Fikih Shalat ‘ied di Rumah

Oleh: Mukhlis Ibnu Katsir

Hari ‘Ied adalah hari kebahagiaan, hari kesenangan dan hari pesta bagi kaum muslimin. Dari segi bahasa kata ‘ied berasal dari ‘aud yang artinya kembali, dan dinamakan hari ‘ied karena dengan datangnya hari tersebut, rasa kebahagiaan seseorang akan hadir kembali dalam kehidupannya.

Tatkala seseorang sedang berada diatas kenikmatan, biasanya dia akan lalai dari Dzat yang memberikan nikmat tersebut, oleh karenanya pada tahun 2 H Allah ﷻ memerintahkan hamba-Nya untuk mendirikan shalat dua rakaat pada hari ‘ied, tentunya agar lebih mengingat Allah ﷻ.

Apa hukum shalat ‘ied?

Rasulullah ﷺ selalu mengerjakan shalat ied bersama para sahabatnya, bahkan dalam beberapa riwayat mengatakan bahwa beliau tidak pernah meninggalkannya sampai meninggal dunia. Meskipun demikian, hukum shalat ‘ied tetap sebatas sunnah muakkadah (sangat ditekankan) dan tidak sampai kederajat wajib. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ada seorang yang mendatangi Rasulullah ﷺ dan bertanya apakah ada kewajiban bagi dia selain shalat lima waktu, beliau menjawab,

لاَ، إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ

“Tidak, kecuali jika kamu mau menambah dengan yang sunnah.”

Hadis ini dengan gamblang mengatakan bahwa tidak ada shalat wajib kecuali shalat lima waktu, adapun selainnya sebatas shalat sunnah.

Kapan waktu shalat ied?

Waktu shalat ‘ied dimulai dari terbit sampai tergelincirnya matahari, namun disunnahkan untuk menunggu sampai matahari meninggi seukuran tombak, sekitar 15 menit setelah terbitnya matahari.

Apakah diawali dengan adzan dan iqamah?

Jawabannya tidak, berdasarkan perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Aku menyaksikan (shalat ied) bersama Rasulullah ﷺ Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum, mereka mendirikan shalat (ied) sebelum khutbah, tanpa (didahului) adzan dan iqamah.”

Apakah shalat ied harus di masjid?

Ulama Syafi’iah berpendapat bahwa shalat ied di masjid lebih utama dibandingkan tempat yang lain; karena masjid adalah tempat yang paling mulia. Namun jika terdapat udzur seperti tidak bisa menampung seluruh jama’ah maka dilakukan di tanah luas; sebagaimana Rasulullah ﷺ shalat ‘ied di lapangan luas.

Apakah boleh shalat ied di rumah?

Iya, karena shalat ied tidak harus dilakukan dengan berjamaah, bahkan disyariatkan juga bagi perorangan untuk mendirikan shalat ‘ied di rumahnya masing-masing, sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Nawawi[i] dan Imam Juwaini[ii] rahimahumullahu.

Adapun seperti kondisi saat ini maka shalat ied lebih utama untuk dikerjakan di rumah; sebagai bentuk ketaatan kepada ulil amri selama bukan maksiat kepada Allah ﷻ.

Bagaimana tata cara shalat ‘ied?

Shalat ied dilakukan seperti shalat lainnya, yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Hanya saja ada sedikit tambahan, yaitu disunnahkan untuk takbir 7x pada rakaat pertama dan takbir 5x pada rakaat kedua. berdasarkan hadis yang mengatakan, “Bahwa Rasulullah ﷺ takbir 7x pada rakaat pertama ketika shalat idul fitri, dan 5x pada rakaat keduanya.”

Di sela-sela takbir tersebut disunahkan untuk mengucapkan “Subhanallah, Alhamdulillah, wa La Ilaha ilallah, Allahu Akbar.”

Apa perbedaan tata cara shalat ied di rumah dengan shalat ied di masjid?

Tidak ada pebebedaan antara keduanya, hanya saja ketika shalat sendirian tidak dianjurkan untuk khutbah.

Surat apa yang harus dibaca?

Setelah selesai dari bacaan surat Al-Fatihah, disunahkan untuk membaca surat Qaf dan Al-Qamar, atau surat Al-A’la dan Al-Ghasyiah, yang mana kedua model tersebut pernah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.

Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah ﷺ membaca surat Qaf dan Iqtarabatissaah pada shalat idul fitri dan idul adha.”

Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu pernah menyampaikan, “Bahwa Rasulullah ﷺ juga membaca Sabbihismarabbika dan Hal Ataka Haditsul Ghasyiah pada shalat ied.”

Apakah harus terdapat khutbah pada shalat ied?

Khutbah pada hari ‘ied hukumnya sunnah, dan waktunya setelah selesai shalat. Sebagaimana perkataan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, “Nabi ﷺ, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhum, mereka mendirikan shalat idul fitri dan idul adha sebelum khutbah.”

Bagaimana aturan khutbah pada shalat ied?

Khutbah dilakukan seperti halnya dengan khutbah shalat jum’at; baik syarat, rukun maupun sunnahnya. Hanya saja pada khutbah i’ed tidak disyartakan harus berdiri, dan boleh dengan duduk atau terlentang meskipun mampu untuk berdiri.

Adab dan sunah pada hari ied.

Pada hari ‘ied disunahkan bagi kaum muslimin untuk mengerjakan beberapa amalan, diantaranya:

1. Mandi.

Berdasarkan perbuatan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau sebelum berangkat menuju shalat ied mandi terlebih dahulu.

2. Makan sebelum shalat ied.

Berdasarkan riwayat dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ tidak keluar pada hari idul fitri sampai makan beberapa butir kurma.

3. Mengenakkan pakaian paling bagus.

Disunahkan bagi kaum muslimin untuk memakai baju yang paling indah; baik dengan membeli pakaian baru atau mengenakkan baju yang paling bagus, dalam rangka menampakkan rasa kebahagiaan pada hari tersebut, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Qayyim rahimahullahu bahwa Rasulullah ﷺ melakukan hal tersebut.[iii]

4. Berangkat di awal waktu.

Bagi makmum disunnahkan agar bersegera menuju tempat shalat, tepatnya setelah selesai shalat subuh. Adapun bagi imam, maka sunnahnya adalah mengakhirkan sampai hendak mendirikan shalat. Sebagaimana riwayat dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, “Bahwa Rasulullah ﷺ ketika keluar pada hari ied, pertama kali yang dilakukannya adalah shalat.”

Sebenarnya sunnah-sunnah dari Rasulullah ﷺ yang semestinya dilakukan pada hari ied sangatlah banyak, namun pada saat seperti ini mungkin itu yang bisa diamalkan; karena shalat ied dikerjakan di rumah.

Faedah:

Disyariatkan untuk takbiran pada hari ‘ied, baik malam naupun siang hari.

Takbiran adalah bentuk masdar dari kata kabbara yang artinya “Ucapan Allahu Akbar”. Dan dianjurkan untuk takbiran pada hari ‘ied, dimulai dari terbenamnya matahari sampai imam memulai shalat ‘ied dengan takbiratul ihram, bahkan itu termasuk syiar kaum muslimin yang harus dipertontonkan kepada seluruh penghuni dunia. Allah ﷻ berfirman,

وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah:185).

Bentuk lafaz takbir yang disunahkan sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Qayyim rahimahullahu[iv] adalah,

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلهِ الْحَمْد

Dalam kitab Al-Umm disebutkan bahwa Imam Syafi’i menganggap baik jika setelah takbir yang ketiga ditambahkan lafaz,[v]

اللهُ أَكْبَرُ كَبِیرًا، وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِیرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِیلًا اللهُ أَكْبَرُ، وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللهَ مُخْلِصِینَ لَهُ الدَّیْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ، وَاَللهُ أَكْبَر

Dan ini berdasarkan perkataan Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengucapkannya ketika berada di Safa.

Wallahu a’lam.


[i] Kitab Raudhatu Thalibin juz 2 hal. 70, kitab Majmu’ juz 5 hal. 26.

[ii] Kitab Nihayatul Madzhab juz 2 hal. 612.

[iii] Kitab Zadul Ma’ad juz 1 hal. 425.

[iv] Kitab Zadul Ma’ad juz 1 hal. 433.

[v] Kitab Al-Umm juz 1 hal. 276.

Referensi:

  1. Kitab Al-Mu’tamad fil Fiqh Syafi’I, karya Syeikh Zuhaili.
  2. Kitab Majmu’, karya Imam Nawawi.
  3. Kitab Raudhatu Thalibin, karya Imam Nawawi.
  4. Kitab Nihayatul Madzhab, karya Imam Juwaini.
  5. Kitab Al-Umm, karya Imam Syafi’i.
  6. Kitab Kifayatul Akhyar.
  7. Kitab Al-Iqna’, karya Syeikh Khatib As-Syirbini.
  8. Kitab Zadul Ma’ad, karya Imam Ibnu Qayyim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top