Fikih Aqiqah Madzhab Syafi’i

Oleh: Mukhlis Ibnu Katsir


Aqiqah secara bahasa berasal dari kata ‘aqq yang artinya qath’ (memotong). Adapun secara istilah adalah hewan yang disembelih untuk anak baru lahir.

Apa hukum aqiqah?

Dalam Islam disyartiatkan bagi seseorang yang dikarunia anak untuk menyembelih hewan aqiqah, dan hukumnya sunnah muakkadah (ditekankan), sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengaqiqahi cucu tersayangnya; Hasan dan Husein.


Dari logika, akal kita pun menerimanya; karena pada aqiqah tersebut mengandung unsur pengungkapan rasa bahagia sebab kehadiran anak yang baru lahir, ungkapan rasa terimakasih kepada Allah ﷻ karena anaknya lahir dalam keadaan sehat wal afiyah, juga dalam rangka menghidangkan makanan untuk sanak saudara, teman, dan orang yang membutuhkan. Bahkan sebelum Islam datang, orang-orang sudah melakukan ritual seperti ini, lalu Islam menyetujuinya.


Berapa jumlah hewan untuk aqiqah?

Jika anaknya laki-laki maka dua ekor kambing, dan jika perempuan maka seekor kambing, berdasarkan hadis Ummu Kurz radhiyallahu ‘anha tatkala bertanya kepada Rasululullah ﷺ tentang aqiqah, beliau bersabda,


لِلْغُلاَمُ شَاتَانِ مُكَافئَتَانِ وَعَنِ الجَارِيَةِ شَاةٌ

“Bagi anak laki-laki dua kambing yang sama, dan bagi anak perempuan seekor kambing.” (HR. Ashabu As-Sunan).


Kenapa anak laki-laki dua kambing? Sementara anak perempuan hanya seekor kambing, apa alasannya?

Sebagian ulama berpendapat bahwa hal tersebut karena tujuan utama dari aqiqah adalah pengungkapan rasa kebahagiaan, sedangkan manusia secara umum akan lebih berbahagia tatkala dikaruniai anak laki-laki, oleh karenanya kambing yang disembelih lebih banyak dari pada kambing untuk anak perempuan.


Kapan waktu aqiqah?

Seperti yang kita sebutkan Bersama, bahwa aqiqah disyariatkan karena kelahiran seorang akan; baik laki-laki maupun perempuan.

Oleh karenanya, tidak mengapa jika seseorang menyembelih aqiqah pada hari sebelum atau setelah hari ke tujuh; karena sebab disyariatkannya aqiqah sudah ada, yaitu lahirnya seorang anak.


Namun disunnahkan agar aqiqah diadakan pada hari ke tujuh setelah hari kelahiran, juga dihitung mulai hari lahirnya bayi tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda,


الغُلاَمُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيْقَتِهِ يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُسَمَّى وَيُحلَقُ رَأْسُهُ

“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, yang disembelih pada hari ketujuh, diberi nama dan dicukur rambutnya.” (HR. Tirmidzi).


Apa syarat-syarat aqiqah?

Pada prosesi aqiqah ada syarat-syarat yang harus terpenuhi; karena jika tidak, maka hewan sembelih tersebut hanya akan bernilai sadakah saja. Dan syarat-syarat tersebut seperti sayarat pada hewan kurban, yaitu

  1. Binatang ternak.
    Artinya, hewan yang disembelih harus dari jenis hewan ternak; seperti kambing, onta atau sapi.
  2. Cukup umur.
    Adapun Batasan umur hewan tergantung pada jenisnya. Onta minimal lima tahun, sapi dua tahun, domba (dho’n) satu tahun, dan kambing (ma’iz) dua tahun.
  3. Tidak cacat.
  4. Niat.
    Niat dilakukan saat menyembelih hewan, dengan bermaksud bahwa hewan tersebut untuk aqiqah.

Baca juga: Tanggung Jawab Orang Tua terhadap Anak #part I

Apa sunnah-sunnah dalam aqiqah?

  • Basmalah saat menyembelih serta mengucapkan, اللَّهُمَ لَكَ وَإِلَيْكَ عَقَيْقَةُ فُلَانٍ
  • Mencukur rambut bayi setelah penyembelihan hewan; baik bayi laki-laki maupun perempuan, sebagaimana yang tertera dalam hadis diatas.
  • Melumuri kepala bayi dengan minyak wangi, Berdasarkan apa yang disampaikan oleh ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa orang jahilihah dahulu, mereka melumuri kepala bayi dengan darah yang diambil dari hewan aqiqah, adapun dalam agama kita, Rasulullah ﷺ menyuruh untuk menggantikan posisi darah tersebut dengan minyak wangi.


Bagaimana prosesi aqiqah?

Disunnahkan bagi seseorang untuk memakan daging dari hewan aqiqah, bersadakah serta menghadiahkan kepada orang lain; karena hewan tersebut disembelih atas dasar perintah seperti halnya hewan kurban, hanya saja pada daging aqiqah tidak boleh dibagikan dalam keadaan masih mentah, harus dimasak terlebih dahulu sebagai bentuk harapan agar akhlak anak tersebut juga enak dirasakan. Adapun tekhnisnya, maka bisa dibagikan, mengundang orang, atau sebagian diundang dan sebagian lainnya dibagikan.

Sumber:

Al-Mu’tamad fi Al-Fiqh As-Syafi’i, Prof. Dr. Muhammad Az-Zyhaili.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top