Doa Yang Mesti Diucapkan Di Sepuluh Malam Terakhir

Tanpa disadari, kita telah memasuki di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, malam yang ditunggu-tungu oleh seluruh umat muslim di dunia, yang mana di antara malam-malam itu terdapat malam yang paling agung dan mulia dari seluruh malam, yaitu malam Lailatul Qadar.

Hal ini telah ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Qadr, Allah Subhanahu Wata’ala menjelaskan bahwa kemuliaan dan kebaikan yang dikerjakan di malam lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan, di malam itu semua para malaikat besarta Jibril Alaihisalam turun ke bumi atas perintah Allah dengan membawa kebaikan dan keselamatan pada malam itu hingga terbit fajar.

Untuk meraih kemuliaan di malam lailatul qadr maka dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan  berdoa.  Para salaf dahulu memperbanyak doa di malam tersebutt, Karena pada dasarnya malam Lailatur Qadar termasuk waktu yang mustajab untuk berdoa. Sufyan As-Sauri berkata:

الدعاء في تلك الليلة أحب إلي من الصلاة

Sungguh berdoa di malam Lailatul Qadar lebih aku cintai dari pada mendirikan shalat.

Baca juga: Kesungguhan Para Salaf Dalam Meraih Malam Lailatu Qadar.

Lantas,apa doa yang di anjurkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam di malam Lailatu Qadar?   

وعن عائشة رضي الله عنها قالت: “قلت: يا رسول الله، أرأيت أن علمت أي ليلةٍ ليلة القدر، ما أقول فيها؟ قال: قولي: اللهم إنك عفوٌّ تحبُّ العفو فاعف عنِّي

Dari Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam; Apabila ada satu malam yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah malam Lailatul Qadar, lantas apa doa yang mesti kuucapkan? Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda; berdo’alah: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni”. (Artinya; Ya Allah, Engkau Maha Memberikan maaf, dan engkau suka memberikan maaf, maka maafkanlah aku.[1])

Maksud dari fa’fu ‘anni adalah memohon dan meminta agar Allah senantiasa mengampuni dan memafkan seluruh kesalahan yang telah diperbuat.

Ibnu Rajab Rahimahullah menjelaskan hikmah dibalik anjuran membaca doa tersebut, beliau berkata, “Sesungguhnya perintah memohon Al-‘Afwu pada malam lailatul qadar setelah kita bersungguh-sungguh beramal di dalamnya dan di sepuluh malam terakhir, agar kita mengetahui bahwa orang yang arif dan bijaksana, ketika sungguh-sungguh dalam beramal kemudian ia merasa bahwa amalan yang ia lakukan tidak sempurna dari sisi keadaan maupun ucapan, maka dari itu ia meminta kepada Allah maaf, karena ia merasa seperti keadaan orang yang berbuat dosa dan lalai.

Yahya Ibnu Mua’dz berkata; “bukanlah orang yang bijak, jika ia tidak pernah mengharap maaf dan ampunan dari Allah.”

Imam Mutharif pernah berdo’a:

اللهم ارض عنا, فإن لم ترض عنا فاعف عنا

Allahumma ardhi ‘anna, Fain lam tardhia ‘anna fa’fu anna. Artinya; “Ya Allah ridhailah kami, jika Engkau tidak meridhai kami maka ma’afkanlah kesalahan kami.”

Kemudian beliau berkata: Barang siapa merasa dirinya penuh dengan dosa, maka ia tidak layak mengharapkan Ridha-Nya Allah, namun berharaplah ‘Afwun (maaf) dari Allah. Sesungguhnya orang yang paling bijaksana adalah dia yang mengetahui bahwa ia tidak bisa luput dari dosa[2].        

Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua.   


[1] اHadist Shahih. Hadist Riwayat Tirmidzi dan Ibnu majjah.

[2] Lathaaif Al-ma’arif, hal: 370-371.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top