Catatan Penting Penuntut Ilmu. #03

Tekad kuat merupakan unsur utama yang harus ada pada jiwa penuntut ilmu, sehingga dengannya dia akan bersungguh-sungguh dalam proses meraih ilmu.

Imam Al-Junaid rahimahullah berkata, “Tidaklah seseorang mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh serta jujur kecuali ia akan meraihnya. Jikalau tidak mendapatkan seluruhnya maka ia akan mendapatkan sebagiannya.”

Tekad kuat sangatlah penting untuk mewujudkan cita-cita seseorang.

Bagaimana caranya agar jiwa kita memiliki tekad kuat?

Secara umum, tekad kuat bisa diraih dengan tiga perkara:

  1. Bersemangat melakukan hal-hal yang bermanfaat.
  2. Berdoa kepada Allah.
  3. Tidak pesimis dalam meraih cita-cita.

Ini sesuai dengan pesan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُك وَاسْتَعِنْ بِاللّٰه وَلَا تَعْجِزْ

“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah dan janganlah kamu merasa lemah.” (HR. Muslim).

Salah satu perkara yang bisa membuat seorang penuntut ilmu lebih bersemangat adalah dengan cara membaca biografi para ulama terdahulu; karena mereka telah melewati langkah demi langkah sehingga mencapai titik kesuksesan.

Imam Ahmad rahimahullah tatkala beliau masih di usia anak-anak ketika hendak berangkat ke halaqah para Masyayikh, maka beliau pergi sebelum masuk waktu subuh. Sehingga pada suatu hari ibunya melarang beliau, dan menyuruh agar pergi setelah adzan dikumandangkan; yah begitulah seorang ibu, tentunya khawatir akan terjadi apa-apa terhadap anaknya.

Imam Khatib Al-Baghdadi rahimahullah membaca kitab Shahih Bukhari kepada gurunya Syeikh Ismail Al-Hiri rahimahullah dalam tiga pertemuan saja. Pertemuan pertama dan kedua dimulai setelah Maghrib sampai menjelang shalat Subuh. Sedangkan pertemuan ketiganya dimulai dari waktu Dhuha sampai masuk waktu Subuh. Semoga Allah merahmatinya.

Ibnu At-Tabban rahimahullah selalu menghabiskan malam harinya untuk belajar. Sampai ibunya tidak tega melihatnya, sehingga beliaupun dilarang oleh ibunya, tentunya karena dorongan kasih sayang seorang ibu. Untuk menenangkan hati ibunya, akhirnya beliau berpura-pura tidur diatas ranjang dan menyimpan damar atau penerangnya dibawah bejana. Jika beliau mendapati ibunya sudah menikmati tidurnya, maka dia bergegas mengambil penerang tersebut serta melanjutkan aktifitas belajarnya.

Lihat bagaimana semangatnya para ulama terdahulu. Nampak sekali kepribadian mereka yang sangat mulia. Tidak pernah pesimis dalam meraih keinginannya.

Alangkah indahnya nasehat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, “Jadilah engkau seseorang yang menapakkan kakinya diatas muka bumi ini, sedangkan cita-citamu engkau gantungkan di bintang Tsuraya.”

Iya, bercita-cita lah setinggi langit; karena jika anda tidak bisa meraihnya maka minimal anda akan meraih sesuatu yang tidak jauh dari itu.

Setelah anda merasakan tekad kuat menyelimuti jiwa anda, maka alihkanlah tekad tersebut kepada ilmu yang sumbernya adalah Al-Qur’an dan Sunnah; karena semua ilmu yang bermanfaat pasti bersumber dari firman Allah dan hadis Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam.

Adapun ilmu yang tidak berkaitan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, maka bukan aib jika anda tidak mengetahuinya. Masih banyak penuntut ilmu di zaman sekarang yang menjadikan Ilmu Mantiq dan Falsafat sebagai pijakan pertama dalam belajar. Tentunya metode ini kurang tepat; karena ilmunya para Ulama terdahulu senantiasa ada kaitannya dengan Al-Qur’an dan Sunnah, sehingga ilmu mereka sangatlah banyak. Tidak seperti orang-orang di zaman sekarang, omongannya banyak namun ilmunya sangatlah sedikit.


Faedah Syeikh Shalih Al-Ushaimi Hafidzahullah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top