Iman Kepada Allah

Oleh: Mukhlis Ibnu Katsir

Kata Al-Iman dalam bahasa Arab artinya Al-Iqrar (pengakuan).

Adapun secara istilah artinya Syariat Islam semuanya, mencakup amalan Dzahir dan Batin .

Namun jika disandingkan bersamaan dengan kata Al-Islam maka yang dimaksud adalah perkara batin saja, yaitu jawaban Rasulullah tatkala ditanya tentang makna Iman, beliau bersabda,

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Kamu beriman kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab, para Rasul, Hari akhir, dan takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim).

Pada Bab ini kita akan membahas tentang Iman kepada Allah.

Pokok dari Iman kepada Allah ada dua:

  1. Tauhid
  2. Tidak Syirik.

Berdasarkan makna yang terkandung dalam kalimat Tauhid,

لاَ إلٰهَ إلاَّ اللّٰه

“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.”

Pembahasan Tauhid

Tauhid artinya mengesakan Allah SWT, baik pada Dzat maupun sifat-Nya.

Dan mentauhidkan Allah mencakup tiga perkara:

  1. Mentauhidkan Allah dalam Rububiyah.
  2. Mentauhidkan Allah dalam Uluhiyah.
  3. Mentauhidkan Allah dalam Asma wa Sifat.

Tauhid Rububiyah.

Tauhid Rububiyah adalah mengesakan Allah terhadap perbuatan-Nya. Seperti penciptaan, pengurusan, kepemimpinan, kepemilikan dll.

Dengan ungkapan lain, dia meyakini bahwa tidak ada pencipta kecuali Allah, tidak ada yang mengatur alam semesta kecuali Allah, tidak ada yang memimpin alam semesta kecuali Allah, dan tidak ada yang menghidupkan juga mematikan kecuali Allah.

Dalil tauhid Rububiyah.

Setiap Ayat atau Hadis yang menunjukkan perbuatan Allah SWT maka itu merupakan dalil tauhid Rububiyah.

Seperti firman Allah,

خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ بِغَیۡرِ عَمَدࣲ تَرَوۡنَهَاۖ وَأَلۡقَىٰ فِی ٱلۡأَرۡضِ رَوَ ٰ⁠سِیَ أَن تَمِیدَ بِكُمۡ وَبَثَّ فِیهَا مِن كُلِّ دَاۤبَّةࣲۚ وَأَنزَلۡنَا مِنَ ٱلسَّمَاۤءِ مَاۤءࣰ فَأَنۢبَتۡنَا فِیهَا مِن كُلِّ زَوۡجࣲ كَرِیمٍ

“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.” (QS. Luqman:10).

Barangsiapa yang mewujudkan tauhid Rububiyah dengan benar, maka dia akan mendapatkan hati yang mudah ridha terhadap pemberian Allah; karena tauhid Rububiyah ini mendidik seorang muslim untuk senantiasa mengingat bahwa dia memliki pencipta, yang tentunya lebih mengetahui kebaikan untuk hambanya.

Perlu diketahui bahwa orang-orang kafir Quraisy juga mentauhidkan Allah dalam masalah Rububiyah, sekiranya mereka meyakini bahwa Allah yang menciptakan.

Allah berfirman,

وَلَىِٕن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضَ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ لَیَقُولُنَّ ٱللَّهُ

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. (QS. Al-Ankabut:61).

Baca juga : Iman kepada malaikat

Tauhid Uluhiyah.

Kata Uluhiyah diambil dari kata Aliha Ya’lahu Ilaahah, artinya sesuatu yang disembah karena rasa cinta dan pengagungan.

Adapun menurut istilah yaitu mengesakan Allah dalam perkara ibadah. Artinya dia tidak memalingkan suatu bentuk ibadah kecuali hanya kepada Allah.

Apa makna Ibadah?
Kata Ibadah adalah sebuah nama bagi hal-hal yang diridhai oleh Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, dzahir (nampak) maupun batin (tidak nampak).

Macam-macam Ibadah.

Ibadah memiliki 4 macam:

  1. Ibadah Badaniyah.
    Yaitu ibadah yang dilakukan dengan anggota badan. Seperti Shalat, Thawaf, Puasa, Silaturahim dan Jihad.
  2. Ibadah Maliyah.
    Yaitu ibadah yang dilakukan dengan harta. Seperti Zakat, Sadaqah, dan Nafkah.
  3. Ibadah Qouliyah.
    Yaitu ibadah yang dilakukan dengan Lisan. Seperti Hamdalah, Tahlil, Tasbih, Takbir, Istighfar, bacaan Al-Qur’an dan Doa.
  4. Ibadah Qolbiyah.
    Yaitu ibadah yang dilakukan dengan hati. Seperti rasa cinta, takut, berharap, tawakal, isti’anah dan istighatsah.

Dalil Tauhid Uluhiyah

Setiap Ayat atau Hadis yang mengandung perintah untuk beribadah kepada Allah atau menjauhi perbuatan syirik maka itu dalil Tauhid Uluhiyah.

Seperti firman Allah,

وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS. An-Nisa:36).

Tauhid Uluhiyah sangat penting bagi seorang muslim, inilah pembeda antara muslim dan kafir; karena orang kafir dahulu mentauhidkan Allah dalam Rububiyah, tapi tidak mentauhidkan Allah dalam Uluhiyah.

Oleh karenanya tujuan utama diutusnya para Nabi dan Rasul adalah mendakwahkan Tauhid Uluhiyah.

Allah berfirman,

(وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (sesembahan selain Allah) itu”.” (QS. An-Nahl:36).

Baca juga : Iman kepada Kitab Allah

  1. Tauhid Asma wa Sifat.
    Yaitu mengesakan Allah pada nama-nama dan sifat-sifat Nya, baik yang tercantum dalam Al-Qur’an maupun hadis Rasulullah.

Para ulama mengatakan bahwa menentukan nama dan sifat Allah merupakan perkara tauqifiy (dari Wahyu), tidak boleh dengan ijtihad akal pikiran manusia.

Kaidah Asma wa Sifat.

Dalam mentauhidkan Allah pada masalah Asma wa Sifat, ada tiga perkara yang harus terpenuhi:

  1. Itsbat (menetapkan).

Yaitu menetapkan semua nama dan sifat Allah yang sampai kepada kita, baik dalam Al-Qur’an maupun Hadits Rasulullah. Tidak menolaknya, mengubah lafaznya atau memalingkan maknanya.

Diantara dalil yang menetapkan nama dan sifat Allah, firman Allah ta’ala,

ٱللَّهُ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَیُّ ٱلۡقَیُّومُۚ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةࣱ وَلَا نَوۡمࣱۚ لَّهُۥ مَا فِی ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَمَا فِی ٱلۡأَرۡضِۗ مَن ذَا ٱلَّذِی یَشۡفَعُ عِندَهُۥۤ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ أَیۡدِیهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ وَلَا یُحِیطُونَ بِشَیۡءࣲ مِّنۡ عِلۡمِهِۦۤ إِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرۡسِیُّهُ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضَۖ وَلَا یَـُٔودُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِیُّ ٱلۡعَظِیمُ

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah:255).

  1. Tanzih (mensucikan).

Tanzih artinya mensucikan Allah dari segala sifat kekurangan, yaitu tidak menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya.

Seberapa mulianya makhluk Allah, maka dia tidak akan terlepas dari sifat kekurangan. Sedangkan sifat Allah, semuanya sempurna. Sehingga tidak ada satupun yang bisa menyerupai Allah.

Allah berfirman,

لَیۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَیۡءࣱۖ وَهُوَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡبَصِیر

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. As-Syura:11).

  1. Tidak berambisi dalam memahami hakikat Sifat Allah.

Yaitu mengimani sifat-sifat Allah tanpa menanyakan bagaimana sifat tersebut.

Contoh:
Allah memiliki tangan sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an,

بَلۡ یَدَاهُ مَبۡسُوطَتَانِ یُنفِقُ كَیۡفَ یَشَاۤءُۚ

“Tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.” (QS. Al-Maidah:64).

Ketika kita mengetahui bahwa Allah memiliki tangan, maka tidak boleh bagi kita menanyakan, “Bagaimana tangan Allah?”.

Begitu juga dengan sifat-sifat yang lain; karena akal pikiran manusia sangat terbatas sehingga mustahil untuk mengetahui hakikat dari Sifat Allah yang Maha sempurna.

Allah berfirman,

یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ أَیۡدِیهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ وَلَا یُحِیطُونَ بِهِۦ عِلۡمࣰا

“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” (QS. Taha:110).

Sumber: Al-Kalimat As-Sadidah, karya Syaikh Khalid Al-Juhani hafidzahullah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top