Berobat Dengan Air Kencing, Bolehkah?

Islam adalah satu-satunya agama yang sempurna, semua syariatnya tidak terlepas dari hikmah, sehingga tidak akan menjatuhkan harga diri bagi pemeluknya.

Islam adalah agama yang senantiasa memperhatikan kemaslahatan umat manusia, baik orang muslim maupun orang kafir. Tidak ada pintu kebaikan kecuali sudah ada anjuran untuk memasukinya dan tidak ada pintu keburukan kecuali sudah ada peringatan untuk menjauhinya.

Wajib bagi setiap orang beriman untuk meyakini dengan sepenuh hati atas kebenaran wahyu dari Allah ﷻ; baik tercantum dalam ayat Al-Qur’an maupun hadis shahih yang berasal dari Rasulullah ﷺ. Kapanpun terdapat hadis shahih maka seorang muslim tidak boleh menolak serta berpaling darinya, meskipun belum mampu memahami hikmahnya.

Betapa banyak anjuran dari Rasulullah ﷺ yang mengandung banyak manfaat untuk kehidupan kita di dunia dan akhirat, karena hakikat perkataannya selalu didasari dengan wahyu ilahi.

Sakit merupakan salah satu tabiat manusia yang tidak mungkin terlepas darinya, sehingga mereka membutuhkan penangkal atau obat untuk melawan penyakit tersebut. Allah ﷻ tidak pernah menurunkan suatu penyakit kecuali menurunkan obatnya. Begitu banyak jenis obat yang bersumber dari Rasulullah ﷺ; baik obat secara hissi (bisa dirasakan oleh panca indera) maupun secara maknawi, dan itu semuanya wahyu dari Allah ﷻ.

Diriwayatkan bahwa salah satu obat yang bisa menyembuhkan penyakit adalah air kencing unta, sebagaimana tercantum pada suatu peristiwa di zaman Rasulullah ﷺ yang dikisahkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan,

قَدِمَ أُنَاسٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْنَةَ، فَاجْتَوَوْا المَدِينَةَ فَأَمَرَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، بِلِقَاحٍ، وَأَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا فَانْطَلَقُوا، فَلَمَّا صَحُّوا، قَتَلُوا رَاعِيَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاسْتَاقُوا النَّعَمَ….الحديث

“Ada beberapa orang dari ‘Ukl atau ‘Urainah datang ke kota Madinah, namun mereka tidak tahan terhadap iklim Madinah sehingga merekapun sakit. Lalu Rasulullah ﷺ memerintahkan  mereka untuk mendatangi unta untuk meminum air kencing dan air susunya. Maka merekapun pergi (menuju kandang onta), ketika sudah sembuh, mereka membunuh penggembala unta Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan membawa unta-untanya…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bukankah air kencing najis?

Yah, memang kotoran hewan pada dasarnya  najis, namun hadis ini mengabarkan kepada kita bahwa air kencing unta hukumnya suci menurut sebagian ulama, terkhusus madzhab Hambali.[1]

Bagaimana keabsahan hadis di atas?

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitabnya, dan para ulama telah bersepakat bahwa hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim merupakan tingkat kesahihan paling tinggi, sebagaimana penjelasan Ibnu Shalah rahimahullah.[2]

Apa manfaat air kencing unta?

Sebagaimana yang telah kita sampaikan sebelumnya bahwa anjuran dari Rasulullah ﷺ selalu mengandung kebaikan, karena sumbernya dari Allah ﷻ tuhan semesta alam, yang tentunya Dia lebih mengetahui terhadap ciptaannya.

Para ilmuwan telah melakukan penelitian terhadap air kencing unta, mereka mendapati pada zat tersebut mengandung banyak manfaat. Ibnu sina yang dijadikan sebagai rujukan oleh orang-orang barat dalam dunia kedokteran berpendapat bahwa air kencing unta merupakan air kencing yang paling bermanfaat.[3]

Baca juga: Benarkah Lewatnya Seorang Wanita, Anjing Dan Keledai Dapat Membatalkan Shalat?

Enam belas tahun yang lalu ada dokter wanita yang bernama Ahlam Al-‘Iwadhi, dia melakukan penelitian terhadap air kencing unta, dia mendapatkan bahwa air kencing unta mengandung banyak manfaat, diantaranya; bisa menyembuhkan penyakit kulit, luka, bisul, memanjangkan rambut, mengilaukan dan melebatkannya juga menghilangkan ketombe yang ada di kepalanya, bahhkan bisa menyembuhkan penyakit jantung.[4]

Kesimpulan:

Dari data di atas bisa kita ambil kesimpulan bahwa hadis tentang pengobatan dengan menggunakan air kencing unta adalah hadis shahih, dan cara tersebut telah di akui oleh pakar kedokteran melalui penelitian ilmiyah, tentunya ini merupakan bukti terkuat atas keabsahan ajaran Rasulullah ﷺ.

Wallahu ‘alam.


[1] Zadul Ma’ad juz 4 hal 44.)

[2] Muqaddimah Ibnu Shalah juz 1 hal 97

[3] Al-Qanun Fi Thib juz 1 hal 412.

[4] Islam web dan diambil dari majalah dakwah, 25 Safar tahun 1425 H atau 15 April tahun 2004 M.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top