Catatan Penting Penuntut Ilmu. #04

Banyak diantara kita yang sudah menghabiskan umurnya di dalam dunia pendidikan, namun sayang, ilmu yang diperoleh masih jauh dari kata sempurna.

Tidak semua orang yang memiliki semangat dalam belajar akan selalu memperoleh hasil yang sempurna; karena belajar itu tidak cukup dengan modal semangat saja, namun harus disertai dengan metode yang benar.

Setiap tujuan pasti memiliki jalan yang dapat mengantarkan kepada tujuan tersebut. Seorang yang bercita-cita menjadi pengusaha sebaiknya dia berjalan diatas jalanya para pengusaha yang sukses. Begitu juga penuntut ilmu, jika ingin berhasil maka hendaknya mengikuti jalannya para ulama yang sudah sukses.

Orang yang menempuh jalan yang benar, pasti dia akan sampai kepada tujuannya, cepat atau lambat. Sebaliknya, orang yang berpaling dari jalan yang benar maka dia tak akan mewujudkan cita-citanya.

Ilmu itu memiliki jalan khusus yang hanya dilewati oleh para penuntut ilmu. Barangsiapa yang salah memilih jalan maka dia akan tersesat dan tidak akan memperoleh ilmu tersebut. Meskipun mendapatkan ilmu, tapi tidak akan sebanding dengan usaha yang dikerahkan.

Bagaimana metode yang benar?

Syeikh Shalih Al-Ushaimi Hafidzahullah menyebutkan bahwa menuntut ilmu yang benar harus melewati dua hal:

Pertama:
Belajar dari seorang Alim dan Nashih.

Alim artinya memiliki ilmu. Dan itu bisa diketahui dengan memperhatikan biografi hidupnya. Apakah dia pernah melakukan rihlah Ilmiyah? Belajar dimana? Berguru kepada siapa? dst.

Inilah pesan Baginda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam,

تَسْمَعُونَ وَيُسْمَعُ مِنْكُمْ وَيُسْمَعُ مِمَّنْ سَمِعَ مِنْكُمْ

“Kalian mendengarkan dan akan didengar dari kalian, dan akan didengar dari orang yang mendengar dari kalian.” (HR. Abu Daud).

Sifat kedua adalah Nashih, artinya memiliki kepribadian yang bisa menjadi teladan bagi murid-muridnya serta memiliki metode pembelajaran yang ideal, sehingga dia akan memberikan ilmu pengetahuan sesuai level muridnya.

Kedua:
Menghafal Matan.

Seorang penuntut ilmu harus menghafal Matan yang menjadi patokan dalam ilmu tersebut. Misal dia belajar Fikih Syafi’i, maka dia harus menghafal Matan Abu Syujak. Jika belajar Ushul Fiqh maka dia harus menghafal matan Al-Waraqat, dst.

Jangan sampai berkecukupan dengan pemahaman kitab, yang penting faham, jangan! Syeikh Shalih Al-Ushaimi Hafidzahullah berkata, “Barangsiapa yang menginginkan ilmu tanpa menghafal, maka sejatinya dia sedang menginginkan perkara yang mustahil.”

Ilmu itu luas. Seandainya ribuan tahun kita duduk di majlis ilmu, maka kita tidak akan sanggup untuk meraih semuanya.

Oleh karenanya, seorang berakal akan mendahulukan yang terpenting dari yang penting. Perlu diketahui bahwa Matan itu merupakan kitab kecil yang merangkum point-point penting atau intisari pada ilmu tersebut, sehingga jika anda dapat memahami serta menghafal sebuah matan maka sungguh ilmu yang anda dapatkan sangatlah banyak.

Dan jangan lupa, teruslah berdoa kepada Allah, karena ilmu merupakan anugerah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Semoga bermanfaat.


Faedah Kitab Ta’dzimul Ilmi karya Syaikh Shalih Al-Ushaimi Hafidzahullah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top