Kakek Tua dan Uang 3,5 Miliar

Rasa takut kepada Allah adalah tanda jujurnya keimanan seseorang. Dia takut mengonsumsi barang haram di Dunia, dan dia rela untuk bersabar diatas kefakiran demi meraih kebahagiaan di Surga.

Jika berbuat dosa, maka dia tidak akan bisa istirahat sampai berlepas diri dari dosa yang telah dia lakukan.

Ibnu Jarir At-Thabari pernah berkisah,

“Aku pernah di kota Mekkah pada musim Haji. Aku melihat seorang laki-laki dari Khurasan memanggil, “Wahai Jama’ah Haji, wahai penduduk Mekkah; baik orang kota maupun desa!! Aku telah kehilangan satu kantong yang berisi 1.000 Dinar. Barangsiapa mengembalikannya kepadaku, Maka (aku doakan) semoga Allah membalas dengan sesuatu yang lebih baik, membebaskan dari api neraka, dan baginya pahala di hari perhitungan.”

Berdirilah seorang kakek tua dari kota Mekkah seraya berkata, “Wahai orang Khurasan, keadaan kota kita lagi susah, hari ibadah Haji bisa dihitung, musim haji terbatas, dan pintu penghasilan juga tertutup. Mungkin hartamu ada ditangan orang mukmin yang fakir dan sudah tua renta. Dia berharap kesepakatan denganmu, yaitu seandainya dia mengembalikan harta itu maka engkau rela untuk memberikan kepadanya sesuatu dan harta yang halal.”

“Apa hadiahnya? Berapa yang dia inginkan?.” Jawab orang tersebut.

“Dia ingin sepersepuluh, yaitu 100 Dinar.” Ujarnya.

Setelah mendengar jawaban kakek itu, orang asal Khurasan tidak ridha seraya berkata, “Aku tidak akan melakukannya, akan tetapi aku serahkan urusannya kepada Allah, dan aku akan mengadu kepada-Nya saat kita berjumpa dengan-Nya, Cukuplah Allah menjadi Penolong dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.

Ketika melihat percakapan diantara mereka berdua, Ibnu Jarir berkata, “Aku menyangka bahwa kakek tua itu adalah seorang fakir, dan dia yang menemukan kantong berisi uang tersebut, sedangkan dia menginginkan sebagian darinya. Maka aku pun mengikuti dia sampai kerumahnya, dan ternyata benar dugaan ku. Aku mendengar dia memanggil istrinya seraya berkata, “Wahai Lubabah.”

“Siap, Abu Ghiyats.” Jawab istrinya.

Kakek tua berkata, “Aku telah mendapati pemilik harta tersebut, dia sedang mencarinya, namun dia enggan memberikan balasan kepada orang yang menemukannya. Lalu aku berkata kepadanya, “Berikan kami seratus Dinar.” Tapi dia menolak, dan menyerahkan urusannya kepada Allah. Apa yang harus aku lakukan wahai Lubabah? Aku harus mengembalikan harta itu, aku takut kepada Tuhanku, dan aku takut Dia akan melipatgandakan dosaku.”

Istrinya langsung menjawab, “Hai orang laki-laki, kita telah menderita kefakiran bersamamu semenjak limapuluh tahun. Kamu memiliki empat anak perempuan, dua saudari, aku, ibuku, dan dengan dirimu berjumlah sembilan. Kita tidak memiliki seeokor kambing dan tempat penggembala. Ambillah harta itu semuanya, puaskan kita dengannya, sesungguhnya kita lapar. Belikan pakaian untuk kita, dan kamu lebih memahami keadaan kita. Semoga Allah setelah itu akan memberikan kecukupan kepadamu, sehingga kamu bisa mengembalikan harta tersebut atau Allah melunasi hutangmu pada hari kiamat.”

Baca juga kisah lainnya : Kisah Abu Thayyeb At-Thabari

Setelah mendengarkan nasehat dari istrinya, dia berkata, “Wahai Lubabah, apakah aku akan memakan sesuatu yang haram setelah umurku mencapai 86 tahun? Apakah aku akan membakar perutku dengan api neraka setelah aku bersabar diatas kefakiran? Apakah aku akan menjadi orang yang berhak mendapatkan kemurkaan Allah? Sedangkan aku sudah dekat dengan kuburanku. Demi Allah, aku tidak akan melakukannya.!!”

Ibnu Jarir berkata, “Akupun pergi dalam keadaan kagum kepadanya.”

Dia melanjutkan kisahnya, “Tatkala datang waktu pagi, aku mendengar pemilik harta memanggil seperti hari kemarin.

Berdirilah kakek tua seraya berkata, “Wahai orang Khurasan, sudah kubilang kemarin, dan aku juga sudah menasehatimu. Demi Allah di kota kita tumbuhan dan air susu sedikit. Usahakan, berilah sesuatu bagi penemu harta tersebut, agar dia tidak menyelisihi Syari’at. Aku telah katakatan kepadamu agar kamu rela memberikan penemunya seratus Dinar, namun engkau menolak. Sekiranya hartamu ada pada seorang yang takut kepada Allah, tidakkah engkau memberikan sepuluh Dinar saja sebagai pelindung (dari adzab), rizki yang menutupi kebutuhannya dan juga amanah?.”

Orang Khurasan menjawab, “Aku tidak akan melakukannya, aku berharap hartaku disisi Allah, aku akan mengadu saat kita berjumpa dengan-Nya, Cukuplah Allah menjadi Penolong dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”

Datanglah hari berikutnya, dan pemilik harta tersebut memanggil seperti hari sebelumnya.

Maka berdirilah kakek tua seraya berkata, “Wahai orang Khurasan, aku sudah katakan kepadamu kemarin, berikan sertaus Dinar bagi penemu harta namun engkau menolak. Kemudian sepuluh Dinar namun engkau pun menolak. Tidakkah engkau berikan satu Dinar saja, agar dengan setengah dinarnya dia bisa membeli apa yang dia inginkan dan dengan setengah yang lain dia membeli seekor domba untuk diperah susunya, sehingga bisa meminumnya dan bekerja, juga memberi makan anak-anaknya?.”

Orang tersebut berkata, “Aku tidak akan melakukannya, tetapi aku serahkan urusannya kepada Allah, dan aku akan mengadu saat berjumpa dengan-Nya, Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”

Setelah mendengar jawaban itu, kakek tua tersebut langsung menariknya seraya berkata, “Kemarilah, ambil uangmu, dan biarkan aku bisa tidur di malam hari, pikiran ku tidak pernah nyaman semenjak aku menemukan harta ini.”

Ibnu Jarir berkata, “Diapun pergi bersama pemilik harta itu. Dan aku mengikuti mereka berdua hingga kakek tua masuk kedalam rumahnya. Lalu kakek tadi menggali tanah dan mengeluarkan harta tersebut seraya berkata, “Ambillah hartamu. Aku memohon kepada Allah agar mengampuniku dan memberikan rizki kepadaku dengan karunia-Nya.”

Maka pemilik harta pun mengambilnya dan langsung pergi. Tatkala sampai di pintu rumah, dia berkata, “Wahai Syaikh, bapakku telah meninggal dunia. Dan dia meninggalkan harta sebanyak 3000 Dinar. Dia berkata kepadaku, “Ambillah sepertiganya, lalu berikan kepada orang yang paling berhak disisimu. Maka aku pun mengikat uang tersebut di kantong ini hingga aku memberikan kepada siapa yang berhak. Semenjak aku keluar dari kota Khurasan sampai ke sini, Demi Allah tidaklah aku melihat orang yang lebih utama dari padamu. Maka ambillah, semoga Allah memberkahimu, Jazakumullahu khairan atas sifat amanahmu dan kesabaranmu diatas kefakiran.” Lalu diapun pergi dan meninggalkan hartanya.

Kakek itu langsung berdiri dan menangis, seraya berdoa, “Ya Allah berilah rahmat kepada pemiliki harta ini di kuburannya, dan berkahilah anaknya.”

Jika kita setarakan dengan mata uang Indonesia, maka satu Dinar sama dengan 3,5 Jt. Berarti seribu Dinar sama dengan 3,5 Miliar.

Allahu Akbar!!

Sungguh benar firman Allah,

ذَ ٰ⁠لِكُمۡ یُوعَظُ بِهِۦ مَن كَانَ یُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡیَوۡمِ ٱلۡـَٔاخِرِۚ وَمَن یَتَّقِ ٱللَّهَ یَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجࣰا

وَیَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَیۡثُ لَا یَحۡتَسِبُۚ وَمَن یَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥۤۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَـٰلِغ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَیۡءࣲ قَدۡرࣰا

“Demikianlah dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat diberikan pelajaran. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At-Thalaq:2,3).

Wahai saudaraku, masihkah anda ragu dengan janji Allah?

Ingat! Sesungguhnya Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.

Semoga Allah senantiasa menegeuhkan hati kita diatas ketaatan dan ketakwaan kepada-Nya. Amin.


Sumber kisah:
https://ar.islamway.net.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top