Catatan Penting Penuntut Ilmu. #02

Menuntut ilmu termasuk salah satu ritual ibadah yang mulia, bahkan ibadah paling utama dari pada yang lain; karena dengan ilmu tersebut ibadah seorang akan semakin bernilai.

Dengan statusnya sebagai ibadah, maka seseorang dituntut untuk ikhlas di dalamnya; karena ikhlas adalah modal utama diterimanya amalan disisi Allah.

Allah berfirman,

وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤء

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah:5).

Kita bisa menyaksikan ulama terdahulu yang telah meraih kesuksesan, jika kita telusuri riwayat hidup mereka maka kita dapati bahwa sebab utama yang mengantarkan kepada kesuksesan adalah keikhlasan dalam hati mereka.

Imam Ahmad pernah ditanya tentang masalah ikhlas, beliaupun berkata,

بِهذَا ارْتَفَعَ القَوْمُ

“Dengan inilah (ikhlas) suatu kaum terangkat derajatnya.”

Sesungguhnya orang itu akan meraih ilmu sesuai dengan kadar keikhlasannya, semakin tinggi ikhlasnya maka semakin besar peluang meraih ilmu, dan begitu juga sebaliknya.

Para Ulama terdahulu sangat khawatir kehilangan ikhlas saat menuntut ilmu. Sehingga mereka keberatan untuk mengklaim dirinya telah ikhlas, meskipun sejatinya mereka telah mewujudkannya.

Imam Ahmad pernah ditanya, “Apakah anda menuntut ilmu karena Allah?.”
Beliau menjawab, “Karena Allah? Itu sesuatu yang agung, namun aku mencintainya, sehingga akupun berusaha untuk meraihnya.”

Banyak macam niat yang bisa menjadikan pelakunya meraih ikhlas, namun itu semua cabang dari empat hal:

  1. Mengangkat kebodohan dari dirinya.
    Dengan belajar seseorang akan mengetahui kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepadanya, sehingga dia akan menunaikan hak Allah dengan maksimal.
  2. Mengangkat kebodohan dari orang lain.
    Dengan cara berdakwah, mengajarkan mereka tentang syari’at Allah dan menasehati mereka untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya, di dunia maupun akhirat.
  3. Melestarikan ilmu.
    Jika tidak ada kaum muslimin yang mendalami ilmu Syariat Islam, maka tidak menutup kemungkinan bahwa syariat ini akan punah. Tidak jarang kita dapati sebagian saudara kita mencela saudara yang lain hanya karena sikap yang dianggap asing, padahal sikap tersebut termasuk bagian dari ajaran Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam.
  4. Beramal diatas ilmu.
    Dalam beribadah seseorang dituntut juga untuk mencontoh tata cara ibadah Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam. Tentunya menuntut ilmu itu jembatan bagi seseorang untuk mengetahui tata cara ibadah Rasulullah
    shalallahu alaihi wasallam, sehingga ibadahnya didasari dengan ilmu, bukan hawa nafsu.

Ikhlas itu memang berat untuk dilakukan, tapi kita harus berusaha meraihnya. Satu amalan saja yang kita lakukan mungkin membutuhkan niat berkali-kali.

Imam Sufyan Tsauri berkata, “Tidak ada yang lebih berat untuk aku obati dari pada niatku; karena ia berbolak-balik pada diriku.”

Oleh karenanya, barangsiapa yang menginginkan kesuksesan hendaknya dia selalu mengoreksi niatnya dan bersegera untuk memperbaharuinya; karena seseorang akan meraih ilmu sesuai dengan kadar keikhlasannya.

Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita.

__
Faedah kitab Ta’dzimul Ilmi, karya Syeikh Shalih Al-Ushaimi Hafidzahullah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top