Istighatsah Dalam Agama Islam.

Oleh: Mukhlis Ibnu Katsir

Kata Istighatsah secara ringkas artinya meminta pertolongan dari hal yang membahayakan dirinya; baik orang yang diminta masih hidup maupun sudah mati, namun masing-masing memiliki hukum tersendiri.

Dan istighosah termasuk dalam kategori ibadah; karena di dalamnya mengandung unsur doa. Bukankah doa termasuk ibadah?

Rasulullah Saw bersabda,


الدُّعاءُ هو العِبادَةُ


“Doa adalah ibadah.”

Bahkan itu termasuk ibadah yang paling mulia; karena dalam prosesi doa ada unsur perendahan diri serta pengagungan terhadap orang yang dimintai. Oleh karenanya sikap ini tidak boleh dihadiahkan kecuali hanya kepada Allah SWT.

Apa hukumnya?

Jika beristighatsah kepada orang yang masih hidup, dia juga mampu untuk melakukannya maka hal ini dibolehkan, sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat terhadap Rasulullah Saw.

Tetapi jika beristighatsah kepada orang yang sudah mati, maka ini Haram hukumnya.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Isra ayat 56 yang berbunyi,

قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱلَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِهِۦ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ ٱلضُّرِّ عَنكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا

أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Katakanlah: “Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya.

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.”

Berkaitan dengan ayat ini sebagian ulama salaf mengatakan bahwasanya, ada orang-orang yang berdoa kepada malaikat dan para nabi, lalu Allah SWT berfirman, “Mereka yang kalian sembah adalah hambaku sebagaimana kalian juga hambaku, mereka mengharapkan rahmatku sebagaimana kalian juga mengharapkan rahmatku, mereka takut terhadap adzabku sbeagaimana kalian juga takut adzab-Ku, mereka mendekatkan dirinya kepadaKu sebagaimana kalian juga mendekatkan dirinya kepada-Ku. Allah pun melarang kita untuk berdoa kepada mereka, meskipun para malaikat mendoakan kebaikan untuk kita. Begitu juga halnya dengan para nabi dan orang-orang shalih walaupun mereka hidup di kuburan maka tetap tidak boleh bagi seseorang untuk berdoa kepada mereka. Kenyatanya memang tidak ada diantara salaf yang melakukan hal demikian, karena itu sebuah wasilah menuju pintu kesyirikan.

Apakah Istighatsah termasuk syirik?

Iya, tentu istighatsah perbuatan syirik, bahkan syirik besar, meskipun pelakunya hanya berniat menjadikan shohib kubur sebagai wasilah saja, tidak meyakini bahwa dia bisa memberikan manfaat ataupun madharat.

Bukankah orang kafir Mekkah ketika di tegur karena menyembah berhala, mereka menjawab, “Kami hanya menjadikannya sebagai perantara saja?”.

Dan mereka meyakini bahwa tidak ada yang bisa memberikan manfaat ataupun madharat kecuali Allah SWT.

Oleh karenanya tatkala mereka tertimpa musibah besar, berupa ombak di tengah lautan, mereka hanya berdoa kepada Allah, tidak mau melantunkan doa kepada selain-Nya.

Apalagi perkataan sebagian saudara kita tatkala pergi berziarah ke Kuburan Husein,

مَدَدْ يا حسين


“Tolohlah aku wahai Husein.”

Ini jelas sekali bentuk permintaan kepada yang diseru, yaitu Husein.

Ingat, dosa syirik adalah satu-satunya dosa yang tak akan dimaafkan oleh Allah.

Ini seharusnya membuat kita lebih berhati-hati dalam masalah ini.

Coba lihat hadis yang menceritakan bahwa ada seorang munafik menyakiti para sahabat, lalu Abu bakar berkata, “Ayok kita beristighatsah kepada Rasulullah.” Dan merekapun datang menemui Rasulullah, dan beliau pun bersabda,

إِنِّي لا يُسْتَغاثُ بي إنَّما يستغاث بالله

“Aku gak di isighatsahi, istighatsah hanya kepada Allah.”

Kenapa Rasulullah berkata demikian? Bukankah itu adalah istighatsah kepada orang yang masih hidup, dan itu diperbolehkan?

Syeikh Sulaiman bin Abdullah Alu Syekh berkata, bahwa ucapan beliau ini dalam rangka mengajari para sahabat untuk beradab kepada Allah dalam memilih kata, menjaga kemurnian tauhid dan pengagungan kepada Allah SWT.

Kalau jika saja istighatsah kepada orang yang masih hidup dan pada hal yang mampu untuk dilakukannya beliau begini, maka bagaimana dengan perkara yang sejatinya hanya Allah yang mampu melakukannya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top