Ketaatan Tetap Terus Berlanjut, Meskipun Ramadhan Telah Berakhir

Oleh: Ustadz Ryan Hidayatullah Lc.

Sesungguhnya hak Allah tidak akan berhenti dengan perginya bulan Ramadhan, namun tetap harus dipenuhi dan berlanjut sampai kematian menjemput kita. Maka merugilah suatu kaum yang hanya bersungguh-sungguh dalam ketaatan Kepada-Nya di bulan Ramadhan, kemudian dia ganti dengan kelalaian, bersenang-senang, dan kemaksiatan setelahnya. Allah berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حتّى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْن

“ Dan sembahlah tuhanmu sampai ajal menjemputmu.”

Ayat ini menunjukkan bahwa hak Allah tidak akan berhenti sampai kematian menghampiri kita, sebagimana Isa alaihissalam berkata, “Sesungguhnya Rabku memerintahkanku Untuk mendirikan shalat dan membayar zakat selama aku hidup.”

Allah adalah Rabb yang memiliki Ramadhan, Rabb di bulan Syawal, dan Rabb di seluruh bulan.  Maka teruslah istiqamah dalam ketaatan, dan jagalah ibadah puasa kita, sedekah, shalat malam, dan membaca Al-Quran yang dilakukan selama bulan Ramadhan.

Janganlah berhenti dengan perginya bulan Ramadhan, akan tetapi kerjakanlah walaupun sedikit dengan tetap konsisten , sesungguhnya amalan shaleh tetap terus ada di sepanjang waktu. 

Selayaknya orang yang telah keluar dari bulan Ramadhan maka ketakwaannya dan amal ibadahnya harus lebih meningkat, karena tanda diterimanya suatu amalan dibulan Ramadhan adalah dia yang diberi petunjuk untuk berbuat kebaikan setelah melakukan kebaikan.

 Ibnu Rajab berkata, “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan kemudian dia tetap konsisten melakukannya di hari setelahnya, Maka ketahuilah bahwa itu tanda diterimanya amalan”.   

Baca juga : Menyambut 10 Terakhir Bulan Ramadhan

maka janganlah kita tinggalkan ketaatan yang telah dilakukan selama Ramadhan, lalu diganti dengan kemaksiatan dan kelalaian pada bulan setelahnya, karena itu ibarat orang yang mengurai benang lalu dipintai dengan kuat, kemudia dia cerai-beraikan kembali. Sebagaimana Allah berfirman,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا

“Dan janganlah kalian menjadi seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintai dengan kuat, kemudian dia cerai-beraikan kembali.”

Kemudian berhati-hatilah dengan sifat puas dan sombong, sehingga akan merasa bahwa kita telah mengumpulkan banyak kebaikan selama Ramadhan yang dapat membekali kita di akhirat, sungguh ini adalah perbuatan yang dibenci Allah. Allah berfirman,

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ

Sebagian ulama tafsir mengartikan ayat ini dengan, “Dan janganlah kalian (mengira) telah beramal banyak kepada tuhanmu.”

Dan ini adalah pendapat yang di kuatkan oleh Ibnu Jarir, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Ibnu Katsir dalam kitabnya.

Ketahuilah, bahwa ini tipu daya syaithan yang selalu dibisikkan ke kaum muslimin untuk menghancurkan amalan-amalan mereka dan menghapus kebaikan yang telah dikerjakan. Maka tidak heran jika sebagian muslimin merasakan kebebasan jika Ramadhan berakhir, seakan-akan mereka merasa dikekang selama Ramadhan, kemudian mereka dibebaskan ketika Ramadhan berakhir. Sehingga banyak orang yang bergelimang dengan kelalaian dan kemaksiatan setelah Ramadhan. 

Para ulama terdahulu, jika Ramadhan telah pergi meninggalkan mereka, maka mereka akan menampakkan kesedihan dan kecemasan karena takut atas amalannya selama Ramadhan tidak diterima; karena mereka sadar bahwa Allah tidak menerima amalan kecuali dari orang-orang yang bertakwa. Allah berfirman,

إنما يتقبل الله من المتقين

“Sesungguhnya Allah hanya menerima Amalan dari orang-orang yang bertakwa.”

Diriwayatkan bahwa salah seseorang berkata, “Sesunguhnya hari ini (hari ‘id) hari bersenang-senang, bagaimana anda bisa bersedih di hari ini?” Kemudian dia menjawab, “bagaiman aku tidak bersedih, sedangkan aku tidak mengetahui apakah amalanku selama Ramadhan diterima atau tidak.”

Ibnu Rajab berkata, “Para ulama salaf terdahulu jika Ramadhan telah berakhir maka mereka berdoa selama enam bulan agar amalan-amalannya diterima disisi Allah Azza wa Jalla, kemudian selama enam bulan yang tersisa mereka berdoa agar berjumpa dengan Ramadhan di tahun depan.”

Maka dari itu, perbanyaklah doa agar Allah menerima puasa dan qiyam kita, dan mohonlah ampunan dan taubat kepada Allah sebelum pintu taubat tertutup.

Kemudian Berbahagialah di hari ‘id ini dengan bersyukur atas kenikmatan yang diberikan selama bulan Ramadhan sehingga kita mampu untuk menyempurnakan puasa dan shalat kita. Maka atas kenikmatan ini kita bergembira, bukan bergembira dan merayakan ‘id karena bulan Ramadhan telah berakhir, Karena hakikat dari hari ‘id adalah dia yang mendapati keselamatan di dunia dan di akhirat.

Hasan Al-Bashri berkata, “Hari ‘id adalah hari yang tidak ada didalamya maksiat dan kemungkaran, dan setiap mukmin yang konsisten dalam ketaatan, bersikir dan bersyukur atas nikmat yang telah diberikan maka dia berhak untuk mendapatkan ‘id.”

Umar bin Abdul Aziz berkata ke putrinya, “Wahai anakku! Sesungguhnya hari raya itu bukan diperuntukkan bagi orang yang memakai baju baru, akan tetapi dia yang selalu takut dengan hari pembalasan.”

Semoga Allah memberi taufik untuk semuanya..    

6 Replies to “Ketaatan Tetap Terus Berlanjut, Meskipun Ramadhan Telah Berakhir”

  1. Aulia Rahmat berkata:

    Luar biasa.

    1. Penamuslim berkata:

      Terima kasih, semoga bermanfa’at

  2. Ahef berkata:

    MasyaAllah,, terharu ana membacanya ustadzz.

    1. Penamuslim berkata:

      Terima kasih, semoga bermanfa’at

  3. Fairuz Hidayat berkata:

    Semoga Allah selalu memberikan kemudahan kita dalam mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan.

    Artikel ini mengingatkan saya pada firman Allah:
    فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَب۝
    Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)

    وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرۡغَب
    dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.
    [Surah Al-Sharh 7 – 8]

    Jazakumullahu khayrn

    1. Penamuslim berkata:

      Masyaallah, wa jazakallahukhairan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top