Istimewanya Puasa Asyura

Oleh: Mukhlis Ibnu Katsir

Alhamdulillah kita diberikan kesempatan untuk merasakan nikmatnya bulan Muharram, bulan yang memiliki keistimewaan besar dalam agama Islam.

Ibadah puasa Sunnah di bulan Muharram lebih utama dibandingkan puasa di bulan-bulan lainnya. Rasulullah Saw bersabda,

،أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ. رواه مسلم

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim).

Pada hadis diatas disebutkan bahwa puasa pada bulan tersebut lebih utama dibandingkan bulan yang lain, dan ini secara umum, tidak terikat pada tanggal atau hari tertentu, selama puasa dilakukan di bulan Muharram maka tetap lebih utama.

Namun ada hari yang dikhususkan oleh Rasulullah agar umat Islam berpuasa di dalamnya, yaitu hari ke sepuluh bulan Muharram yang dikenal dengan sebutan puasa Asyura.

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَوْمِ عَاشُورَاءَ يَوْمُ عَاشِرٍ. رواه الترمذي

“Rasulullah telah memerintahkan untuk berpuasa Asyura, yaitu hari kesepuluh.” (HR. Tirmidzi)

Apa keistimewaan puasa Asyura?
Puasa pada hari Asyura bisa menghapus dosa setahun yang lalu, Rasulullah Saw bersabda,

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَه. رواه مسلم.

“Dan puasa Asyura aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa satu tahun sebelumnya.” (HR. Muslim).

Umat Islam juga dianjurkan untuk berpuasa sehari sebelum hari Asyura, yaitu hari kesembilan, disebut juga dengan puasa Tasu’a.

Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, tatkala Rasulullah Saw berpuasa Asyura serta memerintahkan kepada para sahabat untuk berpuasa, mereka melaporkan bahwa hari tersebut sangat diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani, sehingga Rasulullah Saw bersabda,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Jika tahun depan tiba Insya Allah kita berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim).

Dari hadits ini, nampak jelas akan sebab dianjurkan puasa Tasu’a, yaitu untuk menyelisihi orang Yahudi dan Nasrani.

Kesimpulannya, hendaknya kaum muslimin memanfaatkan masa seperti ini, musim panen pahala dan pelebur dosa, dengan harapan ketika berjumpa dengan Allah dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.

Ingat, puasa Tasu’a dan ‘Asyura pada tahun ini (1442 H) bertepatan dengan hari Jum’at dan Sabtu tanggal 28/29.

Semoga Allah memberikan hidayah taufik kepada kita semua.

Wallahu a’lam.

Referensi:

  1. Sahih Muslim.
  2. Sunan Tirmidzi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *