Istri Shalihah Menentukan Masa Depan Anak.

Oleh : Ahmad Yasin

Seperti yang sudah kami sampaikan sebelumnya, termasuk dari kewajiban orang tua adalah mencarikan ibu yang baik untuk anaknya, dan sebaliknya calon ibu juga harus mencari bapak yang baik untuk anaknya.

Wanita Shalihah

Wanita dinikahi atas empat perkara sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam,

تُنْكَحُ المَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita dinikahi atas empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya, pilihlah agamanya maka engkau beruntung”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam kitab Manar Al Qari Syarh Mukhtashar Shahih al Bukhari, Syaikh Hamzah Muhammad Qasim menyebutkan, “Menikahi wanita karena agama dan akhlaknya yang baik merupakan sebaik-baik tujuan, karena wanita shalihah adalah sebaik-baik permata dunia, dan karena sebab itulah Rasulullaah Shallallaahu alaihi wa Sallam memerintahkan untuk segera memilihnya, beliau bersabda, ‘Maka pilihlah agamanya!’, makna perintah tersebut ialah bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan wanita shalihah yang baik agamanya, jika engkau melihatnya maka ia membuat gembira, jika engkau memerintahnya maka ia menaatimu, dan jika engkau tidak berada di sampingnya maka ia menjaga harta dan dirinya untukmu.” (Lihat Manar Al Qari juz 5 hal. 95-96).

Akhlak dan agama yang baik itulah yang akan menjadi dasar keluarga yang baik. Karena seorang ibu menjadi sekolah pertama bagi anaknya.

Syaikh Wahid bin Abdus Salam Bali mengatakan, “Orang muslim hendaknya memilih ibu yang baik bagi anak-anaknya, muslimah yang mengerti hak-hak Rabbnya, suaminya, dan anaknya, seorang ibu yang mengerti tugasnya dalam kehidupan ini, mengerti bagaimana menempatkan dirinya dalam menghadapi cobaan (dunia) ini, seorang ibu yang selalu semangat dengan agamanya, dan sunnah-sunnah Nabinya. Hal itu disebabkan karena seorang ibu merupakan sebuah pabrik yang akan mencetak anak-anaknya, dan ia juga sebagai sekolahan yang akan meluluskan anak-anaknya. Jika ia merupakan wanita shalilah maka ia akan mendidik anak-anakmu dengan kebaikan dan ketaqwaan, jika ia tidak shalihah maka seperti itu juga (tidak mengajarinya kebaikan dan ketaqwaan). (Lihat Kitab Ath Thariq ila al Waladi Ash Shalih hal. 10).

Baca juga : Berbakti kepada Orang Tua

Itulah standar wanita shalihah, yaitu yang ia mengerti hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, suaminya, dan anak-anaknya, yang selalu menjaga tanggungjawab dan kewajibannya. Sebagai contoh wanita shalihah adalah Asma’ binti Abu Bakar yang melahirkan Abdullah bin Zubair, Mundzir bin Zubair, dan Urwah bin Zubair, mereka merupakan pembesar-pembesar yang memiliki pengaruh dalam dunia islam serta kedudukan yang tinggi, riwayat kehidupan mereka kekal dan tidak akan dilupakan oleh kaum muslimin, dan Abdullah bin Zubair adalah khalifah yang dibaiat oleh penduduk makkah.

Jika Allah takdirkan berpasangan dengan yang kurang agamanya.

Jika Allah takdirkan berpasangan dengan yang belum baik agamanya, maka tetap jangan bersedih. Mintalah perlindungan dan pertolongan kepada Allah, serta selalulah berdoa agar dikuatkan dalam menjaga agama serta istiqomah didalamnya. Semua kebaikan dan keburukan di dunia ini adalah sebagai cobaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً

“Dan kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.” (QS. Al Anbiya’ : 35)

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ

“Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar?” (QS. Al Furqan : 20)

Dalam kitab Tafsir Muyassar dijelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mejadikan manusia sebagai cobaan bagi sesamanya, ketika ia dalam petunjuk atau ketika dalam kesesatan, ketika kaya atau fakir, ketika sehat atau sakit, dan apakah manusia akan bersabar menghadapinya tatkala keadaan yang berbeda itu dihadapkan padanya?.

Makna bersabar ialah bersabar istiqomah dalam ketaatan atau bersabar menghadapi musibah. Sabar dalam ketaatan ini adalah bertahan di dalamnya dan mendakwahkannya, jika salah satu pasangan tidak mengerti ilmu agama, maka yang memiliki ilmu agama wajib bertahan dan menuntunnya. Walaupun bisa jadi dalam hal ini seorang istri yang mengerti agama dan suami belum mengerti agama. Maka istri harus berani menuntun suaminya untuk belajar agama dengan cara yang baik, dan suami harus berlapang dada mengikuti tuntunan istri.

Jika keduanya belum mengerti ilmu agama, maka keduanya wajib bersama-sama menuntut ilmu agama. Alangkah indahnya jika berjuang bersama-sama belajar ilmu agama, mencari guru dan tempat mengaji bersama. Belajar bareng, mengulang pelajaran bareng, saling menyimak jika ada hafalan, sangat indah sekali bagaikan dunia hanya milik berdua saja.

Hal di atas merupakan perkara yang sangat penting sekali untuk dimengerti oleh pasangan suami istri. Agar tetap mensyukuri keadaan dan selalu kembali kepada Allah, dan juga demi masa depan keluarga yang cerah, terutama bagi keturunannya, serta agar bisa bertemu kembali kelak di surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tips mencari pasangan.

Mencari pasangan tidak boleh asal-asalan, karena menikah merupakan ibadah daimah (yang bersifat selamanya). Maka seseorang harus berhati-hati dalam memilih. Berikut beberapa tips mencari pasangan hidup.

  1. Berdoa memohon petunjuk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan selalu melaksanakan shalat istikharah setiap kali ingin mengambil sebuah keputusan.
  2. Hendaknya seseorang meminta bantuan kepada ustadz (orang yang berilmu) sebagai perantara mencarikan jodoh untuknya.
  3. Jika mengetahui ada akhwat shalihah jangan pernah menghubunginya secara langsung, karena setan akan terus bermain dan menggoda manusia, lebib-lebih fitnah terbesar bagi laki-laki adalah wanita. Maka hendaknya ia mencari perantara (yang dapat dipercaya dari sisi agama dan pengalamannnya) di antara keduanya.
  4. Mencari tahu tentangnya dari orang-orang terdekatnya misal saudara, orang tua, kawan dan semua yang memiliki hubungan kekerabatan atau selain kekerabatan dengannya.
  5. Jika menentukan kriteria tertentu maka hendaknya seseorang melihat dirinya sendiri juga, agar ia mengetahui kadar dirinya, sehingga ia tidak menentukan kriteria yang bisa jadi tidak mungkin bisa ia dapatkan.
  6. Utamakan yang penyayang.
  7. Carilah yang subur (dari sisi reproduksi biologis).

Untuk poin enam dan tujuh berdasarkan hadis Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam,

تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ

“Nikahkanlah wanita-wanita yang penyayang dan subur (banyak keturunan), karena aku akan berbangga kepada umat yang lain dengan banyaknya kalian.” (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh Al Albani)

Mencari tahu ia penyayang atau tidak bisa dicari tahu dari orang-orang terdekatnya. Untuk mengetahui kesuburan seseorang bisa dilihat dari jumlah saudara dan jumlah keturunan bapak, paman, kakek dan kerabat-kerabatnya.

Hal-hal di atas merupakan bentuk ikhtiyar manusia saja, untuk hasil adalah keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rezeki manusia dan jodohnya sudah ditulis oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan manusia diperintahkan untuk berusaha menggapainya dengan cara yang terbaik. Semua hal-hal di atas (dari awal artikel) juga berlaku bagi seorang wanita yang ingin mencari bapak yang baik untuk anaknya. Wallaahu a’lam.

Rujukan:

  1. Al Quran
  2. Tafsir Muyassar
  3. Shahih Bukhari
  4. Shahih Muslim
  5. Sunan Abu Dawud
  6. Kitab Manar Al Qari Syarh Mukhtashar Shahih al Bukhari, Syaikh Hamzah Muhammad Qasim
  7. Kitab Ath Thariq ila al Waladi Ash Shalih Syaikh Wahid bin Abdus Salam Bali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top