Iman kepada kitab Allah.

Oleh: Mukhlis Ibnu Katsir

Kata “Kitab” dalam bahasa Arab artinya pengumpulan dan penggabungan. Dan buku dinamakan dengan kitab; karena di dalamnya terdapat pengumpulan kata serta penggabungan huruf.

Adapun menurut Syari’at, Kitab adalah lembaran-lembaran yang mengandung firman Allah yang diwahyukan kepada para Rasul-Nya, baik dalam bentuk tulisan maupun melalui perantara malaikat.

Dalam beriman kepada kitab Allah, ada lima poin yang harus perhatikan oleh seorang mukmin:

Pertama:

Kata “Wahyu” dalam bahasa Arab artinya informasi. Adapun menurut Syari’at, Wahyu adalah informasi dari Allah yang diberikan kepada para Nabi-Nya. Dan Allah menyampaikan wahyu kepada Nabi-Nya dengan beberapa bentuk, diantaranya:

1. Mimpi.

Seperti kisah Nabi Ibrahim alaihissalam tatkala diperintahkan untuk menyembelih Ismail, sedangkan perintah tersebut didapatkan lewat mimpinya. Allah berfirman,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. [QS:Ash-Shaffat:102].

2. Bicara dari belakang tabir.

Artinya, Allah berbicara langsung dengan Nabi-Nya, namun ada tabir yang menghalangi, sehingga Nabi tersebut tidak bisa melihat Allah. Seperti apa yang terjadi kepada Nabi Muhammad tatkala peristiwa Isra dan Mi’raj, yaitu diwajibkannya shalat lima waktu.

3. Dengan perantara Malaikat.

Seperti Al-Qur’an, semua ayat-ayat Nya diturunkan dengan perantara Jibril alaihissalam. Allah berfirman,

نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلأَمِینُ

“Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril).” (QS. Asy-Syu’ara:193).

Kedua:

Beriman kepada semua kitab Allah yang diturunkan kepada para utusan-Nya, baik secara umum maupun terperinci. Beriman secara umum artinya kita mengimani bahwa Allah telah menurunkan kitab kepada para utusan-Nya, dan ini hukumnya wajib bagi setiap mukallaf.

Adapun beriman secara terperinci artinya kita meyakini dengan nama-nama kitab tersebut, kepada siapa diturunkan dan apa isinya. Seperti kita meyakini bahwa Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa, kitab Zabur kepada Nabi Daud dan Injil kepada Nabi Isa ‘alaihimussalam, dan ini hukumnya tidak sampai wajib.

Ketiga:

Meyakini bahwa semua kitab sebelum Al-Qur’an telah mengalami perubahan atau sudah hilang. Seperti Taurat dan Injil yang ada sekarang, itu semua sudah mengalami perubahan, baik ditambah maupun dikurangi. Allah berfirman kepada kaum Yahudi dan Nasrani,

يَاأَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ

“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan.” (QS. Al-Maidah:15).

Ibnu Katsir manafsirkan ayat ini, “Artinya Rasul tersebut menjelaskan apa yang telah mereka ganti, ubah, palingkan dan kebohongan yang dinisbatkan kepada Allah.”

Keempat:

Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa Sallam, berbahasa Arab, dijadikan bentuk ibadah dengan membacanya, dan tercantum di dalam Mushaf. Al-Qur’an adalah Firman Allah secara hakiki, baik lafaz maupun maknanya. Allah berfirman,

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah.” (QS. At-Taubah:6).

Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Dinukilkan dari salaf tentang kesepakatan mereka bahwa Al-Qur’an adalah Firman Allah, bukan Makhluk.” Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, bukan kepada Nabi yang lain. Allah berfirman,

نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلأَمِینُ  عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلْمُنذِرِينَ

“Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril).” Kedalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syua’ra:193-194).

Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab. Allah berfirman,

بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ

“Dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara:195).

Adapun terjemah Al-Qur’an maka tidak dinamakan Al-Qur’an, tapi makna Al-Qur’an. Al-Qur’an dijadikan bentuk ritual ibadah, artinya kita beribadah kepada Allah dengan membacanya, meskipun tidak memahami isi kandungannya. Jadi, membaca Al-Qur’an merupakan perintah Allah, dan pelakunya akan mendapatkan pahala. Rasulullah bersabda,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْف.

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan  المsatu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi).

Dan Al-Qur’an tidak akan mengalami perubahan dan pergantian; karena Allah telah menjamin untuk menjaganya. Allah berfirman,

إِنَّا نَحنُ نَزَّلنَا ٱلذِّكرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَـٰفِظُون

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr:9).

Al-Qur’an adalah firman Allah yang tercantum di dalam Mushaf sekarang.  Al-Qadhi ‘Iyadh berkata, “Sesungguhnya kaum muslimin telah bersepakat bahwa Al-Qur’an yang dibaca dipenjuru dunia, yang tertulis di Mushaf yang ada ditengah kaum muslimin, dikumpulkan oleh dua sampul yang diawali dengan الحمد لله رب العالمين sampai قل أعوذ برب الناس bahwa itu adalah firman Allah dan Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.”

Apakah ada firman Allah yang tidak tercantum dalam Mushaf sekarang? Ada, yaitu firman Allah yang telah mansukh (dihapus). Seperti firman Allah,

الشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ فَارْجُمُوهُمَا الْبَتَّةَ نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ.

Kelima:

Al-Qur’an adalah kitab terakhir yang diturunkan dan menjadi tolak ukur kebenaran. Al-Qur’an adalah kitab terkahir yang diturunkan dari langit; karena Al-Qur’an diberikan kepada Nabi terkahir, yaitu Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam. Allah berfirman,

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS. Al-Ahzab:40].

Al-Qur’an juga menjadi tolak ukur kebenaran. Artinya jika terdapat syariat sebelumnya yang menyelisihi apa yang ada dalam Al-Qur’an, maka Al-Qur’an menghapusnya. Allah berfirman,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.” [QS. Al-Ma’idah:48].

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top