Cara Benar Memahami Hadist “Setan Terbelunggu”.

Sahabat Pena Muslim! Kita sering mendengar para penceramah menjelaskan, di antara keutaaman bulan Ramadhan adalah setan-setan terbelunggu. Para setan diikat, dikurung, dan dibelunggu sehingga mereka tidak dapat menggoda manusia untuk kemaksiatan.

Tentu saja pernyataan di atas bukan tanpa dasar, pernyataan ini berasal dari sumber yang kuat, yaitu Hadist Nabi Shalallahu ‘Alaihi wasallam, Dari Abi Hurairah, Rasulullah bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ. وفي الرواية: وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِين.  

“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.di Riwayat yang lain: dan setan-setan pun diikat dengan rantai.”

Hadist ini tentu bukan menjadi permasalahn besar bagi orang Islam yang beriman dengan apa yang telah Allah dan Rasulnya kabarkan. Namun, Hal ini menjadi problem besar bagi sebagian orang dalam memahami konteks hadist , karena antara Hadist dan kenyataannya terlihat seakan-akan sangat bertolak belakang.

Maka tidak sedikit orang yang meragukan kevalidan Hadist ini. Mereka bertanya; bagaimana setan bisa dibelunggu, sedangkan masih banyak orang yang melakukan kemaksiatan di bulan Ramadhan?

Tentu penulis tidak mengingkari bahwa maksiat masih berjalan di bulan ramadhan. Namun, ada poin penting yang perlu disadari, bahwa hadist ini menunjukkan keutamaan bulan Ramadhan, yang terkandung di dalamnya kabar Ghaibiah.

seorang Muslim yang cerdas, ketika mendengar berita ghaib selayaknya bersikap menerima dan membenarkannya, dengan mengedepankan keimanan dan kepercayaannya, bukan dengan akal dan pemikiran.

Sebab Iman kepada hal ghaib menjadi syarat fundamental dalam Islam. karena tidak dikatakan ia beriman kecuali denga mengimani hal-hal ghaib, yaitu percaya dengan seyakin-yakinnya bahwa ada entitas yang nyata di luar dunia indrawi, yang tak dapat dijangkau oleh akal dan daya pikir manusia. Jadi hal ghaib ini bagi Islam, bukan ajaran filosofis abstrak ataupun perumpamaan majas.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada beberapa poin besar yang perlu dijelaskan:

1. Kedudukan Hadist dalam pandangan ulama Islam.

2. Pandangan ulama dalam memahami kata “setan dibelunggu”.

3. Faktor- faktor pendorong maksiat pada anak Adam.

Dalam pandangan ulama, Hadist ini tergolong hadist yang shahih, tidak terdapat kecatatan sedikitpun baik dari sanad ataupun dari matannya. Derajat kebenaran hadist ini bisa dikatakan pasti dan bisa dipertanggung-jawabkan secara teoritis ilmiah.

Di tambah lagi, hadist ini telah diriwayatkan dari dua Imam besar; Imam Bukhari dan Muslim, sehingga dapat menambah nilai derajat kebenaran dari hadist ini.

Seluruh ulama muslim telah sepakat bahwa keshahihan hadist-hadist dalam dua kitab ini; Shahih Bukhari dan Muslim adalah pasti, tidak perlu diragukan lagi. Karena dua kitab ini sudah menjadi Ijma’ dari kalangan Ulama dan Umat Muslimin.

Imam Al-Aini berkata: “Dari ujung timur sampai barat, para ulama telah sepakat bahwa tidak ada setelah Al-quran kitab yang lebih Shahih dari pada dua kita ini; Shahih Bukhari dan Muslim[1]”.

Pandangan ulama Dalam Memahami Kata “Setan Dibelunggu”.

Memahami hadist adalah sesuatu pekerjaan yang rumit karena dibutuhkan analisis yang cermat bagaimana bisa memahami makna tekstual dan kontekstual dari hadist tersebut. Karena itu, ketika mengalami kesulitan dalam memahami satu perkara, maka hendaknya ia melihat dan mempelajari dari pemahaman ulama dan pakarnya.

Dalam memahami konteks hadist “setan dibelunggu”, para ulama mempunyai dua pandangan: ada yang memahami hadist ini secara hakikatnya yaitu secara secara tekstual, ada pula yang memahami secara majaz atau kontekstual.

Pemahaman Tekstual.

Bagi ulama yang memahami hadist ini secara tekstual meyakini bahwa para setan memang benar-benar dirantai dibulan ramadhan. Mereka meyakini bahwa yang diikat bukan semua setan, melainkan hanya sebagian setan dari golongan pembesar-pembesarnya, karena itu sebagian setan yang lain masih bisa menggoda manusia untuk kemaksiatan. Pendapat ini dikuatkan oleh hadist nabi,

 Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wasallam bersabda:   

أتاكم شهرُ رمضانَ ، شهرٌ مبارَكٌ ، فرض اللهُ عليكم صيامَه ، تفتحُ فيه أبوابُ الجنَّةِ ، و تُغلَق فيه أبوابُ الجحيم ، وتُغَلُّ فيه مَرَدَةُ الشياطينِ

Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan berkah. Allah mewajibkan berpuasa di dalamnya. Pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dali golongan pembesarnya dibelenggu. (HR.Tirmidzi).

Hadist ini menunjukkan bahwa yang dirantai hanya setan dari golongan pembesarnya saja, bukan semua golongan, sehingga bisa saja sebagian yang lain masih menggoda manusia di bulan Ramadhan, namun kekuatannya tidak sekuat di bulan-bulan yang lain[2].

Pemahaman Kontekstual.

Adapun ulama yang memahami hadist ini secara kontekstual meyakini bahwa hadist ini hanya kiasan, yaitu seakan-akan setan dibelunggu dengan kesibukan kaum muslimin dari puasa dan semangat mereka dalam beribadah, sehingga kemaksiatan terbelunggu karena puasa dan ibadahnya kaum muslimin di bulan Ramadhan.

Artinya seorang muslim jika tidak menyibukkan diri dari ibadah dibulan Ramadhan maka potensi kemaksiatan yang dilakukannya dalam bulan Ramadhan sangat besar.

Sebagian ulama meyakini bahwa dibelenggunya setan adalah simbol dilemahkannya (setan) dalam menggoda  dan menghias syahwat. Artinya hanya kekuatanya saja yang dilemahkan, tetapi ia masih mampu menggoda manusia untuk bermaksiat walaupun pengaruhnya sangat lemah[3].

Menggabungkan Dua Pemahaman.

Jika kita renungkan dan perhatikan dengan baik, walaupun secara zahirnya dua pandangan ini berbeda, namun ada titik temu yang bisa kita simpulkan, Yaitu keduanya meyakini bahwa potensi maksiat tetap berjalan dan akan terus ada, namun kemaksiatan yang ada di bulan Ramadhan lebih sedikit, jika dibandingkan dari bulan-bulan lain.

Dan ini sesuai dengan realita terjadi, disadari atau tidak, ntah kenapa apabila Ramadhan tiba, jiwa seorang muslim akan merasa lebih condong pada kebaikan dan berbuat amalan shalih.

Faktor Penyebab Terjadinya Maksiat Pada Manusia.

Perlu digaris bawahi bahwa faktor penyebab terjadi maksiat pada manusia bukan hanya karena godaan setan. Banyak faktor lain yang dapat mendorong manusia untuk bermaksiat, diantaranya ada 3 faktor terbesar:

Nafsu dan Syahwat Manusia Sendiri.

Di antara faktor terbesar seseorang jatuh kedalam maksiat adalah karena adanya dorongan syahwat yang sulit dikendalikan.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي

karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. (Yusuf: 53)

Ayat ini menunjukkan bahwa hawa nafsu manusia selalu memerintahkan untuk berbuat keburukan, karena kecondongan untuk memenuhi syahwat, yang sangat sulit untuk ditundukkan, Kecuali nafsu-nafsu yang dirahmati oleh Allah, sehingga terlindung dari kebiasaan berbuat buruk.

Kurangnya Ilmu.

Kebodohan adalah sumber utama seseorang jatuh kedalam maksiat. Allah Ta’ala berfirman:


إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kebodohan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera…” (An Nisa: 17)

Ayat ini menunjukkan bahwa kemaksiatan yang dilakukan manusia bisa didasari karena ketidaktahuan mereka terhadap akibatnya dan keburukan bagi dunia dan akhiratnya.

Lingkungan Dan Teman Yang Buruk.

Di antara faktor penting yang membuat manusia tergilincir dalam bermaksiat adalah faktor lingkungan. Tidak dapat dipungkiri bahwa teman dan lingkungan sangat berpengaruh besar dalam membentuk karakter dan kebiasaan seseorang.

Jika baik lingkungannya maka baiklah budi pekertinya. Sebaliknya, jika buruk teman dan lingkungannya maka buruklah tingkah lakunya. Berteman dengan orang shaleh membantu kita untuk berbuat shaleh. Begitu juga berteman dengan ahli maksiat, maka ia juga akan mendorong kita dalam kemaksiatan.

Karena itu Rasulullah mengumpamakan berteman dengan orang baik seperti duduk dengan penjual minyak wangi karena penjual minyak wangi tidak merugikan orang sekitarnya, malah ia akan kecipratan harumnya dari minyak wangi yang dijual. Sedangkan teman yang jahat bagaikan tukang besi, jika tidak badan atau pakaiannya hangus terbakar, minimal dia mendapat bau yang tidak sedap.

Kesimpulan.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada sedikitpun kontradiksi antara konteks hadist dengan realita terjadi, karena berjalannya kemaksiatan dalam bulan Ramadhan, sebab adanya faktor lain yang mendorong seseorang melakukan maksiat.

Lagipula hadist ini bukan menunjukkan bahwa maksiat akan hilang dalam di bulan Ramadhan, namun hanya menunjukkan bahwa potensi seorang muslim untuk bermaksiat di bulan Ramadhan lebih sedikit, dan berkurang di bandingkan dengan bulan yang lain.

Imam As-sindi berkata: “Dibelunggunya setan tidak serta merta dapat menghilangkan maksiat terjadi, karena maksiat juga bisa datang dari hawa nafsu, bukan hanya dari setan, sebagaimana maksiatnya iblis (yang ia lakukan karena dirinya sendiri bukan disebabkan godaan setan yang lain[4]”.  

Semoga Allah memberi taufik kepada semuanya.

Baca Juga: Keutamaan Dan Kemuliaan Syari’at Puasa.


[1] Umdatul Qari: 1/5.

[2] Lihat: Fathul Bari: 4/114.

[3] Lihat: Fathul Bari: 4/114.

[4] Lihat: Hasyiah sunan Ibnu Majah: 1/503.

1 Reply to “Cara Benar Memahami Hadist “Setan Terbelunggu”.”

  1. Syawal berkata:

    Baarakallahu fiik ya akhil habib..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top