Kaum Jahiliyah Dan Konsep Ketuhanan

Oleh: Ryan Hidayatullah, Lc

Sebelum Islam datang, bangsa Arab di mekah disebut sebagai bangsa jahiliyah. Jahiliyah secara harfiyah bermakna kebodohan. Disebut kaum jahiliyah karena masyarakat Arab pada saat itu mengalami kebodohan, kerusakan moral dan akhlak. .

Ja’far Ibnu Abi Thalib radhiallahu’anhu  menggambarkan keadaan masyarakat Arab Quraisy sebelum datangnya iman dan tauhid. Beliau berkata, “kami dahulu adalah orang-orang bodoh. Kami menyembah berhala, memakan bangkai, melaksanakan perbuatan keji, memutus silaturrahim, berbuat jelek kepada tetangga, yang kuat menekan yang lemah dan kami tetap berada dalam keadaan demikian, sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul…”

Tahukah anda, apa faktor utama yang  merusak akhlak, moral dan budaya orang Quraisy dahulu, sehingga mereka dihinakan dan dikucilkan oleh bangsa lain?

jawabannya karena kebodohan mereka dalam memahami konsep ketuhanan dan Rusaknya Aqidah orang-orang Arab mekkah.

Gambaran kebodohan masyarakat jahiliyah.

Sebelum Islam datang, orang-orang arab dahulu menjadikan berhala, batu, dan pohon sebagai sesembahannya. Setiap suku mempunyai berhala yang diagungkan dan disembah.

Apabila mereka tidak mendapatkan patung yang bisa disembah, mereka akan menjadikan buah kurma sebagai berhalanya. Dan  jika mereka lapar, maka mereka akan memakan kurma tersebut, kemudian menggantikannya dengan yang baru.

Bayangkanlah! Bagaimana keterbelakangan dan kedangkalan pemahaman orang jahiliyah dalam memahami teori ketuhanan?

Mughirah Ibnu Syu’bah berkata: Dahulu kami adalah kaum penyembah patung yang dipahat dari batu, apabila kami mendapati batu yang lebih baik, maka kami membuang patung yang jelek dan kami ganti dengan yang lebih baik.

Konsep ketuhanan menurut pemahaman jahiliyah

Sebenarnya pemahaman orang jahiliyah terhadap konsep ketuhanan, masih terdapat pengaruh dari ajaran Ibrahim dan Isma’il a’laihimassalam.

Karena itu mereka mempercayai dan mengimani  bahwa Allah sang pencipta, dialah yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta ini. Allah ta’ala berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Dan sungguh jika engkau (Muhammad) bertanya kepada mereka (kaum jahiliyah), siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Pasti mereka mengatakan “Allah.” Katakanlah , segala puji bagi Allah, tetapi mereka tidak mengetahui. [QS.Luqman: 25]

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

Dan jika engkau bertanya mereka, siapakah yang menciptakan diri mereka? Niscaya mereka menjawab “Allah”; jadi bagaimana mereka bisa dipalingkan (dari menyembah Allah). [Az-Zukhruf: 87]

Ayat-ayat ini menjelaskan, bahwa keimanan orang-orang jahiliyah hanya sebatas iman dengan Rububiah Allah Ta’ala, yaitu mengimani bahwa hanya Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan seisinya, mengatur, dan menguasai seluruh alam semesta.

Namun dibalik keimanan mereka terhadap Rububiah Allah, bersama itu juga mereka menjadikan berhala sebagai sekutu atau tandingan-tandingan untuk-Nya.

Imam Ibnu Katsir berkata: Maka tidak heran jika mereka dijuluki sebagai kaum jahiliyah, karena sebenarnya hanya orang-orang jahil dan dangkal pikiran yang memahami konsep ketuhanan seperti ini.[1]

Pemahaman mereka terhadap Allah hanya sebatas teori belaka, karena mereka hanya mengimani Allah dari segi Rububiah-Nya dan mengingkari dari segi U’budiah-Nya.

Maksudnya, mereka mempercayai adanya sang pencipta yang menguasai dan mengatur alam ini, namun bersama itu juga mereka tetap beribadah, meminta, berdoa,atau berkurban kepada berhala-berhala yang dibuat dari tangan mereka sendiri.

Abdullah ibnu Abbas berkata: “Apabila kalian bertanya kepada mereka (kafir quraisy) siapa yang menciptakan langit, bumi, dan gunung? Mereka pasti berkata “Allah”, bersama itu juga mereka menyetukan Allah”.[2]

Rasulullah shalallahualaihi wasallam pernah bertanya kepada Hushain Al-Khuza’i (ayah dari sahabat yang mulia ‘Imran radhiallahu’anhu: “Wahai, Hushain! Berapa banyak tuhan yang engkau sembah?

Dia menjawab: Tujuh di bumi, dan satu di langit. Rasulluah berkata: Jika engkau dalam kesusahan kepada tuhan mana yang engkau harapkan pertolongannya? Dia menjawab: yang di langit.”[3] 

Subhnallah! Beginilah potret pemahaman orang jahiliyah terhadap tuhan mereka, maka tidak heran jika mereka dijuliki sebagai kaum jahiliyah, kaum bodoh yang dangkal dalam pemahaman.

Poin-poin penting

Dari penjelasan di atas terdapat beberapa poin penting yang harus kita ketahui bersama;

Keimanan tidak cukup dengan teori.

keimanan orang qurasiy terhadap Allah dari segi rububiah-Nya hanya teori belaka, karena itu mereka tidak termasuk dalam golongan orang yang beriman.

Seharusnya, orang yang mengimani terhadap Rububiah Allah, tidak boleh mempersekutukan Allah dalam ibadah-ibadahnya. karena, ibadah merupakan praktek dan bukti atas keimanan ia terhadap Rububiah Allah.

Jika seseorang hanya mengimani Allah sebatas dari Rububiah-Nya saja, maka dia telah berdusta atas keimanan dia sendiri. oleh karena itu kaum jahiliyah tidak disebut sebagai orang yang beriman. Allah berfirman:

وَما يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

“Dan kebanyakan mereka (kaum jahiliyah) tidak beriman kepada Allah, bahkan mereka mempersetukan-Nya” [QS. Yusuf:106]

Oleh karena itu, Islam selalu mengajak umatnya agar selalu menjauhi kesyirikan dalam ibadah, dan mempersembahkan seluruh ibadah hanya untuk Allah semata. Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai manusia! Sembahlah tuhan kalian (tanpa mempersetukannya), karena dia telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kalian menjadi orang yang bertakwa” (Al-Baqarah, 21)

Aqidah yang rusak menyebakan kerusakan dalam masyarakat.

Buruknya aqidah dalam suatu masyarakat merupakan penyebab utama kehancuran akhlak dan moral pada masyarakat tersebut, sehingga dapat menyebabkan kebobrokan dan kemunduran dalam peradaban suatu bangsa.

Dan ini jelas dapat kita melihat dari kemajuan dan perkembangan pesat bangsa Arab mekkah ketika Islam dan iman masuk kedalam hati mereka, Maka terangkatlah kebodohan, keterbelakangan moral, dan perpecahan sesama mereka.

Ketika bangsa Arab mengetahui bahwa hidup dan matinya hanya untuk Allah, disitulah kemajuan bangsa arab menjadi luar biasa dasyatnya, sampai-sampai mereka dapat menaklukkan bangsa terkuat disaat itu romawi dan persia.

Kesombagan kaum jahiliyah terhadap ajaran tauhid.

Sebenarnya orang-orang jahiliyah mengetahui maksud dari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah kepada mereka, mereka mengetahui bahwa islam mengajak untuk mempersembahkan seluruh ibadah hanya kepada Allah, namun mereka tetap mengingkari hal tersebut.

keingkaran mereka terhadap tauhid yang di bawa Rasulullah, didasari karena kesombongan dan keangkuhan mereka. sehingga Allah Ta’ala menutup pintu-pintu hidayah-Nya atas diri mereka.

Hal ini terbukti dalam kisah yang shahih, ketika Abu Thalib sakit, datanglah kaum Quraisy mengadu perihal ajakan Rasulullah.

mereka berkata: “bebaskanlah kami dari ulah keponakanmu itu, perintahkanlah kepadanya agar dia menahan diri dan tidak lagi mencaci maki sembahan-sembahan kami, maka kami akan membiarkan dia bebas bersama Tuhan yang disembahnya.”

kemudia Abu Thalib bertanya kepada Nabi Shalallahu’alai Wasallam: ”Apa yang engkau inginkan dari kaummu, hai keponakanku?”

Rasulullah menjawab: “Aku ingin agar mereka mengucapkan satu kalimat yang dengan kalimah itu semua orang Arab akan tunduk kepada mereka dan mereka dapat menguasai orang-orang Ajam.” 

Abu Jahal yang ada di antara mereka berkata: “katakanlah apakah kalimah itu, sungguh kami akan memberikannya kepadamu dan sepuluh kali lipatnya.?”

Rasulullah menjawab: katakanlah “tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah.”

Kaum Quraisy berkata: “”Mintalah kepada kami selain itu!”

Rasulullah menjawab: “Sekiranya kalian dapat mendatangkan matahari kepadaku, lalu kalian letakkan di tanganku, aku tidak akan meminta kepada kalian selain dari kalimat itu.”

Mereka kaget dengan jawaban Rasulullah tersebut, kemudian mereka mengolok-ngoloknya, seraya berkata: “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Demi Tuhan, kami benar-benar akan mencaci maki kamu dan Tuhanmu yang telah memerintahkanmu menyampaikan hal ini.”

Kisah selengkapnya bisa klik link di sini

pentingnya Belajar dari kesalahan orang lain

Pentingnya bagi umat muslim mengambil pelajaran dan ‘ibrah dari keburukan dan kesalahan kaum jahiliyah, bukan untuk mengikuti keburukan mereka, akan tetapi agar umat muslim tidak jatuh dalam kesalahan yang sama baik dari segi pemahaman, sifat, dan akhlak.

Umar Ibnu Khatab berkata: “Tidak ada yang dapat mengetahui hakikat keagungan dan kemuliaan islam dan syari’atnya sebelum dia mengetahui kelamnya dan sengsaranya kehidupan kaum jahilayah dahulu”.[4]  

Baca juga: Bagaimana status ibadah yang bercampur riya? 


[1] Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azdim: 7/223.

[2] Tafsir Al-Qur’an Al-Azdim: 4/358.

[3] Al-Mustadrak: 3/51

[4] Al-Inrafat Al-‘Aqdiah: 35

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top