Panduan Belajar Penuntut Ilmu. #01

Seorang penuntut ilmu bagaikan musafir yang sedang mencari tempat tujuannya. Jika seorang musafir membutuhkan peta maka penuntut ilmu membutuhkan buku panduan, tentunya agar tidak tersesat di jalan sehingga sampai kepada tujuannya.

Maka tidak heran jika banyak ulama menulis buku panduan untuk penuntut ilmu, baik ulama terdahulu maupun ulama zaman ini. Diantara kitab kontemporer dalam masalah ini adalah kitab berjudul “Ta’dzimul Ilmi” karya Syaikh Shalih Al-Ushaimi Hafidzahullah. Dan kitab tersebut sangat bagus, sehingga banyak para penuntut ilmu yang mengambil faedah darinya.

Maka dari situlah penulis termotivasi untuk menyampaikan intisari dari kitab tersebut, dengan harapan semoga para penuntut ilmu di zaman sekarang dapat meraih kesuksesan dalam belajar.

Langsung saja kita membahas satu persatu point yang disampaikan oleh Syekh Shalih Al-Ushaimi Hafidzahullah.

Membersihkan Hati.

Ketika seseorang ingin mendapatkan air hujan maka tentunya dia akan mengambil wadah terlebih dahulu serta memastikan keadaannya, jika didalamnya terdapat kotoran maka dia akan membersihkannya agar air yang masuk bisa dimanfaatkan.

Begitu juga dengan Ilmu, sebelum anda belajar hendaknya persiapkan dulu wadahnya; karena ilmu itu layaknya permata indah yang tidak mau singgah kecuali di tempat yang bersih.

Ketika wadahnya air adalah Ember, maka wadahnya ilmu adalah Hati. Lihatlah bagaimana keadaan hati Anda, bersihkanlah dari hal-hal yang menodainya, karena semakin hati bersih maka akan semakin besar peluang untuk menerima Ilmu.

Oleh karenanya, barangsiapa yang ingin meraih ilmu maka dia harus memperhatikan kesucian hati dan menghiasinya dengan perkara yang dicintai Allah.

Betapa banyak macam-macam kotoran hati, baik dari jenis Syubhat maupun Syahwat. Hendaknya penuntut ilmu menjaga dirinya dari hal itu; karena ilmu tidak akan masuk ke dalam hati jika masih menyimpan hal-hal yang dibenci oleh Allah.

Sahl bin Abdillah rahimakumullah berkata, “Haram bagi hati untuk kemasukan cahaya (ilmu) ketika masih menyimpan sesuatu yang dibenci oleh Allah.”

Baca juga: Carilah teman yang shalih

Jika anda malu dilihat orang lain saat bajumu kotor, maka hendaknya anda malu ketika Allah melihatmu saat hatimu kotor, bukankah Allah menilai seorang hamba dari hatinya?

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim).

2. Ikhlas.

Menuntut ilmu termasuk salah satu ritual ibadah yang mulia, bahkan ibadah paling utama dari pada yang lain; karena dengan ilmu tersebut ibadah seorang akan semakin bernilai.

Dengan statusnya sebagai ibadah, maka seseorang dituntut untuk ikhlas di dalamnya; karena ikhlas adalah modal utama diterimanya amalan disisi Allah. Allah berfirman,

وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤء

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah:5).

Kita bisa menyaksikan ulama terdahulu yang telah meraih kesuksesan, jika kita telusuri riwayat hidup mereka maka kita dapati bahwa sebab utama yang mengantarkan kepada kesuksesan adalah keikhlasan dalam hati mereka.

Imam Ahmad pernah ditanya tentang masalah ikhlas, beliaupun berkata,

بِهذَا ارْتَفَعَ القَوْمُ

“Dengan inilah (ikhlas) suatu kaum terangkat derajatnya.”

Sesungguhnya orang itu akan meraih ilmu sesuai dengan kadar keikhlasannya, semakin tinggi ikhlasnya maka semakin besar peluang meraih ilmu, dan begitu juga sebaliknya.

Para Ulama terdahulu sangat khawatir kehilangan ikhlas saat menuntut ilmu. Sehingga mereka keberatan untuk mengklaim dirinya telah ikhlas, meskipun sejatinya mereka telah mewujudkannya.

Imam Ahmad pernah ditanya, “Apakah anda menuntut ilmu karena Allah?.” Beliau menjawab, “Karena Allah? Itu sesuatu yang agung, namun aku mencintainya, sehingga akupun berusaha untuk meraihnya.”

Banyak macam niat yang bisa menjadikan pelakunya meraih ikhlas, namun itu semua berasal dari empat hal:

  1. Mengangkat kebodohan dari dirinya. Dengan belajar seseorang akan mengetahui kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepadanya, sehingga dia akan menunaikan hak Allah dengan maksimal.
  2. Mengangkat kebodohan dari orang lain. Dengan cara berdakwah, mengajarkan mereka tentang syari’at Allah dan menasehati mereka untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya, di dunia maupun akhirat.
  3. Melestarikan ilmu.
    Jika tidak ada kaum muslimin yang mendalami ilmu Syariat Islam, maka tidak menutup kemungkinan bahwa syariat ini akan punah. Tidak jarang kita dapati sebagian saudara kita mencela saudara yang lain hanya karena sikap yang dianggap asing, padahal sikap tersebut termasuk bagian dari ajaran Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam.
  1. Beramal diatas ilmu.
    Dalam beribadah seseorang dituntut untuk mencontoh tata cara ibadah Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam. Dan tentunya menuntut ilmu itu jembatan bagi seseorang untuk mengetahui tata cara ibadah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, sehingga ibadahnya didasari dengan ilmu, bukan hawa nafsu.

Ikhlas itu memang berat untuk dilakukan, tapi kita harus berusaha meraihnya. Satu amalan saja yang kita lakukan mungkin membutuhkan niat berkali-kali.

Imam Sufyan Tsauri berkata, “Tidak ada yang lebih berat untuk aku obati dari pada niatku; karena ia berbolak-balik pada diriku.”

Oleh karenanya, barangsiapa yang menginginkan kesuksesan hendaknya dia selalu mengoreksi niatnya dan bersegera untuk memperbaharuinya; karena seseorang akan meraih ilmu sesuai dengan kadar keikhlasannya.

3. Tekad Kuat.

Tekad kuat merupakan unsur utama yang harus ada pada jiwa penuntut ilmu, sehingga dengannya dia akan bersungguh-sungguh dalam proses meraih ilmu.

Imam Al-Junaid rahimahullah berkata, “Tidaklah seseorang mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh serta jujur kecuali ia akan meraihnya. Jikalau tidak mendapatkan seluruhnya maka ia akan mendapatkan sebagiannya.”

Tekad kuat sangatlah penting untuk mewujudkan cita-cita seseorang.

Bagaimana caranya agar jiwa kita memiliki tekad kuat?

Secara umum, tekad kuat bisa diraih dengan tiga perkara:

  1. Bersemangat melakukan hal-hal yang bermanfaat.
  2. Berdoa kepada Allah.
  3. Tidak pesimis dalam meraih cita-cita.

Ini sesuai dengan pesan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُك وَاسْتَعِنْ بِاللّٰه وَلَا تَعْجِزْ

“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah dan janganlah kamu merasa lemah.” (HR. Muslim).

Salah satu perkara yang bisa membuat seorang penuntut ilmu lebih bersemangat adalah dengan cara membaca biografi para ulama terdahulu; karena mereka telah melewati langkah demi langkah sehingga mencapai titik kesuksesan.

Imam Ahmad rahimahullah tatkala beliau masih di usia anak-anak ketika hendak berangkat ke halaqah para Masyayikh, maka beliau pergi sebelum masuk waktu subuh. Sehingga pada suatu hari ibunya melarang beliau, dan menyuruh agar pergi setelah adzan dikumandangkan; yah begitulah seorang ibu, tentunya khawatir akan terjadi apa-apa terhadap anaknya.

Imam Khatib Al-Baghdadi rahimahullah membaca kitab Shahih Bukhari kepada gurunya Syeikh Ismail Al-Hiri rahimahullah dalam tiga pertemuan saja. Pertemuan pertama dan kedua dimulai setelah Maghrib sampai menjelang shalat Subuh. Sedangkan pertemuan ketiganya dimulai dari waktu Dhuha sampai masuk waktu Subuh. Semoga Allah merahmatinya.

Ibnu At-Tabban rahimahullah selalu menghabiskan malam harinya untuk belajar. Sampai ibunya tidak tega melihatnya, sehingga beliaupun dilarang oleh ibunya, tentunya karena dorongan kasih sayang seorang ibu. Untuk menenangkan hati ibunya, akhirnya beliau berpura-pura tidur diatas ranjang dan menyimpan damar atau penerangnya dibawah bejana. Jika beliau mendapati ibunya sudah menikmati tidurnya, maka dia bergegas mengambil penerang tersebut serta melanjutkan aktifitas belajarnya.

Lihat bagaimana semangatnya para ulama terdahulu. Nampak sekali kepribadian mereka yang sangat mulia. Tidak pernah pesimis dalam meraih keinginannya.

Alangkah indahnya nasehat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, “Jadilah engkau seseorang yang menapakkan kakinya diatas muka bumi ini, sedangkan cita-citamu engkau gantungkan di bintang Tsuraya.”

Iya, bercita-cita lah setinggi langit; karena jika anda tidak bisa meraihnya maka minimal anda akan meraih sesuatu yang tidak jauh dari itu.

Setelah anda merasakan tekad kuat menyelimuti jiwa anda, maka alihkanlah tekad tersebut kepada ilmu yang sumbernya adalah Al-Qur’an dan Sunnah; karena semua ilmu yang bermanfaat pasti bersumber dari firman Allah dan hadis Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam.

Adapun ilmu yang tidak berkaitan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, maka bukan aib jika anda tidak mengetahuinya. Masih banyak penuntut ilmu di zaman sekarang yang menjadikan Ilmu Mantiq dan Falsafat sebagai pijakan pertama dalam belajar. Tentunya metode ini kurang tepat; karena ilmunya para Ulama terdahulu senantiasa ada kaitannya dengan Al-Qur’an dan Sunnah, sehingga ilmu mereka sangatlah banyak. Tidak seperti orang-orang di zaman sekarang, omongannya banyak namun ilmunya sangatlah sedikit.

4. Mengikuti Jalannya Para Ulama.

Banyak diantara kita yang sudah menghabiskan umurnya di dalam dunia pendidikan, namun sayang, ilmu yang diperoleh masih jauh dari kata sempurna.

Tidak semua orang yang memiliki semangat dalam belajar akan selalu memperoleh hasil yang sempurna; karena belajar itu tidak cukup dengan modal semangat saja, namun harus disertai dengan metode yang benar.

Setiap tujuan pasti memiliki jalan yang dapat mengantarkan kepada tujuan tersebut. Seorang yang bercita-cita menjadi pengusaha sebaiknya dia berjalan diatas jalanya para pengusaha yang sukses. Begitu juga penuntut ilmu, jika ingin berhasil maka hendaknya mengikuti jalannya para ulama yang sudah sukses.

Orang yang menempuh jalan yang benar, pasti dia akan sampai kepada tujuannya, cepat atau lambat. Sebaliknya, orang yang berpaling dari jalan yang benar maka dia tak akan mewujudkan cita-citanya.

Ilmu itu memiliki jalan khusus yang hanya dilewati oleh para penuntut ilmu. Barangsiapa yang salah memilih jalan maka dia akan tersesat dan tidak akan memperoleh ilmu tersebut. Meskipun mendapatkan ilmu, tapi tidak akan sebanding dengan usaha yang dikerahkan.

Bagaimana metode yang benar?

Syeikh Shalih Al-Ushaimi Hafidzahullah menyebutkan bahwa menuntut ilmu yang benar harus melewati dua hal:

Pertama:
Belajar dari seorang Alim dan Nashih.

Alim artinya memiliki ilmu. Dan itu bisa diketahui dengan memperhatikan biografi hidupnya. Apakah dia pernah melakukan rihlah Ilmiyah? Belajar dimana? Berguru kepada siapa? dst.

Inilah pesan Baginda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam,

تَسْمَعُونَ وَيُسْمَعُ مِنْكُمْ وَيُسْمَعُ مِمَّنْ سَمِعَ مِنْكُمْ

“Kalian mendengarkan dan akan didengar dari kalian, dan akan didengar dari orang yang mendengar dari kalian.” (HR. Abu Daud).

Sifat kedua adalah Nashih, artinya memiliki kepribadian yang bisa menjadi teladan bagi murid-muridnya serta memiliki metode pembelajaran yang ideal, sehingga dia akan memberikan ilmu pengetahuan sesuai level muridnya.

Kedua:
Menghafal Matan.

Seorang penuntut ilmu harus menghafal Matan yang menjadi patokan dalam ilmu tersebut. Misal dia belajar Fikih Syafi’i, maka dia harus menghafal Matan Abu Syujak. Jika belajar Ushul Fiqh maka dia harus menghafal matan Al-Waraqat, dst.

Jangan sampai berkecukupan dengan pemahaman kitab, yang penting faham, jangan! Syeikh Shalih Al-Ushaimi Hafidzahullah berkata, “Barangsiapa yang menginginkan ilmu tanpa menghafal, maka sejatinya dia sedang menginginkan perkara yang mustahil.”

Ilmu itu luas. Seandainya ribuan tahun kita duduk di majlis ilmu, maka kita tidak akan sanggup untuk meraih semuanya.

Oleh karenanya, seorang berakal akan yang terpenting dari yang penting. Perlu diketahui bahwa Matan itu merupakan kitab kecil yang merangkum point-point penting atau intisari pada ilmu tersebut, sehingga jika anda dapat memahami serta menghafal sebuah matan maka sungguh ilmu yang anda dapatkan sangatlah banyak.

Dan jangan lupa, teruslah berdoa kepada Allah, karena ilmu merupakan anugerah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita.

Baca juga: Kitab Ta’dzimul ‘Ilm karya Syeikh Shalih Al-Ushaimi Hafidzahullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top