Jangan Berdebat

Oleh: Mukhlis Ibnu Katsir

Berdebat terkadang menjadi hobi bagi sebagian manusia, setiap ada sesuatu yang bertentangan dengan pendapatnya, segera ia langsung mengomentarinya.

Terlebih lagi pintu debat di zaman sekarang sangat terbuka luas dengan adanya media sosial.

Seorang muslim yang berakal tentunya akan berusaha untuk bersikap bijak dalam mengahadapi kondisi seperti ini.

Perdebatan dalam Islam, secara umum termasuk perbuatan yang tercela. Bahkan terkadang menjadi asal mula tersesatnya manusia.

Berdasarkan sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu,

َمَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الجَدَل

“Tidaklah suatu kaum tersesat setelah mereka diatas petunjuk melainkan karena berdebat.” (HR. Tirmidzi).

Kemudian Rasulullah Saw membacakan suatu ayat,

مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًۢا ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

“Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (QS. Az-Zukhruf:58).

Oleh karenanya, sebelum anda berdebat maka simaklah beberapa nasehat para ulama terlebih dahulu, diantaranya:

Pertama:
Perdebatan merupakan tanda keburukan masa depan bagi seseorang, Allah SWT ketika menginginkan kejelekan bagi hamba-Nya maka Dia akan menyibukkan hamba tersebut pada dunia perdebatan.

Imam Auza’i rahimahumullah berkata,

إذَا أراد الله بقومٍ شرًّا ألزمهم الجدلَ، ومنعهم العمَلَ

“Jika Allah menghendaki kejelekan bagi suatu kaum, maka Dia akan membuatnya berdebat, dan menghalangi mereka dari amalan.”

Jika kita perhatikan, maka apa yang dikatakan oleh Imam Auza’i adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri lagi.

Orang-orang yang suka debat gak terlalu peduli dengan amal kebaikan, atau mereka bosan dengan rutinitas mulia itu sehingga melampiaskan rasa bosannya kepada perdebatan yang sisa-sisa.

Imam Al-Hasan rahimahullah berkata,

مَا هَؤُلَاءِ إِلَّا قَوْمٌ مَلُّوا الْعِبَادَةَ وَوَجَدُوا الْكَلَامَ أَهْوَنَ عَلَيْهِمْ وَقَلَّ وَرَعُهُمْ فَتَكَلَّمُوا

“Tidaklah mereka melainkan kaum yang bosan dari ibadah, mereka mendapati perkataan lebih mudah bagi mereka, sedangkan sifat wara’ mereka sedikit, merekapun berbicara.”

Orang yang hobinya debat, meskipun ia berilmu maka ilmunya sedikit barakahnya; karena hakikatnya ia sedang menyeburkan dirinya ke jurang kehinaan.
Hatinya akan mengeras yang mengakibatkan susah menerima nasehat atau kebenaran dari orang lain.

Kedua:
Perdebatan bisa mengeraskan hati. Imam Malik rahinahullah berkata,

الْمِرَاءُ فِي الْعِلْمِ يُقَسِّي الْقُلُوبَ وَيُوَرِّثُ الضّغن

“Berdebat dalam ilmu akan mengeraskan hati dan mewariskan dendam.”

Ketiga:
Berdebat tdak ada manfaatnya, toh kalaupun ada maka itu sedikit sekali. Bahkan madharatnya lebih besar, yaitu mengobarkan api permusuhan diantara kaum muslimin.

Nabi Sulaiman ‘alaihis sallam berkata kepada anaknya,

يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ

“Wahai anakku, hati-hati dengan perdebatan; sesungguhnya manfaatnya sedikit, dan bisa merangsang permusuhan diantara saudara-saudara.”

Keempat:
Janji manis bagi yang meninggalkan perdebatan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ، بُنِيَ لَهُ فِي وَسَطِهَا

“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, padahal dia benar maka akan dibangunkan baginya (rumah) di tengah surga.” (HR. Ibnu Majah).

Kapan dibolehkan debat?

Ketika tujuannya semata-mata untuk membela kebenaran. Karena terkadang ada orang yang mencari jalan yang benar, sementara syubhat-syubhat sudah menyatu di akal pikirannya. Atau seseorang yang sengaja menyebarkan syubhat di tengah kaum muslimin, untuk mengguncangkan keyakinan mereka.

Meskipun dibolehkan, tetap harus memperhatikan protokol perdebatan, yaitu dengan cara yang terbaik.

Allah berfirman,

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (QS. An-Nahl:125).


Referensi:

  1. Sunan At-Tirmidzi.
  2. Sunan Ibnu Majah.
  3. Hilyah Auliya, Abu Nu’aim Al-Ashbahani.
  4. Syu’ab al-Iman, Al-Baihaqi.
  5. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, Ibnu Rajab Al-Hanbali.
  6. Syarah Ushul I’tiqad Ahlussunah wal Jama’ah, Al-Lalakai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top