Biografi Imam Syafi’i, Sang Pemimpin Para Fuqaha.

Tidak diragukan lagi, membaca kisah atau biografi orang mulia mempunyai keutamaan yang banyak. sesungguhnya membaca biografi ulama adalah pengobat jiwa.

Umar bin al-Khattab radiyallahu anhu berkata: “Hendaklah kalian mendengar cerita-cerita tentang orang-orang yang memiliki keutamaan, kerana hal itu termasuk dari kemuliaan dan padanya terdapat kedudukan dan kenikmatan bagi jiwa”.

Di kesempatan ini, penulis ingin mengajak pembaca pena muslim untuk mendalami biografi salah seorang ulama besar Islam yaitu imam Syafi’i Rahimahullah.  Namanya tak asing lagi di telinga kita, tapi masih sedikit kaum muslimin yang belum mengetahui secara lengkap kisah dari sang pendiri mazhab yang cukup banyak di anut di dunia Islam ini.

Siapa namanya? Bagaimana kehidupannya? Kenapa kedudukan sang imam sangat mulia bagi umat islam? Untuk dapat mengetahui kisah dan keistemewaan sang imam, maka kami telah merangkumnya dari beberapa sumber agar dapat mudah dicerna dan dipahami bagi pembaca.  

Nama Dan Nasab.

Nama lengkap Imam Syafi’i adalah Muhamman bin Idris bin Abbas bin Ustman bin Stafi’ bin As-Saib bin ‘Ubaid bin Abdi Yazid bin Hisyam bin Abdil Muthalib bin Al-Muthalib bin Abdi manaf bin Qushai bin bin Killab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib.

Masyhur dengan panggilan As-Syafi’i. memliki nama kunyah Abu Abdillah. Jika diperhatikan dari nasabnya maka kita dapati bahwa nasab beliau bersambung dengan Nabi Muhammad Shalallahu’aialihiwasallam, yang mana nasabnya ketemu dengan kakeknya Nabi Shalallahu’ailaihiwasallm, yaitu Al-Muthalib bin Abdi manaf.

Kelahiran Imam As-syafi’i.

Imam Syafi’i Rahimahullah lahir di Ghiza-Palestina, tahun 150 H, yang mana ditahun ini bertepatan dengan wafatnya Imam Abu Hanifah rahimahullah.

Awal Mula Kehidupan Imam Syafi’i.

Dari umur dua tahun  Imam Syafi’i telah ditinggal wafat oleh ayahnya.  Saat itu, ibunya khawatir untuk tinggal di Giza karena faktor keadaan di sana, kemudian ia membawa anaknya hijrah ke Makkah, dan di Mekkahlah Imam syafi’i tumbuh besar dibawah pengawasan dan tarbiah ibunya.

Sejak kecil, telah tampak dari imam Sayfi’i kecerdesan dan kejeniusannya diatas dari anak-anak seusianya, mempunyai hafalan yang cepat dan kuat, pandai berbahasa Arab dan sastra, maka tidak heran beliau menjadi imam besar di zamannya.

Masa Belajar Imam As-syafi’i.

Imam Syafi’i adalah ulama yang mempunyai semangat dalam menuntut ilmu. Ia rela mengorbankan waktu dan hartauntuk mencari ilmu di berbagai kota penting di dunia islam.

Kota Mekkah adalah kota yang pertama kali ia tuju untuk menuntut. Di kota kekek moyangnya tersebut ia berguru dari ulama dan mufiti besar di sana, di antara guru sang imam di Mekkah: Muslim Ibnu Khalid Az-Zanji – Mufti Mekkah-, Daud Ibnu Abdurraman Al-‘Athar, Sufyan Ibnu ‘Uyaynah, Sa’id bin Salim, dan fudhail bin ‘Iyadh.

Karena kecerdasan dan kematangan ilmu sang Imam, ia diizinkan oleh gurunya untuk memberi fatwa dan mengajar, dan saat itu umur beliau masih sangat muda, Kemudian beliau pergi ke madinah untuk belajar di sana, di antara guru beliau di Madinah: Imam Malik bin Anas – pendiri mazhab maliki -, Ibrahim bin Yahya, Abdul ‘Aziz Addarawurdi,dan Ibrahim bin Sa’ad.

Dari Madinah, beliau hijrah ke Yaman – tanah leluhur sang ibu-, Diantara ulama yang ia temui di sana, Mutharif bin Maazin dan Hisyam bin Yusuf. Dari Yaman ia melanjutkan petualangannya ke Bagdad – negeri tempat berkumpulnya para ilmuan muslim dunia-, di sana ia belajar dari Muhammad bin Hasan –ulama besar bidang fiqh di Iraq-, Isma’il Ibnu ‘Ulayyah,  Abdul wahab As-Saqafi, Dan lainnya.

Murid-Murid Imam As-Syafi’i.

kemasyhuran sang imam membuat banyak penuntut ilmu yang ingin belajar darinya. Di antara murid-murid sang imam yang ternama, Al-Humaidi –guru imam Bukhari-, Abu ‘Ubaid A-Qasim Bin Salam, Ahmad Ibnu hambal, Sulaiman Bin Daud Al-Hasyimi, Abu Ayyub Yusuf Al-Buthi, Abdul Aziz Al-Makki, Ishaq ibnu Rahawaih, dan masih banyak yang lainnya. Imam Ad-Daruquthni telah mengumpulkan murid-murid Imam Syafi’i di kitabnya “Man Lahu Riwayah ‘Ann As-ayafi’i” dalam dua jilid.

Luasnya Keilmuan Imam As-Syafi’i.

Imam Al-Humaidi berkisah, bahwa ia pernah mendengar Muslim Bin Khalid Az-Zanji – mufti Mekkah- berkata kepada Syafi’i, Wahai Syafi’i! telah datang waktumu untuk berfatwa dan mengajar manusia, maka berfatwalah wahai Abu Abdillah. Imam zahabi menambahkan: Bahwa Imam Syafi’i mulai berfatwa di umur yang ke-lima belas tahun.

Imam Abu Saur bercerita: Bahwasanya Abdurahman Mahdi meminta Imam syafi’i -saat itu umur beliau masih sangat muda-  untuk membahas tafsir ayat-ayat al-qur’an, kemudian mengumpulkan hadist-hadist nabi dan perkataan ijma’ ulama, dan menjelaskan nasikh mansukh dari ayat Al-qur’an, kemudian imam syafi’i mengumpulkan semua pembahasan ini dalam satu kitab yang dinamakan “Ar-Risalah”[1].

Kekuatan hafalan Imam As-Syafi’i.

Imam Muzanni berkisah, bahwa ia pernah mendengar Imam Syafi’i berkata: Sesungguhnya Aku telah mengkhatamkan hafalan qur’an-ku ketika umurku tujuh tahun, dan aku menghafal “muwatha” saat aku sepuluh tahun.

Dikisahkan dari Yunus Bin Abdul A’la. Bahwa ia pernah melihat Imam Syafi’i mengarang sebuah kitab dari subuh sampai zuhur dengani hafalannya, tanpa memegang atau melihat dari satu kitab rujukan apapun.

Kebijaksanaan Imam As-Syafi’i.

Yunus As-Shadafi berkata: Sungguh aku tidak pernah melihat org yang lebih berakal dan bijak dari Syafi’i, suatu ketika aku dan imam Syafi’i pernah berdebat karena bersilisih pendapat dalam satu masalah, kemudian kami berpisah.

Tidak lama setelah kejadian itu, beliau mendatangi rumahku kemudian menggengam tanganku seraya berkata: Wahai Abu Muslim, apakah kita tidak bisa menjadi saudara saja, walaupun kita bersilisih pandangan? Aku berkata: ini menunjukkan kebijaksanaan dan kefaqihan sang imam.

Perkataan Hikmah Imam As-syafi’i.

  • Barang siapa yang mempelajari Al-qura’an maka akan agung deranjatnya, Barang siapa yang menguasi fiqh maka berkembang kemampuan berpikirnya, barang siapa yang menulis hadist maka kuat hujjahnya. barang siapa yang menyukai bahasa (Arab) maka lembut sifatnya, barang siapa yang menguasai ilmu hitung-hitungaan maka akan tepat pendapatnya, dan barang siapa yang tidak bisa menjaga dirinya dari bermaksiat kepada Allah maka tidak ada manfaat ilmu-ilmunya.
  • Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang akan selamat dari cibiran dan komentar negatif orang lain, maka jika perbuatanmu itu bermanfaat buat dirimu dan agamu  maka kerjakanlah tanpa menghiraukan cibiran orang.
  • Sungguh aku tidak pernah merasa kenyang sejak enam belas tahun kecuali hanya sekali, maka aku masukkan tanganku sampai aku memuntahkannya, sungguh kekenyangan akan membuatmu malas bergerak, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasanmu, menarikmu untuk tidur, dan melemahkan ibadahmu.   
  • Tanda orang yang berilmu gemar bertanya, baik yang ia ketahui maupun yang tidak, maka menguatkan apa yang diketahuinya, dan belajar yang tidak diketahui. Adapun tanda orang yag bodoh malas belajar, namun senang mengajari orang.             

Pujian ulama terhadap Imam Ay-Syafi’i.

  • Qutaibah ibnu sa’ad berkata:  Syafi’i adalah imam
  • Imam Al-Humaidi –Guru Imam Bukhari- jika menyebut nama Sayfi’i beliau selalu mengatakan, telah berkata kepada kami pemimpin para ahli fiqh yaiutu Syafi’i.
  • Sufyan Bin ‘Uyaynah –gurunya Imam Syafi’i- jika ia ditanya tentang tafsir dan rukya, maka iya melirik kepada imam Syafi’i lalu berkata: Tanyalah kalian kepada orang itu.
  • Abdullah –anak imam Ahmad bin Hambal- bertanya kepada ayahnya: Wahai ayahku! Siapa Syafi’i itu? Sungguh aku sering mendengar engkau berdoa untuknya. Imam Ahmad berkata: Wahai Anakku! Imam Syafi’i seperti matahari di dunia ini, obat bagi manusia, tidak akan ada yang dapat menggantikan beliau.
  • Imam Ahamad berkata: Penuntut Ilmu hadist tidak akan pernah kenyang jika membaca karanga-karangan Syafi’i.
  • Ibnu Az-zahabi berkata: Ia adalah Imam, tsiqqah, pakar di bidang hadist dan fiqih.

Karangan Kitab Imam As-Syafi’i.

Menulis buku dan kitab merupakan salah satu kebiasaan para intelektual dari ulama terdahulu. Hal itu dilakukan dalam rangka mewariskan ilmu pengetahuan kepada generasi selanjutnya. Karena itu, hampir semua ulama terdahulu mempunyai karangan termasuk imam Syafi’i Rahimahullah. Di antara karangan Imam syafi’i yang paling dikenal[2]:

  • AL-Risalah kitab pertama yang membahas ushul hadist dan ushul fiqh secara bersamaan, telah dicetak.
  • As-Sunan dengan riwayat Al-Muzanni  sekitar 666 hadist, telah dicetak
  • Ikhtilaf Al-Hadist membahas tentang hadist-hadist yang kelihatan secara zhahirnya kontradiksi, kitab ini disusun sesuai bab-bab fiqh, telah dicetak.
  • Al-Um kitab induk imam syafi’i yang membahas fiqh dan furu’nya, kitab ini telah dicetak.
  • Kitab shifatu Nahyi An-Nabi, telah dicetak .
  • Ahkam Al-Qur’an, telah dicetak.
  • Kitab Musnad As-Syafi’i, dicetak.

Wafatnya Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i Rahimahullah wafat di malam Juma’at setelah Insya, di akhir bulan Rajab, dan dikebumika di hari Jum’at, di tahun 204 H dan beliau tutup usia di umur ke 54.

Baca juga: Kisah Imam Ahmad ketika menghadapi sakratul maut.

Diriwayatkan bahwa sebab meninggalnya Imam syafi’i karena penyakit wasir yang tidak kunjung sembuh. Dikisahkan, jika sang imam menaiki kendaraan darahnya sampai mengalir mengenai celananya. Namun walau begitu beliau dapat menghasilkan beberapa karangan, mengajar, berdialog mengkaji siang dan malam.

Suatu hari muridnya Al-Muzanni menjenguk sang imam yang sedang sakit. Kemudian ia bertanya: Bagaiman kondisi anda wahai imam? Imam Syafi’i menjawab: Aku telah siap meninggalkan dunia ini, dan meninggalakan saudara dan temanku, dan aku akan menjumpai amalan burukku, dan kepada Allah zikirku terus kulantunkan.

Sungguh demi Allah! Aku tak tahu apakah jiwaku akan berjalan menuju surga agar kuucapkan selamat kepadanya, atau ke neraka dan aku berkabung atasnya.

Semoga Allah merahmati Imam Syafi’i, dan mengumpulkan kita bersama para nabi, syuhada, dan orang-orang shaleh    

Sumber Rujukan: Dirangkum dari kitab Siar A’lamin-Nubala’ karangan Imam Az-zahabi (10/5)     


[1] Kitab Ar-Risalah ini bukan Ar-Risalah yang membahas ushul fiqh, tetapi kitab yang ditulis ketika ia masih di Iraq, kemudian ia kirim untuk Abdurrahman Mahdi. (Lihat: Kitab Siyar A’lamin Nubala’: 10/44)

[2] Lihat Kitab Al-A’lam karanga Zarkaliy (6/26)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top