kaidahnya, tapi bagaimana kita memahami kaidah tersebut.

Dengan memohon pertolongan Allah, pada artikel ini kami akan mencoba menjawab kerancuan pemahaman pada masalah di atas, agar kaum muslimin dapat terhindar dari syubuhat dan prasangka yang tidak baik terhadap Allah dan takdir-Nya.

Agar penjelasan kami dapat mudah di cerna, maka kami simpulkan bahwa ada dua permasalahan besar yang akan dibahas dalam artikel ini, yaitu;

1. Bisakah dosa seseorang bisa ditanggung orang lain?

2. bagaimana cara memahami kaidah “zina adalah hutang”3. Adakah dosa turunan dalam Islam?

Bisakah dosa seseorang ditanggung orang lain?

Untuk menjawab masalah di atas, Ada beberapa poin penting yang harus diyakini oleh setiap muslim:

Allah ta’ala sang hakim yang maha adil   

Seorang muslim yang cerdas wajib menjauhi berburuk sangka kepada Allah dan meyakini Allah maha adil dan bijaksana dalam memberi hukuman untuk hambanya. Karena Allah ta’ala telah mengharamkan dirinya sendiri untuk berbuat zalim pada hambanya. Allah ta’ala berfirman:

ومَا أَنَا بِظَلّم العِبَاد

Dan Aku tidak akan menzhalimi hambaku [QS. Qaf: 29]

إِنَّ الله لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا

Seseunguhnya Allah tidak pernah menzhalimi hamba-Nya sedikitpun. [QS.Yunus: 44]

Dalam hadist qudsi Rasululah shalallahu’alai wasallam bersabda, Allah berfirman;

يا عِبَادِي إِنّي حَرَّمْتُ ظُلْمًا عَلَى نَفْسِي

“Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diriku.”

Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya sedikitpun.

Para ulama berkata: Diantara bentuk ketidak-zaliman Allah adalah bahwa Allah tidak pernah mengurangi pahala dari kebaikan hamba-Nya, dan Allah tidak pernah memberi hukuman hamba-Nya dari dosa orang lain.[1]

Allah ta’ala memberi balasan sesuai dengan amal perbuatan seseorang. Jika yang dilakukannya adalah kebaikan maka Allah membalasnya dengan kebaikan baik di dunia maupun diakhirat, begitu juga, jika yang dilakukannya adalah keburukan maka yang ia dapat adalah balasan keburukan.

Mislanya, jika ia memudahkan atau membantu urusan orang maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akirat. Begitu ia jika kita mempersulit urusan orang, maka Allah akan mempersulit urusan kita. Orang yang suka menipu maka ia akan ditipu, orang yang suka berkhianat maka ia akan dikhianati. 

Semua ini adalah sunnah kauniah (ketetapan Allah yang pasti terjadi sebagai pelajaran dan hikmah bagi pelaku) sebagai bentuk keadilan Allah ta’ala dalam memberi balasan.

Ketahuilah bahwa setiap kebajikan tak akan luput, dan setiap dosa yang diperbuat tak pernah terlupakan, dan Allah adalah sang hakim yang tak pernah mati. Sebagaimana ia berprilaku, maka demikanlah balasan yang ia dapatkan di dunia maupun di akhirat.

Seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain

Islam mengajarkan bahwa setiap dosa yang diperbuat anak adam maka yang menanggung akibatnya adalah dirinya sendiri bukan orang lain. Kejahatan yang dilakukan seseorang maka dia sendiri yang menanggung akibatnya, sebagaimana amal baiknya untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain.

Apa yang kita tanam itulah yang kita tuai. Seorang bapak melakukan zina maka yang menanggung dosanya di sisi Allah adalah dirinya sendiri. Tidak ada seorang-pun yang bisa menebus atau menanggung beban orang lain bahkan keluarganya sendiri.

Kaidah ini dibangun atas dasar dalil dari Al-qur’an dan sunnah, Allah ta’ala berfirman:

 وَإِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلى حِمْلِها لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كانَ ذَا قُرْبى

 “Dan jika seseorang yang berbuat dosa memanggil (meminta bantuan) orang lain untuk meminggul beban dosanya, maka tidak ada yang bisa meminggulnya meskipun itu kerabatnya sendiri.” [QS. Fathir;18]

 مَنْ عَمِلَ صالِحاً فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَساءَ فَعَلَيْها وَما رَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيدِ

Barang siapa mengerjakan kebaikan maka pahalanya untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbua jahat maka dosanya menjadi tanggungannya sendiri, dan Rabmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.” [Fushilat: 46]

وَلا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْها وَلا تَزِرُ وازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرى

Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung  jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain.” [Al-An’am: 164]

Ayat-ayat ini mengajarkan bahwa setiap dosa yang dilakukan setiap seorang maka dia sendiri yang menanggung akibatnya. Begitu juga dengan kebaikan yang dilakukan maka pahalanya kembali untuk dia sendiri.

Tidak ada yang bisa menanggung beban dosa orang lain, bahkan keluarga dan kerabatnya sendiri. Masing-masing bertanggung jawab atas amal perbuatannya, apa yang ia tanam itulah yang ia tuai.[2]

ayat ini juga dikuatkan oleh hadist nabi shalallahu’alaihi wasallam. Suatu hari Abi Rimsah dan ayahnya pergi mengahadap Rasulullah shalallahu’alai wasallam, kemudian Rasulullah berskata:  “Aku berangkat bersama bapakku menghadap Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada bapakku, ‘Apakah ini anakmu?’ Dia berkata, ‘Ya, demi Tuhannya Ka’bah.’ Beliau bersabda: ‘Benarkah? Dia berkata: Aku bersaksi atasnya.

Maka Rasulullah-pun tersenyum, kemudian beliau bersabda: “Adapun dia (anak) sungguh dosanya tidak engkau tanggung hukumannya, dan dosamu (ayah) tidak membuat anakmu menanggung hukumannya. Kemudian beliau membaca ayat, [وَلا تَزِرُ وازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرى]. Artinya:  Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain.”[3]

Bagaimana cara memahami kaidah “zina adalah hutang”?

Sebagian ulama berpendapat bahwa pernyataan yang mengatakan barang siapa yang berzina maka keturunanya yang menanggung akibatnya bukan pernyataan yang tepat, karena tidak adanya ayat atau hadist shahih yang menunjukkan kebenaran kaidah tersebut, ditambah lagi kaidah ini bertolak belakang dengan Al-qur’an dan akal.

Apa dosa anak sehingga mereka harus menerima azab karena dosa orang tuanya!?

Namun jika kaidah ini benar, maka ia harus dipahami dengan dua cara agar tidak terjadi kontradiksi dengan Al-Qur’an dan sunnah. Dua metode tersebut, yaitu;

Pertama: kaidah ini bukan bermaksud mengabarkan balasan/hukuman untuk pezina, namun bertujuan sebagai ancaman atau menakuti-nakuti pelaku zina, dan menggambarkan dasyatnya dampak dari dosa zina.

Bukanlah maksudnya bahwa semua keluaga pezina akan mendapat sial karena ulah ayah atau ibunya. Karena jika dipahami seperti itu maka ia akan bertolak belakang dengan dalil syar’i, akal, dan fakta.

Karena berapa banyak orang yang terlahir dari keluarga pezina tetapi anaknya shaleh dan bertakwa. Sebaliknya, berapa banyak anak yang lahir dari keluarga yang baik tetapi anaknya ahli maksiat.     

Kedua: kaidah ini bukan untuk semua orang yang pernah melakukan zina, namun hanya ditunjukkan kepada mereka yang menjadikan zina sebagai kebiasaan dan ia tidak bertaubat, lalu menganggap dosa ini merupakan perkara yang enteng. Orang yang seperti ini termasuk dari ahli maksiat dan perusak, kemudian dengannya ia merusak keluarga dan keturunannya.

Karena itu jika pemimpin keluarganya ahli maksiat, maka tidak heran kalau keturunannya juga menjadi ahli maksiat. Dalam Islam ini dinamakan denga sunnah kauniah (ketetepan Allah yang pasti berlaku sebagai pelajaran dan hikmah).

Misalnya ayahnya seorang pencuri, maka seringkali kita menjumpai keturunannya juga suka mencuri. Begitu juga dengan keluarga pezina, maka kebanyakan anaknya juga mengikuti langkah orang tuanya, walaupun tidak semuanya.

Ibnu taimiah berkata: Jika orang tuanya saja tidak bisa menjaga kehormatan dirinya bagaimana ia bisa menjaga kehormatan anak-anaknya. Karena itu kerusakan pada anak sering kali disebabkan dari faktor  lingungan keluarganya.

Ketika seorang bapak tidak bisa menjaga kehormatan istri dan anaknya, maka jangan heran kalau orang-orang akan berani untuk menzinainya.[4]

Kemudian perlu dipahami juga zina di sini tidak harus maksudnya zina besar, tetapi maksud zina di sini umum, baik itu dizinai mata dengan memandang, meraba dengan tangan, atau mendengar dengan telinga.

Bagaimana dengan pezina yang bertaubat, apakah termasuk dalam kaidah ini?


Bagi orang yang pernah melakukan zina, baik sekali atau lebih dari sekali kemudian ia bertaubat, menyesali dan berazam untuk tidak mengulanginya lagi maka ia tidak termasuk dalam kaidah ini, karena Allah telah mengampuni dosanya dan keburukannya akan diganti dengan kebaikan. Allah berfirman:

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70)

Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan kebaikan, maka Allah mengganti kejahatan mereka dengan kebaikan. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” [Al-Furqan: 70]

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap pelaku maksiat  baik laki-laki dan perempuan jika ia bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat, maka Allah akan menerima taubatnya dan mengampuni segala kesalahanya, bahkan Allah menggantikan keburukunnya dengan kebaikan dan keberkahan.

Setiap anak terlahir dalam fitrah

Ketahuilah di dalam Islam anak yang terlahir dari perzinaan tidak boleh direndahkan dan dihina. Sangat disayangkan sebagian masyarakat sering memanggil anak zina dengan istilah anak haram sebagai bentuk penghinaan kepada anak tersebut.

Perlu kita ketahui bahwa istilah anak haram tidak dibenarkan dalam Islam. Karena Islam tidak mengenal dengan istilah dosa warisan. Setiap anak terlahir dalam keadaan suci (fitrah). Kalaupun ia ditakdirkan lahir dari hasil zina kedua orang tuannya, namun dosa zina bukan kepada anak tapi kepada orang tuanya. Allah berfirman:

وَلا تَزِرُ وازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرى

“Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain.”

Janganlah kesalahan ibu dan ayahnya kita tempelkan pada sang anak. Karena hal ini adalah kezaliman yang besar buat si anak. Anak hasil zina bersih dan suci, kelak ketika dewasa dia bisa menjadi orang yang shaleh dan bertakwa jika didik dengan benar.

Baca juga: Hukum Adopsi Anak

Berapa banyak anak yang bertakwa lahir dari keluarga yang buruk, dan berapa banyak anak yang jahat lahir dari keluarga yang baik? Nabiyullah Ibrahim lahir dari keluarga kafir, tetapi bisa menjadi Rasulnya Allah. Anaknya nabi luth dan nabi nuh terlahir dari ayah yang shaleh, namun tersesat sehingga termasuk orang yang merugi.

Semua ini menunjukkan bahwa anak yang lahir dari keluarga yang jahat bukan jaminan ia pasti jahat. Begitu juga sebaliknya, anak yang terlahir dari kelurga yang baik bukan jaminan ia akan menjadi orang yang baik. Tidak ada yang bisa menjamin keberuntungan dan kerugiatan kita di dunia maupun diakhira kecuali kita sendiri.


[1] Kitab Jami’ Al-‘Ulum Wa Al-Hikam: 2/35

[2] Kitab Tafsir Ibnu Katsir: 3/345

[3] HR. Abu Dawud:: 4495

[4] Kitab Majmu’ Fatawa: 3/473

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top