Hewan Kurban

Oleh: Mukhlis Ibnu Katsir.

1. Pengertian.

Hewan kurban dalam bahasa Arab dinamakan dengan “Udhiyah” yang diambil dari kata “Dhuha” artinya waktu dimana matahari naik. Makanya dinamakan dengan “Udhiyah”; karena hewan tersebut disembelih pada waktu matahari naik.

Adapun hewan kurban menurut syariat Islam artinya hewan yang disembelih dari jenis onta, sapi, kambing atau domba dalam rangka pendekatan diri kepada Allah pada hari ‘Ied dan hari Tasyrik.

Dan menyembelih hewan kurban termasuk perintah Allah SWT, berdasarkan firman-Nya yang berbunyi,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Dirikanlah shalat dan berkurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2).

2. Hukum menyembelih hewan Qurban.

Hukumnya Sunnah Muakkadah (ditekankan). Meskipun dalam ayat diatas memakai bentuk fi’il amr yang seharusnya menunjukkan wajibnya berkurban, namun ada atsar yang menunjukkan Abu Bakar dan Umar pernah tidak berkurban; karena khawatir akan dianggap sebagai suatu kewajiban.

Dari Abu Suraihah,

رَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ وَمَا يُضَحِّيَانِ

“Aku pernah melihat Abu Bakr dan ‘Umar tidak berqurban.” (HR. Abdurrazaq).

3. Syarat orang yang berkurban.

Ada tiga syarat yang harus dipenuhi bagi seseorang yang hendak berkurban:

1. Muslim.

2. Mukallaf.

Yaitu baligh (dewasa) dan berakal.

3. Mampu. 

Artinya dia memiliki harta yang mana jika dia berkurban masih ada sisa untuk menafkahi keluarganya pada hari ied dan hari tasyrik.

4. Ketentuan Hewan Kurban.

Kurban tidak sah kecuali  hewan dari golongan An’am, yaitu onta sapi dan kambing.

Berdasarkan firman Allah SWT,

لِّيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلْأَنْعَٰمِ 

Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka. (Q.S Al-Hajj:24).

Untuk jenis kelaminnya boleh jantan ataupun betina, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw,

لاَ يَضُرُّكُمْ ذُكْرَانًا كُنَّ أم إناثا

“Tidak membahayakan kalian, jantan ataupun betina. (HR. Tirmidzi).

5. Syarat-syarat hewan kurban.

Disyaratkan bagi hewan kurban empat perkara:

1. Termasuk An’am.

2. Cukup umur.

Ini sesuai dengan jenis hewannya. 

Unta minimal umur lima tahun, Sapi dan Kambing minimal umur dua tahun, dan Domba minimal umur satu tahun.

3. Tidak cacat. 

أَرْبَعٌ لَا تُجْزِئُ فِي الْأَضَاحِيِّ : الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا ، وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا ، وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ عَرَجُهَا ، وَالْعَجْفَاءُ الَّتِي لَا تُنْقِي

“Empat perkara yang tidak memadai dalam berqurban: buta yang jelas, sakit yang nyata, pincang yang jelas dan kurus yang tidak ada lagi sumsumnya.” (H.R.Tirmidzi)

4. Niat. 

Karena berkurban adalah ibadah, maka wajib disertai dengan niat sebagaimana ibadah lainnya.

6. Waktu untuk berkurban.

Waktunya setelah selesai shalat iedul adha sampai akhir hari tasyrik. Oleh karenanya, jika dilaksanakan sebelum shalat maka tidak sah. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw,

إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ عَجَّلَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنْ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ

“Sesungguhnya yang pertama kali kami lakukan pada hari Raya kami ini adalah shalat. Kemudian kami pulang dan melaksanakan penyembelihan kurban. Maka barangsiapa mengerjakan seperti itu berarti dia telah memenuhi sunnah kami. Dan barangsiapa menyembelih kurban sebelum pelaksanaan shalat ‘Ied maka itu hanyalah daging yang dipersembahkan untuk keluarganya dan tidak sedikitpun mendapatkan (pahala) ibadah kurban.” (HR. Bukhari).

7. Larangan dalam berkurban.

Ada dua hal dilarang bagi seseorang yang berkurban:

1. Menjual daging kurban, meskipun kulitnya atau bulunya.

Berdasarkan sabda Rasulullah Saw,

مَنْ يَبِعْ جِلْدَ أُضْحِيَّتِه فلا أُضْحِيَّةَ لَهُ

“Barangsiapa yang menjual kulit hewan kurbannya, maka tidak ada baginya hewan kurban.” (HR. Hakim).

2. Memberikan hasil kurban kepada orang yang menyembelih sebagai bentuk upah.

Berdasarkan perkataan Ali radhiyallahu ‘anhu,

 أمَرَنِي رسو ل الله صلى الله عليه وسلم أن َأقُوْمَ عَلى بدْنِهِ وَأنْ َأتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُوْدِهَا وَاجِلَتِهَا وَأنْ لَاأُعْطِي الْجَزَّارَ مِنْهَا قَال نَحْنُ نُعْطِيْهِ مِنْ عِنْدِنَا ” . متفق عليه

“Rasulullah Saw menyuruhku untuk menangani unta kurban dan membagikan daging, kulit dan penutup tubuhnya (kain yang dipakaikan pada hewan kurban), serta melarangku memberikan kepada si penjagal sesuatu dari padanya. Beliau berkata “kita memberi dia upah dari kita sendiri”. (HR. Muttafaq ’alaih).

8. Sunnah berkurban.

Hal-hal yang disunnahkan saat berkurban sangat banyak, diantaranya:

1. Tidak mencukur rambut dan tidak memotong kuku hingga waktu penyembelihan hewan kurban.

Berdasarkan hadis,

مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ

“Siapa saja yang ingin berqurban dan apabila telah memasuki awal Dzulhijah (1 Dzulhijah), maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia berqurban.” (HR. Muslim).

2. Menyembelih sendiri.

ضَحَّى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ ، فَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا يُسَمِّى وَيُكَبِّرُ ، فَذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berqurban (pada Idul Adha) dengan dua kambing yang gemuk. Aku melihat beliau menginjak kakinya di pangkal leher dua kambing itu. Lalu beliau membaca basmalah dan takbir, kemudian beliau menyembelih keduanya dengan tangannya.” [HR. Bukhari dan Muslim]

3. Mengucapkan basmalah serta bertakbir saat menyembelih.

Dari Anas bahwa Rasulullah,

سَمٌَى وكَبٌَر

“Beliau membaca basmalah dan bertakbir.” (HR. Bukhari).

Referensi:

1. Kitab Al-Mu’tamad fi Al-Fiqh As-Syafi’i, Prof. Dr. Muhammad Zuhaili.

2. Mushannaf Abdurrazzaq As-Shan’ani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *