Keutamaan 10 Hari Awal Dzulhijjah dan Amalan yang Dianjurkan di dalamnya

Oleh: Umar Zaki Giffari

Dzulhijjah Bulan Haram

Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan yang dimuliakan di dalam Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At Taubah: 36)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السموات والأرض، السنة اثنا عشر شهرا، منها أربعة حرم، ثلاثة متواليات: ذو القعدة وذو الحجة والمحرم، ورجب مضر، الذي بين جمادى وشعبان

“Sesungguhnya waktu itu berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada 12 bulan. Di antara bulan-bulan tersebut ada 4 bulan yang haram. Tiga bulan berturut-turut, yaitu: Dzulqa’dah, Dzulhijjah,  Al Muharram, dan (yang terakhir) Rajab Mudhar, yaitu bulan di antara bulan Jumaada dan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari).

Disebut dengan bulan haram karena pada bulan tersebut diharamkan maksiat dengan keras, begitu pula pembunuhan. Demikian kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam kitab tafsir beliau Taisir Al Karimir Rahman.

Keutamaan Sepuluh Hari di Awal Bulan Dzulhijah

Di dalam bulan Dzulhijjah ada hari-hari yang dipilih oleh Allah sebagai hari-hari terbaik sepanjang tahun. Allah Ta’ala berfirman:

{{ والفجر وليال عشر }}

“Demi fajar, dan malam yang sepuluh” (QS.. Al Fajr: 1-2)

Para ulama tafsir berbeda pendapat dalam menentukan 10 malam yang dimaksud oleh Allah dalam ayat tersebut. Penafsiran para ulama ahli tafsir mengerucut kepada 3 pendapat:

1. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

2. Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

3. Sepuluh  hari pertama bulan Al Muharram.

Yang rajih (kuat) adalah pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud 10 hari didalam ayat adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Dikuatkan dengan Hadits yang diriwayatkan dari Jabir radhiyallaahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

والفجر وليال عشر، قال : عشْرُ الأضحى

“(Demi fajar, dan malam yang sepuluh) Beliau (menafsirkan ayat itu) berkata : 10 hari bulan Al-Adhha (bulan Dzulhijjah).”[2]

Salah satu hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan makhluknya adalah untuk menunjukkan kemuliaan makhluk yang dijadikan sumpah tersebut. Karena Allah tidaklah bersumpah kecuali dengan makhluk-makhlukNya yang istimewa.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام” (يعني أيام العشر). قالوا: يا رسول الله.ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: “ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله ولم يرجع من ذالك بشيء”. (رواه أبو داود وحُكم الحديث : الصحيح)

“Tidak ada hari yang amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (10 awal Dzulhijjah)” Para sahabat bertanya: “Apakah lebih baik daripada Jihad fii sabiilillaah ?” Beliau bersabda, “Iya. Lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwa raganya kemudian dia tidak pernah kembali lagi (mati syahid).” (HR. Abu Dawud, Hadits Shohih) [3]

Ibnu Rajab Al Hanbaly berkata:

“Hadits ini menunjukkan bahwa seluruh amal sholeh di 10 awal Dzulhijjah lebih dicintai oleh Allah daripada amalan di seluruh hari-hari dunia tanpa terkecuali. Apabila sesuatu itu lebih dicintai oleh Allah, maka sesuatu tersebut lebih afdhal/utama di sisi-Nya. Apabila seluruh amal di 10 awal Dzulhijjah lebih afdhal dan dicintai di sisi-Nya daripada hari-hari yang lain, maka jika seseorang melakukan amalan yang mafdhul (kurang utama) di hari-hari tersebut, maka bisa jadi lebih utama daripada seseorang melakukan amalan yang utama di selain sepuluh hari awal bulan Dzulhijah.[4]

Imam Mujahid (Seorang Ulama Tafsir) mengatakan:  “Amalan di sepuuluh hari awal bulan Dzulhijjah akan dilipatgandakan.“[5]

Pada bulan Dzulhijjah ini juga,  Allah telah menyempurnakan Agama-Nya; Islam.

Allah Ta’ala berfirman:

{{ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا }}

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku telah meridhai Islam itu agama bagi kalian.”  (Qs. Al Maidah: 3)

Para ulama mengatakan : (bahwa ayat itu turun) di hari Arafah, di tahun saat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan haji wada’.”[6]

Amalan yang Dianjurkan di Sepuluh Hari Awal Dzulhijah

Karena keutamaan yang banyak inilah, maka disyari’atkanlah amal-amal shalih dan diberi ganjaran yang luar biasa. Di antara amal-amal tersebut adalah sebagai berikut:

1. Dzikir

Allah berfirman:

{{ ليشهدوا منافع لهم ويذكروا اسم الله في أيام معلومات }}

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan…” (Qs. Al Hajj: 28)

Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma berkata: “Hari-hari yang telah ditentukan adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.”[7]

Berdzikir yang lebih diutamakan di hari-hari yang sepuluh ini adalah memperbanyak takbir, tahlil dan tahmid.

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

“Maka perbanyaklah di hari-hari tersebut dengan tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad, Sanadnya Shahih)[8]

Dzikir bukan hanya dilakukan di masjid atau di rumah, namun ini bisa dilakukan di mana dan kapan saja. Bahkan para Sahabat Nabi sengaja melakukannya di tempat-tempat keramaian seperti pasar.

Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata:

وكان ابن عمر، وأبو هريرة يخرجان إلى السوق في أيام العشر، فيكبران ويكبر الناس بتكبيرهما

“Ibnu Umar dan Abu Hurairah senantiasa keluar ke pasar-pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Mereka bertakbir, dan orang-orang pun ikut bertakbir karena mendengar takbir dari mereka berdua”

2. Puasa

Tidak diragukan lagi kalau berpuasa termasuk amal shalih yang sangat disukai oleh Allah. Di samping anjuran melakukan puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, maka disukai juga untuk memperbanyak puasa di hari-hari sebelumnya (dari tanggal 1 sampai dengan 8 Dzulhijjah) berdasarkan keumuman nash hadits tentang keutamaan berpuasa.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

والذي نفسي بيده لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi di sisi Allah daripada wangi minyak kasturi.” (H.R. Bukhori dan Muslim) [9]

Puasa.Arafah (9 Dzulhijjah)  adalah amalan yang disunnahkan bagi orang yang tidak berhaji. Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ))ُ

“Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang.” (HR. Muslim no. 1162)[10]

3. Tilawah Al Qur’an

Keutamaan Tilawah al Qur’an berdasarkan keumuman sabda Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

من قرَأَ حَرْفًا مِن كتابِ اللهِ، كتَبَ اللهُ له به حَسنةً،    لا أقولُ: (الم) حرْفٌ، ولكنِ الحروفُ مُقطَّعةٌ: الألِفُ حرْفٌ، واللَّامُ حرْفٌ، والميمُ حرْفٌ.

“Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh yang semisal. Aku tidak katakan alif laam miim itu satu huruf. Namun alif itu satu huruf, laam itu satu huruf, dan miim itu satu huruf.”(HR. Tirmidzi, no. 2910. Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan sahih.) [11]

Adalah hal yang sangat baik jika dalam waktu 10 hari tersebut, kita dapat mengkhatamkan bacaan Al Qur’an dengan membaca 3 juz setiap harinya. Hal ini sebenarnya mudah untuk dilakukan, yaitu dengan memanfaatkan waktu sebelum dan sesudah shalat fardhu. Dengan membaca 3 lembar sebelum shalat dan 3 lembar sesudah shalat, insyaAllah dalam 10 hari kita mampu mengkhatamkan Al Qur’an. Intinya adalah mujaahadah (bersungguh-sungguh).

4. Sedekah

Di antara yang menunjukkan keutamaan bersedekah adalah cita-cita seorang yang sudah melihat ajalnya di depan mata, bahwa jika ajalnya ditangguhkan sebentar saja, maka kesempatan itu akan digunakan untuk bersedekah.

Allah berfirman menceritakan saat-saat seseorang menjelang ajalnya:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkanku sampai waktu yang dekat, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih.” (Qs. Al Munaafiquun: 10)

5. Kurban

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{{   فصل لربك وانحر  }}

“Maka shalatlah kamu untuk Tuhanmu dan berkurbanlah!” (Qs. Al Kautsar: 2)

Kurban adalah ibadah yang disyari’atkan setahun sekali dan dilaksanakan di bulan Dzulhijjah setelah Sholat Idul Adha.

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خطبنا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يومَ النَّحرِ بعد الصَّلاةِ فقال : من صلَّى صلاتَنا ونسك نسكنا فقد أصاب النُّسُكَ ، ومن نسك قبل الصَّلاةِ فتلك شاةُ لحمٍ

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah setelah shalat Idul Adha ((Barangsiapa yang shalat seperti kita shalat, dan berkurban seperti kita berkurban, maka sungguh dia telah mengerjakan kurban dengan benar. Dan barangsiapa yang menyembelih kurbannya sebelum shalat ‘Idul Adh-ha, maka kurbannya tidak sah.)) (HR. Al Bukhari) [12]

Ini menunjukkan bahwa ibadah kurban itu merupakan kekhususan dan syi’ar yang hanya terdapat di dalam bulan Dzulhijjah

6. Haji

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{{   الحج أشهر معلومات }}

“Haji itu (dilaksanakan) pada bulan-bulan yang tertentu.” (Qs. Al Baqarah: 197)

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhu  mengatakan ” Yang dimaksudkan dengan haji dalam ayat di atas adalah ihram untuk haji bisa dilaksanakan dalam bulan-bulan yang sudah ditentukan, yaitu: Syawwal, Dzulqa’dah dan 10 awal Dzulhijjah. Selain bulan-bulan tersebut, maka ihram seseorang untuk haji tidak sah” [13]

Bahkan hampir sebagian semua prosesi manasik haji dilakukan pada bulan Dzulhijjah.

Akhirnya, kita memohon kepada Allah agar diberi kekuatan dan taufiq-Nya agar kita bisa mengisi sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah dengan amal-amal shalih, dan diterima oleh Allah sebagai pemberat timbangan kebaikan kita di yaumil hisaab kelak. Amiin ya Rabbal Aalamin. Wallahu ‘Alam.

Rujukan :

** Al-Qur’anul Karim : Nama Surat dan Nomor Ayatnya tercantum samping ayat

[1] Kitab Shohih Al-Bukhori, Kitabut Tafsir, Surat Al-Bara’ah; 4662 hal. 66/6

[2] Tafsir At-Thabari hal 206/30.

[3] Sunan Abu Dawud, Kitabus Shoum no. 2438

[4] Kitab Latha’iful Ma’arif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali hal. 579

[5] Kitab Latha’iful Ma’arif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali hal. 583

[6] Tafsir At-Thabari hal. 96/6

[7] Kitab Fadhli ‘Asyri Dzil Hijjah karya At-Thabraani hal. 38

[8] Musnah Imam Ahmad hal. 224/7

[9] Kitab Shohih Al-Bukhori no. 1904 dan Muslim no. 1151

[10] Kitab Shohih Muslim no. 1162

[11] Sunan Tirmidzi, no. 2910

[12] Kitab Shohihul Bukhori no. 955

[13] Tafsir At-Thabari hal 310/1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *