Panduan Belajar Penuntut Ilmu. #03

Pada tulisan ini kita akan melanjutkan pembahasan selanjutnya, yaitu panduan belajar bagi penuntut ilmu yang merupakan intisari dari kitab “Ta’dzimul Ilmi” karya Syeikh Shalih Al-Ushaimi Hafidzahullah.

Konsisten dengan akhlak mulia.

Ibnu Qayyim berkata, “Baiknya akhlak seseorang adalah tanda kebahagiaan dan kesuksesannya, sedangkan buruknya akhlak seseorang adalah tanda kebinasaan dan kegagalannya. Tidak ada yang lebih mendatangkan kebaikan dunia akhirat dibandingkan akhlak mulia, dan tidak ada yang lebih menghalangi kebaikan dunia akhirat dari pada minimnya akhlak.”

والمرء لا يسمو بغير الأدب
وإن يكن ذا حسب ونسب

“Seseorang tidak naik derajatnya tanpa akhlak mulia. Meskipun dia memiliki kedudukan dan nasab yang baik.”

Yusuf bin Husain berkata, “Dengan akhlaklah anda bisa memahami ilmu.”

Ya, karena orang yang berakhlak mulia sangat pantas untuk meraih ilmu, sehingga ustadznya akan mengajarinya dengan maksimal. Berbeda halnya dengan orang yang berakhlak buruk, tentu ustadznya juga malas untuk mengajarinya.

Dari sinilah para salaf terdahulu sangat memperhatikan belajar Akhlak, dan mereka selalu menampakkan bahwa dirinya sangat butuh terhadap akhlak, sehingga mereka pun saling menasehati untuk berakhlak mulia.

Imam Malik berkata, “Ibuku pernah memakaikan imamah (sorban) kepadaku seraya berkata, “Pergilah ke Rabiah (Seorang Faqih di Madinah), belajarlah dari Akhlaknya sebelum belajar dari ilmunya.”

Imam Laits bin Sa’ad ketika mendapati hal yang kurang disukai dari para penuntut ilmu, beliau berkata, “Apa ini?! Kalian lebih butuh kepada sedikitnya akhlak dari pada banyaknya ilmu.”

Kejadian tersebut pada zaman beliau, lalu bagaimana jika beliau melihat keadaan penuntut ilmu di zaman sekarang?

Makanya tidak heran jika sedikit sekali kita mendapatkan orang yang benar-benar menjadi ulama dizaman sekarang, dan sebab utamanya adalah sikap mereka yang selalu menyepelekan akhlak.

Menjaga muruah.

Menjaga muruah artinya seorang penuntut ilmu harus menghiasi dirinya dengan sikap-sikap yang menambah wibawa pada dirinya serta menjauhi perbuatan yang bisa menjatuhkan kehormatan dan harga dirinya.

Karena jika tidak menjaga ilmunya dari perbuatan tersebut maka ilmu itu tidak akan menjaganya, sehingga tidak lama kemudian akan pergi meninggalkannya.

Sufyan bin Uyainah pernah ditanya, “Anda telah mengambil hukum segala sesuatu dari Al-Qur’an, mana (Ayat yang memerintahkan untuk menjaga) Muru’ah?” Beliau menjawab, “firman Allah Ta’ala,

خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf:199).

Dalam ayat ini jelas sekali mengandung perintah untuk berakhlak mulia dan menjaga Muru’ah. Dan ini terbukti jika seorang penuntut ilmu melayani orang-orang bodoh maka ketika itu wibawanya akan turun.

Diantara perbuatan yang bisa merendahkan wibawa adalah cukur jenggot, memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri ketika berjalan, menjulurkan kakinya ketika sedang berkumpul tanpa adanya sebab syar’i, bersandar di majlis ilmu dan berteman dengan orang-orang fasiq.

Teman yang baik.

Teman merupakan kebutuhan primer dalam kehidupan manusia; karena tabiat manusia tidak bisa hidup sendirian, tapi saling membutuhkan. Terlebih lagi penuntut ilmu, dia sangat membutuhkan teman yang baik agar bisa membantunya untuk meraih kesuksesan. Tanpa adanya teman, akan lebih terasa berat untuk melawan rintangan dalam proses belajar.

Berbeda ketika anda memiliki teman yang baik, maka anda bisa belajar, menghafal dan murajaah bersamanya. Jika datang saat lalai atau futur maka dia akan mengingatkan anda.

Seorang teman sangat berpengaruh pada kepribadian seseorang. Betapa banyak orang sukses dikarenakan teman yang baik. Begitu juga sebaliknya, banyak orang gagal sebab teman yang buruk.

Ada pepatah Arab,

الصاحب ساحب

“Teman itu bisa menyeret.”

Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُر أَحَدُكُم مَنْ يُخَالِل

“Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah seseorang dari kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud).

Bahkan pengaruh teman bukan hanya dari perkataan dan perbuatannya, namun melihatnya saja bisa memengaruhi kita. Makanya kita akan lebih bersemangat ketika melihat teman kita bersemangat dalam belajar.

Seseorang memilih teman dengan motif yang berbeda-beda:

a. Memilih teman karena keutamaannya.
Seperti sifat rajin, akhlak mulia dan bersungguh-sungguh dalam belajar.

b. Memilih teman karena manfaat duniawi.
Seperti suka mentraktir dan memiliki jabatan.

c. Memilih teman karena untuk kesenangan.
Seperti suka melawak.

Dari tiga tipe diatas, pilihlah teman karena keutamaannya.

Syeikh Muhammad Al-Khadhir berkata, “Pilihlah teman yang memiliki keutamaan, karena dengannya anda akan diketahui.”

Dan ini terbukti, bukankah seorang supir menjadi mulia jika dia supir pribadinya seorang ulama?.

Dan sebaliknya, kita juga harus menjauhi orang-orang bodoh yang tidak pernah memperhatikan sikapnya, seperti tukang ghibah, namimah dan mencela; karena itu bisa mengantarkan kepada kegagalan di masa depan.

Bertanya, Menghafal dan Mudzakarah.

Dengan tiga hal tersebut, Ilmu yang didapatkan dari gurunya akan lebih bermanfaat bagi pemiliknya.

Apalah artinya, belajar bertahun-tahun namun tidak ada yang teringat dalam pikirannya. Seakan-akan sama kepadanya dengan orang yang tidak belajar, sungguh sangat merugi.

Bertanya sangatlah penting; karena dengan bertanya pintu gudang ilmu akan terbuka.

Imam Zuhri berkata,

“Sesungguhnya ilmu ini bagaikan Lemari, dan dibuka oleh pertanyaan.”

Menghafal juga demikian, sangat penting dalam kepribadian penuntut ilmu.

Makanya para ulama menyarankan murid-muridnya untuk banyak mengahafal, mereka juga menampakkan manfaat dari hafalannya.

Ubaidillah bin Husain berkata, “Saya mendapati bahwa ilmu yang paling bermanfaat adalah ilmu yang saya fahami dan digerakkan oleh lisanku (dihafal).”

Syeikh Utsaimin berkata, “Kita menghafal sedikit dan membaca banyak, dan kita mengambil manfaat dari apa yang dihafal lebih banyak dari pada yang dibaca.”

Khalil bin Ahmad berkata, “Ilmu itu bukan apa yang ada dalam tas. Bukanlah ilmu kecuali apa yang ada dalam dada.”

Yang ketiga adalah mudzakarah. Artinya belajar bersama teman-teman. Dan mudzakarah sangatlah penting bagi penuntut ilmu, karena dengannya ilmu akan semakin hidup dan melekat dalam dirinya.

Sangat disayangkan metode ini seakan-akan sudah lenyap dikalangan para penuntut ilmu, padahal para ulama terdahulu selalu mudzakarah bersama teman-temannya, sehingga mereka menjadi orang yang kita kenal sekarang.

Tiga perkara diatas ibarat sebuah pohon. Harus ditanam terlebih dahulu, lalu disirami kemudian dikembangkan. Menghafal ibarat sedang menanam, mudzakarah ibarat menyirami, dan bertanya ibarat mengembangkannya.

Semoga bermanfaat.

Baca Juga: Panduan Belajar Penuntut Ilmu 04


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top