Hukum Qunut Subuh

Oleh: Mukhlis Ibnu Katsir.

Salah satu fenomena yang sangat memprihatinkan dari dulu sampai sekarang adalah perselisihan diantara kaum muslimin yang disebabkan masalah hukum Qunut Subuh.

Masalah ini tidak jarang lagi menjadikan sebab utama atas perpecahan mereka. Sebagian orang enggan untuk menjadi makmum dibelakang imam yang membaca Qunut, begitu juga sebaliknya. Lebih ekstrim lagi sebagian mereka mengulangi shalatnya hanya karena bermakmum kepada imam yang tidak membaca Qunut, seolah-olah sikapnya berkata bahwa shalatnya tidak sah.

Berkenaan dengan hal tersebut, penulis ingin menyampaikan masalah tersebut dengan merujuk ke perkataan para Ulama, tentunya agar kita lebih bijak lagi dalam bersikap.

Hukum Qunut pada shalat Subuh merupakan perkara yang diperselisihkan oleh para Ulama sejak dahulu, bahkan dari kalangan Sahabat radhiyallahu’anhum.

Baca juga : Hukum Menyalurkan Zakat Kepada Sanak Kerabat

Mereka berselisih dalam masalah ini menjadi dua pendapat:

1. Tidak Sunnah.

Diantara ulama yang mengatakan pendapat ini adalah Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah. Ibnu Qudamah berkata, “Tidak disunnahkan Qunut pada Shalat Subuh dan juga shalat yang lain kecuali Shalat Witir.”[1]

Ini adalah pendapat Imam Tsauri, Abu Hanifah, dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Abi darda, Laits bin Sa’ad dan Ibnu Mubarak. (Al-Mughni, Bidayah Mujtahid, Sunan Tirmidzi).

Pendapat ini berlandaskan dari beberapa Atsar, diantaranya:

Pertama:

عَنْ أَبِي مَالِكٍ الأَشْجَعِيِّ، قَالَ: قُلْتُ لِأَبِي: يَا أَبَةِ، «إِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، هَاهُنَا بِالكُوفَةِ نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِينَ، أَكَانُوا يَقْنُتُونَ؟»، قَالَ: أَيْ بُنَيَّ مُحْدَث «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ، وَالعَمَلُ عَلَيْهِ عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْل العِلْمِ»

Dari Abu Malik Al-Asyja’i tatkala bertanya kepada ayahnya, “Wahai Ayah, sesungguhnya engkau telah shalat di belakang Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam, Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib di Kufah sekitar lima tahun. Apakah mereka Qunut? Ayahnya berkata, “Wahai anakku, itu adalah perkara yang baru.” (HR. Tirmidzi dan beliau berkata, hadis ini Hasan Shahih, dan kebanyakan ulama mengamalkan hadis tersebut.)

Kedua:

Imam Laits bin Sa’ad berkata, “Aku tidak Qunut sejak 40 atau 45 tahun kecuali (ketika) dibelakang imam yang Qunut. Dan aku mengambil ini karena hadis yang telah datang dari Rasulullah, bahwa beliau Qunut selama satu bulan empat puluh hari, berdoa untuk kebaikan suatu kaum dan berdoa keburukan kepada kaum yang lain, hingga Allah menurunkan kepadanya dalam rangka menegurnya,

لَيْسَ لَكَ مِنَ ٱلْأَمْرِ شَىْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَٰلِمُونَ

“Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Imran:128).

Lalu Rasulullah meninggalkan Qunut, dan tidak pernah Qunut setelahnya sampai berjumpa dengan Allah. Semenjak aku membawa hadis ini maka aku tidak pernah Qunut.”[2]

Baca juga: Hukum Wanita Melewati Orang Shalat

2. Sunnah.

Diantara ulama yang condong kepada pendapat ini adalah Imam Syafi’i, Imam Malik, Ibnu Abi Laila, Al-Hasan bin Shalih.[3].

Imam Nawawi berkata, “Ketahuilah bahwasannya Qunut itu disyariatkan dalam madzhab kami, hukumnya sunah muakkadah. Seandainya meninggalkannya maka shalatnya tidak batal, namun dia sujud sahwi, baik meninggalkannya disengaja maupun tidak disengaja.”[4]

Beliau menegaskan dalam kitab Majmu’ dengan ucapannya, “Dan hal yang disunnahkan pada shalat Subuh yaitu Qunut pada rakaat kedua.”[5].

Pendapat ini berlandaskan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Anas radhiyallahu’anhu, beliau berkata,

مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا

“Rasulullah senantiasa Qunut pada shalat Fajar (Subuh) hingga meninggal dunia.” (HR. Ahmad).

Dan juga Atsar Umar radhiyallahu’anhu, bahwa beliau pernah Qunut ketika shalat Subuh dihadapan para sahabat.[6]

Kesimpulan:

Dari apa yang telah kita sampaikan diatas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa Qunut Subuh merupakan perkara Khilaf sejak dahulu kala, sehingga ini perselisihan yang diakui oleh para Ulama.

Dan hendaknya kaum muslimin lebih bijak dalam menghadapi perbedaan seperti ini, dan orang yang Qunut atau tidak Qunut sama-sama baiknya.

Sufyan Tsauri berkata, “Jika dia Qunut maka itu baik, dan jika tidak maka itu baik.” Meskipun beliau memilih untuk tidak Qunut. (Sunan Tirmidzi).

Sangat disayangkan juga sebagian saudara kita yang menisbatkan dirinya kepada manhaj salaf terlalu keras dan kaku dalam menghadapi persoalan ini, tentunya ini akan menimbulkan ketidaknyamanan antara masyarakat kaum muslimin. Ibnu Qayyim berkata,

وَيَقُولُونَ: فِعْلُهُ سُنَّةٌ وَتَرْكُهُ سُنَّةٌ، وَمَعَ هَذَا فَلَا يُنْكِرُونَ عَلَى مَنْ دَاوَمَ عَلَيْهِ، وَلَا يَكْرَهُونَ فِعْلَهُ، وَلَا يَرَوْنَهُ بِدْعَةً، وَلَا فَاعِلَهُ مُخَالِفًا لِلسُّنَّةِ

“Ahli Hadis berkata, “Perbuatan Qunut adalah Sunnah, dan meninggalkannya Sunnah. Meskipun demikian, mereka tidak mengingkari orang yang senantiasa Qunut, tidak menghukumi makruh, tidak berpendapat bahwa perbuatannya bid’ah dan pelakunya menyelisihi Sunnah.”[7]

Perlu diperhatikan juga, ketika seseorang shalat dibelakang Imam yang tidak Qunut, maka hendaknya dia tidak Qunut, meskipun dia mengambil pendapat yang menyatakan bahwa Qunut Sunnah. Sebaliknya, orang yang shalat dibelakang imam yang Qunut maka hendaknya mengikutinya, meskipun dia mengambil pendapat bahwa hal tersebut tidak disunnahkan; karena dijadikannya seorang Imam dalam shalat tujuannya untuk diikuti.

Ibnu Taimiyah berkata, “Jika makmum mengikuti orang yang Qunut pada shalat Subuh atau witir maka dia Qunut bersamanya, baik Qunut sebelum atau sesudah ruku’. Dan jika Imam tidak Qunut maka dia tidak Qunut bersamanya. Seandainya Imam berpendapat atas Sunnahnya sesuatu, sedangkan makmum tidak berpendapat demikian, maka meninggalkannya imam kepada hal tersebut untuk persatuan dan kerukunan maka dia telah berbuat baik.”[8]


[1]Al-Mughni, 2/585

[2] Bidayah Mujtahid 1/127

[3] Al-Mughni, 2/585

[4] Al-Adzkar, 59

[5] Majmu’ 4/392

[6] Al-Mughni, 2/585

[7] Zad Ma’ad, 1/66

[8] Majmu’Fatawa, 22/267

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top