Berkata baiklah atau diam, agar selamat

Lisan merupakan nikmat dari Allah kepada hamba-Nya. Selayaknya seorang hamba harus selalu menjaganya sebagaimana yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari: 6135 dan Muslim: 47)

Lisan seseorang diibaratkan pisau bermata dua:

1. Dengannya seorang hamba dimasukkan kedalam surga

2. Dengannya seorang hamba dijerumuskan kedalam neraka

Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam, bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ عز وجل مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ يَكْتُبُ اللهُ عز وجل له بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سخطِ اللهِ عز وجل مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ يَكْتُبُ اللهُ عز وجل عَلَيْهِ بِهَا سخطَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang diridhai Allah, suatu kalimat yang dia tidak menyangkanya (memperhatikannya), namun dengannya Allah menuliskan keridhaan-Nya sampai hari kiamat. Dan sungguh, seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang dimurkai oleh Allah, suatu kalimat yang dia tidak menyangkanya (memperhatikannya), namun dengannya Allah menuliskan kemurkaan-Nya sampai hari kiamat.” (HR. Ahmad: 15852)

Jika Allah telah menganugerahkan kepada kita kemampuan untuk berkata. Maka, berazamlah untuk tidak berkata, melainkan suatu kebaikan, seperti; mengajarkan sesuatu yang bermanfaat, membaca al-qur’an, berdzikir, dan mengatakan segala perkataan yang baik.

Berazam untuk berkata yang baik merupakan tanda syukur kita kepada Allah atas nikmat yang telah Dia berikan, yang mana nikmat tersebut akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Karna setiap perkataan yang telah kita ucapakan, tercatat dalam buku catatan amal kita. Allah ta’ala berfirman,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaaf [50]: 18)

Perintah untuk diam ada 2 perkara[1]:                                                   

1. Diam dari perkataan yang diharamkan, seperti; gibah, mengadu domba, mencela, berkata kotor/keji. Diam dari perkataan seperti ini diwajibkan.

2. Diam yang dianjurkan, seperti tidak banyak berbicara dalam hal yang tidak memberikan manfaat untuk agama ataupun kehidupan dunia. Dalam hal ini, diam lebih diutamakan agar tidak lalai dari hal-hal yang seharusnya lebih diutamakan, dan menghidari diri dari perkataan yang bisa menjerumuskan kepada perkara-perkara haram.

Terkadang untuk berkata yang baik terasa sulit. Maka, diam lebih baik daripada berkata sehingga terjerumus kedalam dosa. Oleh karna itu, disebutkan dalam hadist:

فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

“Hendaklah ia berkata baik atau diam”. (HR. Bukhari: 6135 dan Muslim: 47)

Begitu pula yang disampaikan oleh Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu:

مَنْ كَثُرَ كَلاَمُهُ كَثُرَ سَقَطُهُ، وَمَنْ كَثُرَ سَقَطُهُ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ، وَمَنْ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ كانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

 “Barangsiapa yang banyak bicaranya niscaya akan banyak salahnya, dan barangsiapa yang banyak salahnya maka akan banyak dosanya, dan barangsiapa yang banyak dosanya maka lebih pantas masuk neraka”[2]

Diriwayatkan juga dalam sebuah hadist:

مَنْ صَمَتَ نَجَا

 “Barangsiapa yang diam, maka ia akan selamat.” (HR. At-Tirmidzi no: 2501)

Keutamaan menjaga lisan:

Sangat banyak keutamaan dari menjaga lisan. Diantara keutamaan yang paling penting:

Memiliki kedudukan tinggi sebagai muslim.

Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah! Bagaimana sifat muslim yang paling baik?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ، وَيَدِهِ

“Seorang muslim yang tidak mengganggu orang lain dengan lisan atau tangannya.” (HR. Bukhari: 11 dan Muslim: 42)

Dijanjikan surga.

Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الجَنَّةَ

“Barangsiapa yang menjaga mulutnya dan kemaluannya, aku menjamin baginya surga.” (HR. Bukhari: 6474)

Menghindari sifat keras hati.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 لا تُكْثِرُوا الكَلامَ بغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ ، فَإنَّ كَثْرَة الكَلامِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّه تَعالَى قَسْوةٌ لِلْقَلْبِ ، وإنَّ أبْعَدَ النَّاسِ مِنَ اللَّهِ القَلبُ القَاسي 

“Janganlah banyak berbicara selain untuk berzikir kepada Allah Ta’ala. Karna banyak bicara dapat mengeraskan hati, dan orang yang keras hatinya jauh dari Allah.” (HR. At-Tirmidzi: 2411)

Menyelamatkan diri dari dosa.

Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, dia berkata, “Aku bertanya, wahai Rasulallah, apakah sebab keselamatan?” Beliau menjawab,

أَمْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

“Jagalah lisanmu, luaskan rumahmu, dan tangisilah dosa-dosamu”. (HR. At-Tirmidzi: 2406)

Dijauhkan dari neraka jahannam.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ

“Seorang hamba apabila mengucapkan kalimat tanpa dipikirkan terlebih dahulu, maka dia akan terjatuh ke neraka sejauh antara jarak ke timur.” (HR. Bukhari: 6477)

Baca juga: Kisah Abu Thayyib At-Thabari

Cara agar bisa menjaga lisan dari keburukan:

Diantara cara agar lisan terjaga, ialah memohon perlindungan dari Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan do’a agar Allah menjaga lisan kita, salah satu doa’anya:

Dari Syakal bin Humaid radhiyallahu ‘anhu, ia pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah ajarkan kepadaku suatu doa.” Maka beliau mengatakan, “Bacalah:

 اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي ، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي ، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي ، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي ، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّيْ

Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelekan pada pendengaranku, dari kejelekan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelekan pada mani atau kemaluanku).” (HR. Abu Daud: 1551)

Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita semua dalam menjaga lisan, serta menggunakannya sebagaimana yang Ia cintai dan ridhai.


[1] Disarikan dari kitab Al-Hilal Al-Bahiyah Syarhu Al-‘Arbain An-Nawawiyah, karya Syekh Dr. Manshur bin Muhammad bin Abdullah As-Saq’ub. (Hal. 133)

[2]  Lihat kitab: Raudhatul ‘Uqalaa wa Nuzhatul Fudhalaa. (Hal. 44)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top