Fidyah dalam Madzhab Syafi’i

Oleh: Mukhlis Ibnu Katsir

Puasa Ramadan adalah salah satu rukun Islam yang harus dilakukan oleh setiap muslim dan muslimah. Namun, ada beberapa golongan kaum muslimin yang mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa pada bulan tersebut. Yah, tentunya mereka mempunya udzur syar’i; karena Allah ﷻ tidak pernah memberatkan hamba-Nya. Allah ﷻ berfirman,

وَمَا جَعَلَ عَلَیْكُمْ فِى ٱلدِّینِ مِنْ حَرَجٍ

Dan Dia tidak menjadikan suatu kesempitan untuk kalian dalam agama.” (QS. Al-Haj:78).

Diantara orang yang mendapatkan keringanan tersebut adalah orang yang sudah sangat tua, orang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, wanita hamil dan wanita menyusui.

Apa kewajiban mereka?

Kewajibannya adalah membayar fidyah (tebusan) tanpa harus mengqadha puasa yang ditinggalkan, dan ini hanya berlaku bagi orang tua dan orang sakit. Berdasarkan firman Allah ﷻ di dalam Al-Qur’an dan atsar dari beberapa sahabat rhadiyallahu ‘anhum.

  • Al-Qur’an.

Allah  berfirman ﷻ,

وَعَلَى ٱلَّذِینَ یُطِیقُونَهۥُ فِدْیَةٌ طَعَامُ مِسْكِینٍ

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah:184).

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Dia adalah laki-laki tua dan wanita tua yang mereka berdua tidak mampu untuk berpuasa, maka mereka memberikan makan orang miskin setiap harinya.”[i]

  • Atsar.

Diriwayatkan bahwa Anas radhiyallahu ‘anhu satu tahun sebelum meninggal dunia, fisiknya melemah sehingga tidak mampu untuk berpuasa, dan beliau menggantikan puasa tersebut dengan membayar fidyah.[ii]

Adapun kewajiban wanita hamil atau wanita menyusui, maka ada tiga keadaan:

  1. Jika tidak berpuasanya dikarenakan rasa khawatir terhadap dirinya saja maka kewajibannya adalah qadha puasa.
  2. Jika tidak berpuasanya dikarenakan rasa khawatir terhadap dirinya sendiri dan kandungan atau bayinya, maka kewajibannya adalah qadha puasa.
  3. Jika tidak berpuasanya dikarenakan rasa khawatir terhadap kandungan (keguguran) atau bayinya saja (air susunya berkurang), maka kewajibannya adalah qadha dan membayar fidyah.

Berapa fidyah yang harus dikeluarkan?

Fidyah yang harus dikeluarkan sebanyak satu mud makanan pokok, sekitar 600 gr beras pada setiap harinya. Berdasarkan atsar dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh ‘Atha bin Abi Rabah rahimahullahu,

مَنْ أَدْرَكَهُ الْكِبَرُ فَلَمْ یَسْتَطِعْ صِیَامَ شَهْرِ رَمَضَانَ فَعَلَیْهِ لِكُلِّ یَوْمٍ مُدٌّ مِنْ قَمْحٍ

 “Barangsiapa sudah menginjak usia senja, lalu tidak mampu untuk berpuasa di bulan Ramadhan maka kewajiban bagi dia adalah satu mud gandum untuk setiap harinya.” (HR. Baihaqi).[iii]

Kapan waktu untuk membayar fidyah?

Membayar fidyah bisa di hari yang mana dia tidak berpuasa, atau diakhirkan sampai bulan Ramadhan habis. Dan ulama Syafi’iah bersepakat atas tidak bolehnya membayar fidyah sebelum datangnya bulan Ramadhan, sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Nawawi rahimahullah.[iv]

Siapa yang berhak mendapatkan fidyah?

Fidyah hanya diperuntukkan bagi orang fakir dan miskin saja, bukan delapan golongan yang disebutkan dalam zakat fitrah. Berdasarkan firman Allah ﷻ,

وَعَلَى ٱلَّذِینَ یُطِیقُونَهۥُ فِدْیَةٌ طَعَامُ مِسْكِینٍ

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah:184).

Dalam ayat ini disebutkan bahwa fidyah itu untuk orang miskin, namun orang fakir juga berhak karena keadaannya lebih membutuhkan.

Apa jenis fidyah yang harus dikeluarkan?

Fidyah harus berupa makanan pokok, berdasarkan firman Allah ﷻ,

وَعَلَى ٱلَّذِینَ یُطِیقُونَهۥُ فِدْیَةٌ طَعَامُ مِسْكِینٍ

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah:184).

Oleh karenanya fidyah tidak boleh dalam bentuk uang; karena ayat ini secara tegas menggunakan lafadz tha’am yang artinya makanan, dan Rasulullah ﷺ juga tidak pernah memerintahkan fidyah dengan bentuk uang padahal pada zaman beliau sudah ada mata uang yaitu dinar dan dirham.

Bagaimana cara mengeluarkan fidyah?

Dalam madzhab Syafi’i, model pengeluaran fidyah hanya dengan cara memberikan beras (makanan mentah) sebanyak satu mud kepada fakir miskin. Jika dibarengi dengan sesuatu yang bisa menjadi lauk maka hal itu lebih baik.

Faedah:

  1. Jika orang yang mendapatkan keringanan memaksakan dirinya untuk berpuasa, maka puasanya tetap sah dan tidak wajib untuk membayar fidyah.
  2. Jika seseorang memiliki kewajiban fidyah namun tidak mampu untuk membayarnya maka gugurlah kewajiban bagi dirinya, meskipun dengan berjalannya waktu dia mampu untuk melakukannya.
  3. Jika wanita hamil atau wanita menyusui memiliki udzur yang lain; seperti safar atau sakit, lalu dia tidak puasa dengan niat mengambil keringanan atas safar atau sakitnya, maka kewajiban bagi dia adalah qadha saja.
  4. Jika orang yang sakit tidak berpuasa dan penyakitnya bisa diharapkan atas kesembuhannya, maka dia tetap wajib untuk mengqadha.
  5. Orang yang membatalkan puasa dengan sengaja maka kewajibannya hanyalah mengqadha’ dan tidak diwajibkan membayar fidyah; karena tidak ada dalil yang menunjukkan demikian.

Wallahu a’lam.


[i] Shahih Bukhari juz 6 hal. 25.

[ii] Sunan Kubra juz 4 hal. 451.

[iii] Sunan Kubra juz 4 hal. 451.

[iv] Kitab Majmu juz 6 hal. 260.

[v] Sunan Kubra juz 4 hal. 451.

Referensi:

  1. Diktat Kuliah Syari’ah Al-Azhar, Kairo, Mesir.
  2. Shahih Bukhari.
  3. Kitab Majmu karya Imam Nawawi.
  4. Sunan Kubra karya Imam Baihaqi.
  5. Kitab Al-Iqna’ karya syeikh Khothib As-Syirbini.
  6. Kita Al-Mu’tamad fil Fiqh Syafi’I karya syeikh Muhamad Zuhaili.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *