Ketenangan orang yang beriman dalam menghadapi pandemi.

Menyebarnya virus pandemi Covid-19 di Indonesia bahkan diseluruh dunia membuat kepanikan dan ketakutan banyak orang. Bagaimana tidak, virus ini menyebar dengan begitu cepat ditambah penularannya begitu mudah, hanya dengan sentuhan virus ini dapat berpindah dari orang ke orang yang mengakibatkan banyak korban berjatuhan dalam waktu yang singkat.

Karena keadaan yang sangat mencekam ini, banyak orang mengalami depresi, frustasi, dan stres. Bisa jadi karena panik dan takut, atau karena pendapatan perharinya berkurang, atau karena mendengar kabar dan melihat orang yang terpapar virus ini makin bertambah, sehingga menambah keresahan dan kegalaun yang luar biasa dalam dirinya.

Dalam hal seperti inilah agama mempunyai peran penting dalam menghadapi setiap permasalahan yang terjadi di dunia ini, maka orang yang mempunyai agama dan iman yang kuat dapat menghadapi musibah ini dengan ketenangan, sehingga dapat mengambil sikap yang benar lagi bijaksana, dengan menyadari sepenuhnya bahwa semua yang terjadi di dunia ini karena kehendak Allah azzawajalla.

Maka dari itu, ketahuilah bahwa hanya satu agama yang mempunyai solusi dan jalan keluar dalam menghadapi segala permasalahan, yaitu agama Islam. Hanya kepada-Nya kemuliaan dan kebenaran terdapat, maka barangsiapa yang menjauhinya maka dia akan celaka di dunia maupun di akhirat.  Allah berfirman:

ومَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa yang mencari (kemulian) selain agama Islam maka dia tidak akan diterima, dan di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

(QS. Ali-Imran: 85)

Kemudian dalam surat Fathir, Allah berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ العِزَّة فَلِلَّهِ العِّزَّةُ جَمِيْعًا

“Barangsiapa yang menginginkan kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu hanya milik Allah”

(QS. Fahtir: 10)

Lalu, bagaimana seorang muslim yang cerdas bersikap terhadap musibah pandemi ini yang tengah merabak di tengah-tengah kita?

Para ahli sejarah Islam telah mengukir dalam kitabnya1, bahwa merabaknya wabah (virus) telah terjadi dari ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, dan telah di alami juga oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya di masa mereka.

Maka dari itu, selayaknya kita mempelajari bagaimana sikap dan prinsip yang dipegang  Rasulullah shalallahu alaihi sallam dan para sahabatnya ketika menghadapi wabah di masanya, sehingga setiap mukmin sejati dapat mengahadapi pandemi ini dengan benar sesuai tuntunan syari’at.

Berikut beberapa sikap dan prinsip yang harus dipegang kuat seorang muslim dalam menghadapi pandemi ini:

Pertama: Meyakini bahwa wabah adalah azab bagi orang kafir dan rahmat bagi orang Islam.

Seorang mukmin yang ta’at harus meyakini bahwa wabah adalah bentuk azab bagi orang kafir terdahulu. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya wabah ini adalah azab  dengannya Allah binasakan sebagian kaum, dan Allah tinggalkan (wabah) sebagiannya di muka bumi, dan dia (wabah) akan muncul dengan tiba-tiba dan menghilang begitu saja.” (HR.Ahmad 5/207)

Adapun bagi orang yang beriman bukan azab untuk mereka, melainkan pelajaran dan bentuk kasih sayang Allah bagi kaum muslimin, sehinga dengannya seorang mukmin akan mendapatkan pahala syahid jika mati karenanya. Maka tidak heran jika kita menjumpai banyak dari kalangan orang-orang yang mulia meninggal karena wabah, seperti: Ubaidah ibnu Jarrah, Muadz bin Jabal, Yazid bin Abi sufyan, dan beberapa sahabat nabi lainnya.

Baca juga : Status Ibadah yang Bercampur Riya

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Thau’un syahadah bagi setiap muslim (yang mati karenanya), dan bentuk kasih sayang Allah bagi kaum muslimin.”(Muttafaqun ‘alaihi)

Ummul Mukminin Aisyah radiallahua’nha berkata: Apabila perzinaan, minuman keras, dan bermain alat musik telah merajalela, Allah akan murka, kemudian dia akan berkata ke bumi: Gempalah! Jika mereka bertaubat maka berhentikah, namun jika tidak  binasakanlah mereka. Kemudian salah satu dari sahabat nabi bertanya: Apakah ini bentuk azzab Allah ke mereka?.

Lalu Aisyah radiallahua’nha menjawab: “Bagi orang-orang yang beriman adalah bentuk mau’idzah dan rahmat atas mereka. Adapun untuk orang kafir adalah bentuk azab Allah atas mereka.2

Kedua: Meyakini bahwa tidak ada wabah atau penyakit yang dapat menular dengan sendirinya kecuali atas izin Allah azzawajalla.

Ketahuilah bahwa tidak ada satu musibah apapun yang dapat menimpa seseorang kecuali atas kehendak dari Allah. Jika setiap muslim meyakini hal ini, maka hati dan jiwanya akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman, sehingga ketakutan dan kecemasan yang ada di pikirannya akan hilang dengan sendirinya. Allah berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيْبَةٍ إِلّا بِإِذْنِ الله

“Tidak suatu musibah yang menimpa sesorang kecuali dengan izin Allah”

(QS. At-Taghabun: 11)

Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketahuilah! Seandainya ada se-kumpulan manusia bersatu untuk memberikan satu saja manfaat kekalian, sungguh mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kecuali jika Allah telah mentetapkannya untukmu.  Dan seandainya mereka bersatu untuk memberikan mudharat kepadamu, sungguh mereka tidak dapat membahayakan kamu kecuali  jika Allah telah menetapkannya untukmu.”

Dahulu orang-orang jahiliyah meyakini bahwa segala penyakit dapat menular dengan sendirinya, kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengingkari dan membatalkan keyakinan semacam ini. Lalu beliau berkata:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَة

“Tidak ada penyakit yang dapat menular (dengan sendirinya), dan thiyarah (merasa sial dengan burung atau sejenisnya.”

Hadist ini menunjukkan bahwasanya semua penyakit tidak ada yang dapat menular dengan sendirinya, melainkan Allah-lah yang mengatur segalanya, sehingga dengan kehendak-Nya juga penyakit bisa menular. Inilah keyakinan yang benar. Seandainya kita mengatakan bahwa penyakit bisa menular dengan sendirinya, lantas siapakah yang menularkan penyakit pertama kalinya?

Ketiga: Tawakkal dan ikhtiar

Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan (kebutuhannya). Setiap mukmin yang memilik sifat tawakkal  maka hatinya akan teguh disertai dengan ketenangan jiwa dan hati yang tentram.  Seseorang tidak dikatakan bertawakkal kecuali setelah melalui fase ikhtiar. Yaitu sebuah fase yang menuntut untuk berusaha dan bekerja dengan sungguh-sungguh dan sempurna.

Ibaratnya seperti orang yang ingin mendapatkan uang banyak, namun dia malas bekerja dan suka tidur-tiduran. Begitu juga dalam keadaan pandemi sekarang, sebagian orang mengatakan: Bukankah kematian ditangan Allah? Kalau Allah menjadikan sehat ya sehat, kalau sudah sakit ya sakit. Maka hal semacam ini tidak ditakkan orang bertawakkal, karena tidak ada orang yang sehat kecuali setelah beriktiar dan berusaha agar terhindar dari penyakit. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فِرَّ مِنَ المَجْذُوْم فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَد

“Menjauhlah kalian dari orang yang terkena kusta seperti engkau lari ketika berjumpa dengan seekor Singa.”(HR. Bukhari)

لَا يُورِدُ مُمْرِضْ عَلَى المُصِح

“Janganlah mencampurkan Unta yang sakit denga Unta yang sehat” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist ini menunjukkan bahwa ada beberapa jenis penyakit yang bisa menular, tentunya dengan izin Allah. Sehingga Rasulullah melarang umatnya untuk berdekatan dengan orang yang terkena penyakit dikhawatirkan penyakit tersebut akan berpindah ke dirinya. Dan ini adalah bentuk usaha menyelamatkan diri dari penularan penyakit yang telah diajarkan oleh Rasulullah shalalallahu alai wasallam.

Di antara ikhtiar dan usaha kita agar terhidar dari virus ini adalah: Menjaga kebersihan dengan cara mencuci tangan, memakai masker,dan melakukan sosial distancing. Kemudian menjaga tubuh tetap dalam kondisi optimal dengan cara makan makanan yang halal dan baik juga mengandung nutrisi yang baik, lalu dengan istirahat yang cukup, dan menjaga emosi agar tetap stabil.

Keempat: Bersabar dan jangan mengeluh.

Kebaikan hakiki hanya terdapat pada seorang mukmin sejati, maka alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya membawa kebaikan, jika mendapat kenikmatan dia akan bersyukur, dan ketika ditimpa musibah maka dia akan bersabar. Karena Syukur dan sabar merupakan dua sifat yang menunjukkan kesempurnaan keimanan seorang hamba.

Begitu juga dengan kondisi kita di saat ini, hendaknya kita bersabar sesungguhnya kemenangan datang bersama kesabaran. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya tanda Allah menyukai suatu kaum, Allah akan mengujinya dengan musibah, jika mereka bersabar maka bagi mereka pahala atas kesabarannya, sebaliknya jika mereka marah atau mengeluh maka mereka akan mendapat balasan atas kemarahannya.” (HR.Tirmidzi: 2396), (HR.Ibnu Madjah: 4031)    

Kelima: Berdoa dan memohon perlidungan dari segala keburukan.

Rasulullah pernah berwasiat ke pamannya: “Wahai Abbas! Perbanyaklah do’amu agar Allah selalu menjaga kesehatanmu.” (HR.Tirmidzi: 3509)

Ketahuilah, sesungguhnya doa adalah senjata muslim yang paling ampuh dalam segala keadaan, dan tidak ada ada yang dapat merubah ketetapan Allah kecuali dengan do’a, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يرد القضاء إلا الدعاء

“tidak ada yang dapat mengubah takdir kecuali Do’a”(HR. Tirmidzi: 2139)

Maka perbanyaklah doa kepada Rabb-mu dengan rendah hati dan suara yang lembut, sesungguhnya Allah tidak akan membinasakan satu kaum selama masih ada hamba-Nya yang berdoa dan memohon kepada-Nya.

Keenam: Husnudhzan dan selalu optimis.

Allah berfirman dalam hadist Qudsi: “Aku sebagaimana prasangka hambaku kepadaku.” Hadist ini menunjukkan jika seorang mukmin berprasangka baik, maka kebaikan yang akan datang, begitu juga sebaliknya, jika dia berprasangka buruk kepada Allah, maka keburukan yang menghampirinya.

 Berbaik sangka kepada Allah ta’ala adalah ibadah hati yang mulia. Yang dimaksud berbaik sangka kepada Allah berarti meyakini bahwa setiap kejadian yang kita alami sekarang ada hikmah dibaliknya, baik kita mengetahui hikmahnya ataupun tidak, yang pasti tidak ada yang sia-sia atas ciptaan Allah, semuanya memilik tujuan dan hikmah dibaliknya.

Prasangka yang baik harus diiringi dengan keta’atan dan meninggalkan kemaksiatan, maka tidak bermanfaat prasangka baik jika dia masih melakukan kemaksiatan dan meninggalkan kewajibannya dan ini disebut ghurur (terpedaya dengan diri sendiri).

 Imam Ibnu Qayyim berkata: “perbedaan antara husnuzhan dan ghurur (terpedaya  diri sendiri). Berprasangka baik mendorong lahirnya amal, menganjurkan, membantu dan menuntun untuk melakukannya. Inilah sikap yang benar. Tapi kalau mengajak kepada pengangguran dan bergelimang dalam kemaksiatan, maka itu adalah ghurur (terpedaya diri sendiri).”3

Adapun sikap optimis, adalah salah satu sifat yang paling disenangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

ويعجبني الفأل

“dan aku menyukai sifat optimis.”(HR. Muslim: 2222)

Optimis adalah sikap selalu memiliki harapan baik dalam segala hal, yaitu dengan mengucapkan perkataan yang baik sehingga dapat menyenangkan hati dan menambah semangat orang yang mendengarnya. Sikap optimis sangat penting dimiliki setiap muslim agar kehidupannya lebih teratur dan ter-arah. Apalagi di saat keadaan seperti ini, sikap optimis sangat dibutuhkan karena akan berdampak pada kesehatan dan memeberi kekuatan dalam menghadapi suatu masalah.

Ketujuh: Mematuhi himbauan dan kebijakan dari pemerintah.

Sebagai masyarakat yang baik, hendaknya kita harus merapatkan barisan di belakang pemerintah kita terkait kebijakan yang mereka putuskan demi pencegahan penyebaran virus covid-19 ini. Dan hendaknya dia meninggalkan pendapat pribadinya, dan mengikuti pendapat pimpinan-nya, karena di dalamnya terdapat kemaslahatan dan manfaat bersama. Adapun jika setiap orang menolak himbauan dari pemerintah, maka akan terjadi kerusakan, perpecahan, dan perselisihan antara masyarakat, sehingga dapat memperburuk keadaan.   

Kemudian berhati-hatilah dengan berbagai macam permainan dari sebagian golongan orang yang ingin menghancurkan persatuan negara, kemudian merusak agama dan kehidupan kaum muslimin dengan menyebarkan berita-berita dusta dan provokasi, sehingga mereka dapat mempermainkan emosional kaum muslimin. 

Semoga Allah selalu melindungi kita dari segala keburukan.

Sumber rujukan:

1. Kitab Badzlul Ma’un Fi Fadhli Tha’un, hal: 361.

2. Riwayat Ibnu Abi Ad-dunya dari jalan Anas bin Malik,kami nukil dari kitab Badzlul Ma’un, hal. 80.

3. Al-Jawab Al-Kafi, hal. 24.

2 Replies to “Ketenangan orang yang beriman dalam menghadapi pandemi.”

  1. Ahef berkata:

    MasyaAllah, barakallahu fiyk ustadz.

    1. Penamuslim berkata:

      Wa Fiika Barakallah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top