Kesungguhan Para Salaf Dalam Meraih Lailatul Qadar

Oleh: Ustadz Ryan Hidayatullah Lc.

Ketahuilah, sesungguhnya Allah ﷻ telah memilih dan memuliakan bulan Ramadhan diantara bulan yang lain, juga memuliakan malamnya dari pada malam yang lain. Diantara malamnya terdapat satu malam yang memiliki kemuliaan lebih baik dari pada seribu bulan; malam yang diselimuti keselematan, keamanan, keberkahan, dan kebaikan. 

Pada malam itu Al-Qur’an diturunkan, malam yang Allah ﷻ menyuruh para malaikat untuk turun ke dunia untuk membawa keberkehan, semua doa yang dipanjatkan akan terkabul dengan izin Allah ﷻ. Maka dari itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan juga para salaf sangat bersungguh-sungguh dalam mencari kemulian yang ada padanya .

Diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah radiallahu ‘anha, “Bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam memperbanyak ibadahnya di sepuluh akhir Ramadhan melebihi dari hari-hari yang lainnya”. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam juga  menganjurkan umatnya untuk berusaha mencari kemuliaan dan keberkahan malam lailatul qadar, beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

تَحَرَوا لَيْلَة القَدَر في العَشْر الأَوَاخِر مِن رَمَضَان

 “Carilah malam lailatul qadar di malam sepuluh akhir Ramadhan” (HR. Bukhari dan Muslim).

التمسوها في العشر الأواخر من رمضان   

“ Bersunguh-sungguhlah kalian pada sepuluh akhir Ramadhan“ )HR. Bukhari dan Muslim).

Tidak terasa kita sudah di penghujung bulan Ramadhan. Sebagai umat yang cerdas, kita harus memanfaatkan malam yang tersisa ini dengan lebih memperhatikan kuantitas dan kualitas ibadah kita, agar kita tidak melewati malam lailatur qadar begitu saja tanpa melakukan kebaikan sama sekali. 

Imam Ibnu Al-Qayyim rahimahullahu berkata, “Jika seandainya lailatul qadar itu harus dicari sepanjang tahun, maka niscaya aku akan menghidupkan seluruh (malam) dalam satu tahun sehingga aku bisa mendapatkan nya, lalu bagaimana pendapatmu apabila malam lailatul qadar terjadi hanya pada 10 hari (terakhir di bulan Ramadhan).”1

Maka, bagaimana kesungguhan dan keseriusan Rasulullah ﷺ dan para salaf dalam mencari malam lailatul qadar di sepuluh akhir bulan Ramadhan?

Berikut ini beberapa gambaran yang dapat dapat kami paparkan:

Pertama:

‘Aisyah radhiallahu’anha pernah mengisahkan tentang keadaan Rasulullah ﷺ,

كان النبي صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَل العَشْر شَدَّ مِئْزَرَه وأَحْيَا لَيْلَه وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Rasululullah Shalallahu alaihi wa Sallam apabila telah memasuki sepuluh akhr bulah Ramadhan, beliau akan mengencangkan ikat sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya”. (HR.Bukhari Muslim).  

Poin penting yang dapat kita ambil dari hadist ini yaitu ketika Rasulullah ﷺ memasuki sepuluh akhir Ramadhan, beliau melakukan tiga hal:

  • Mengencangkan ikatan sarungnya. 

Maksudnya adalah Rasulullah ﷺ tidak mendatangi atau menggauli istrinya disepuluh akhir Ramadhan. Ibnu Rajab berkata, “Maksud dari “ mengencangkan sarungnya” adalah kiasan dari kalimat jima’ yang artinya beliau menjauhi istri-istrinya dimalam sepuluh akhir Ramadhan2

  • Menghidupkan malamnya dengan memperbanyak shalat. 

Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda: 

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang menghidupkan lailatul qadar dengan tahajud (shalat malam) atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR.Bukhari Muslim)

Ibrahim ibnu Waqi’ rahimahullahu pernah mengisahkan, “Ayahku pernah melakukan shalat malam, dan semua orang yang ada dirumah juga melakukan shalat dengannya, hingga budak hitam kamipun ikut (shalat bersama kami) ”.

Sufyan Asauri rahimahullahu berkata, “Hal yang paling aku sukai bila masuk malam sepuluh terakhir adalah memperbanyak shalat.” 

 Anas radhiallahu ‘anhu berkata, “ Rasululullah Shalallahu alaihi wa Sallam bila masuk bulan Ramadhan beliau membagi malamnya untuk shalat dan tidur, jika telah masuk malam kedua puluh empat beliau menghidupkan malamnya sampai datang waktu subuh3

  • Membangunkan keluarganya. 

Dikisahkan dari ‘Ali radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam jika telah masuk sepuluh akhir Ramadhan beliau akan membangunkan istri dan anak-anaknya jika mereka mampu. (HR.tirmidzi:759)

Diriwayatkan dari Imam Bukhari (7374), “Rasulullah pernah mengetuk pintu rumah Ali dan Fatimah seraya berkata, “Bangunlah agar kalian bisa shalat.”

Diriwayatkan juga dari Imam Malik  dalam kitab Muwatha’ (1/119), “Umar bin Khatab radhiallahu’anhu jika telah masuk sepuluh terakhir beliau akan memperbanyak shalat, apabila telah sampai pertengahan malam, beliau akan membangunkan keluarganya seraya berkata, “Shalatlah! Shalatlah!.”

Kedua:

Mengakhirkan makanan berat diwaktu sahur. 

Diriwayatkan dari ‘Aisyah dan Anas bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam jika telah masuk sepuluh terakhir Ramadhan beliau akan mengakhirkan makan malamnya diwaktu sahur4.

Ketiga:

 Mandi, membersihkan diri, dan memakai wangi-wangian . 

Kami tidak mendapatkan hadist shahih tentang amalan ini, namun hal ini sering dilakukan oleh para ulama salaf. Ibnu Jarir rahimahullahu berkata, “Jika telah masuk sepuluh malam terakhir mereka mensunnahkan untuk mandi setiap malamnya5”. Diriwayatkan bahwa Imam Nakha’I rahimahullahu apabila malam sepuluh akhir Ramadhan telah masuk, beliau mandi setiap malamnya. Juga diriwayatkan bahwa Ayub Sakhtiyani rahimahullahu mandi dan membersihkan dirinya dimalam dua puluh tiga dan dua puluh empat, kemudian memakai baju baru di kedua malam tersebut.

Keempat:

Memperbanyak membaca Al-Quran. 

Para ulama salaf dulu mereka memperbanyak membaca Al-Qur’an di sepuluh malam terkhir ini. Dikisahkan bahwa Imam Malik rahimahullahu jika bulan Ramadhan tiba beliau akan mentutup majlis hadistnya, dan fokus menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Qur’an. 

Al-Aswad ibnu Zaid rahimahullahu Beliau dapat mengkhatamkan Al-Qur’an dua hari sekali di bulan Ramadhan . Qatadah rahimahullah pada hari biasa beliau menghatamkna Al-Qur’an seminggu sekali, namun jika Ramadhan datang beliau mengkhatamkan tiga hari sekali, dan jika masuk sepuluh malam terakhir beliau mengkatamkannya setiap malam.

Imam Syafi’i rahimahullah, dapat mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an dibulan Ramadhan sebanyak enam puluh kali diluar shalat6.

Kelima:

Memperbanyak sedekah. 

Sedekah adalah amalan yang paling agung, dapat menghapus dosa dan menjaga dirinya dari api neraka. Apalagi jika sedekah ini dilakukan orang yang berpuasa, juga dikeluarkan dibulan Ramadhan tentu kemuliaannya semakin bertambah.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Rasulullah Shalalallahu ‘alaihi wa Sallam orang yang paling gemar memberi sedekah, semangat beliau dalam memberi sedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan, ketika itu Jibril menemui beliau, dan dia menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan, dia mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasulullah Shalalallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang yang paling semangat dalam melakukan kebaikan seperti halnya tiupan angin”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Shalalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, 

أَفْضَلُ الصَدَقَة صَدَقَة فِي رَمَضَان

“Sebaik-baik sedekah adalah sedekah yang dikeluarkan di bulan Ramadhan7”.

Keenam:

Beri’tikaf di mesjid. 

Rasulullah Shalalallahu ‘alaihi wa Sallam senantiasa melakukan i’tikaf bila memasuki sepuluh terakhir di bulan Ramadhan hingga beliau wafat. I’tikaf adalah  berdiam diri di mesjid dalam rangka beribadah utuk mendapatkan keridhaan Allah semata, dan menjauhi hal-hal yang dapat menyibukkan dirinya dari ibadah, dan hukumnya adalah sunnah mu’akadah (ditekankan).

Ibnu Syihab rahimahullahu berkata, “Aku merasa aneh jika melihat banyak kaum muslimin yang meninggalkan I’tikaf di bulan Ramadhan, padahal Rasulullah Shalalallahu ‘alaihi wa Sallam tidak pernah meninggalkannya sekalipun sejak beliau hijrah ke Madinah hingga    beliau wafat.”

Malam lailatul qadar termasuk hadiah dan nikmat terbesar yang Allah ﷻ berikan kepada ummat Muhammad Shalalallahu ‘alaihi wa Sallam. Oleh karenanya dihari-hari yang tersisa ini mari kita meningkatkan dan memperbanyak ibadah kita, karena sesungguhnya malam lailatul qadar tidak akan didapatkan kecuali bagi orang yang bersungguh-sungguh untuk mencarinya. 

Ibnu Rajab rahimahullahu berkata dalam sya’irnya, 

“Wahai para pemuda yang mencari malam lailatu qadar, berusahalah

sesungguhnya doa yang dipanjatkan dimalam itu tidak akan tertolak

dan tidak ada yang mampu menghidupkan malam ini

kecuali dia yang mempunyai tekad kuat dan bersunguh-sungguh”.

Semoga Allah ﷻ memberi taufik untuk semuanya. Amin.

Sumber rujukan :

1. Bada’il Fawaid (1/55).

2. Lathaifil Ma’arif (1/342).

3. Hilyah (6/306), diriwayatkan dari Abu Nu’aim.

4. Hilyatul Auliya (6/281) Riwayat hadist ini dha’if, namun bisa dikuatkan dengan Riwayat dari Shahih Bukhari ( 1963, 1968).

5. Lathaiful Ma’arif (1/346).

6. Rujukan yang sama (1/318)

7. Sunan Tirmidzi (663), beliau berkata, “Hadist Ini gharib.” 

4 Replies to “Kesungguhan Para Salaf Dalam Meraih Lailatul Qadar”

  1. Teuku Hasanuddin berkata:

    Ma sya Allah…
    Yaa Allah… berikanlah kami paham dalam ilmu agama…

    1. Penamuslim berkata:

      Terimakasih telah berkunjung ke web kami, semoga bermanfaat.

  2. Fairuz Hidayat berkata:

    MaasyaaAllah
    Baarakallah fiikum

    أحسن الله إليكم

    1. Penamuslim berkata:

      Terimakasih telah berkunjung ke web kami, semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top