Larangan Shalat di Masjid menurut Ulama Syafi’iyah

Larangan Shalat di Masjid menurut Ulama Syafi’iyah

Suatu amalan yang memiliki keistimewaan tidak diragukan lagi dalam Islam adalah shalat berjama’ah di masjid. Bahkan sebagian ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa shalat berjama’ah hukumnya fardhu ain, sebagian lainnya berpendapat fardhu kifayah yang mana penduduk suatu negara ketika tidak ada yang melakukannya maka boleh untuk diperangi, dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh Imam Nawawi rahimahullah.[i]

Semenjak munculnya wabah Tha’un jenis Korona, sebagian negara kaum muslimin berusaha mengeluarkan kebijakan dan peraturan untuk menanggulangi penyebaran virus tersebut, diantaranya adalah larangan untuk shalat berjama’ah di masjid. Kebijakan ini membuat sebagian saudara kita yang memiliki semangat dalam beribadah tinggi tidak ridha, risih, jengkel, bahkan sebagian mereka berusaha untuk memberontak kepada pihak-pihak tertentu.

Alangkah baiknya, jika mereka mengembalikkan persoalan tersebut kepada para ulama rabbaniyyin; agar tidak terjadi kesalahan dalam bersikap yang bisa menimbulkan suatu musibah kepada orang lain tanpa ia sadari.

Disamping itu, sebagian negara juga melarang masyarakat untuk mendirikan shalat jum’at di masjid, yang ini mestinya lebih membuat sebagian saudara kita enggan untuk menerimanya; karena kaum muslimin telah bersepakat atas wajibnya shalat jum’at, sebagaimana firman Allah ﷻ,

يَٰٓأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن یَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَیْعَ ذَٰلِكُمْ خَیْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah:9).

Apa hukum tidak menghadiri shalat jama’ah dan shalat jum’at karena takut virus korona?

Jawabannya boleh; karena itu termasuk udzur syar’i, sebagaimana yang dikatakan oleh ulama Syafi’iah bahwa diantara udzur yang mengizinkan seseorang tidak menghadiri jama’ah adalah khawatir terjadi bahaya terhadap jiwa dan anggota badan, virus korona tentunya masuk dalam kategori hal yang membahayakan.

Bukan hanya shalat jama’ah saja, bahkan shalat jumat yang hukumnya wajib berdasarkan Al-Qur’an, Hadis dan Ijma’ itupun menjadi gugur kewajibannya. Imam Syihab Ad-din Ar-Ramli rahimahullahu berfatwa bahwa jika terdapat udzur yang mengepung penduduk suatu daerah, maka gugurlah kewajiban shalat jumat.[ii] Dan fatwa ini diikuti oleh anaknya, Syamsy Ad-din Ar-Ramli[iii] rahimahullah yang keduanya termasuk ulama besar dalam madzhab syafi’i.

Baca juga : Ketenangan Orang Beriman dalam Menghadapi Pandemi

Banyak orang berkata bahwa solusi untuk menangkal penyebaran virus saat berada di masjid sangat banyak, seperti membuat peraturan untuk saling berjauhan ketika shalat, tidak bersalaman, masing-masing membawa sajadah dan membatasi jumlah jama’ah. Bukankah hal ini bisa menangkal penyebaran virus di masjid? sehingga ‘illah (alasan) dari larangan tersebut yaitu penyebaran virus akan hilang, dan kaidah mengatakan, “Hukum berputar sama ‘illahnya, ada dan tidak adanya illah tersebut.” Artinya, jika illah tersebut ada maka hukum ada, dan jika tidak ada maka hukum tidak ada.

Iya benar, namun pada prakteknya tidak semudah apa yang anda rencanakan. Buktinya, jika anda melihat para jama’ah bercampur baur, bersalaman dengan cipika cipiki, maka kenyataanya anda tidak bisa melarang perbuatan mereka, terlebih lagi membatasi jama’ah dengan jumlah tertentu, tentunya itu lebih susah untuk diwujudkan.

Apakah shalat di rumah mendapatkan keutamaan shalat berjama’ah?

Iya, meskipun di negara kita dilarang untuk berjama’ah di masjid, kita masih bisa berjama’ah di rumah, dan dianjurkan untuk tetap berjama’ah bersama keluarganya; baik istri, anak atau teman-temannya jika tinggal dengan mereka, dan tetap akan meraih keutamaan shalat berjama’ah sebagaimana halnya di masjid. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Jika ada seseorang yang shalat di rumah bersama teman, istri atau anaknya, maka dia meraih keutamaan berjama’ah.”[iv]

Apakah boleh bermakmum ketika shalat jum’at dari imam yang berada di televisi?

Tidak boleh, cukup bagi dia untuk menggantinya dengan shalat dzhuhur empat raka’at seperti biasa.

Bagaimana solusinya?

Disamping berusaha, jangan lupa dengan doa. Iya, bukankah doa adalah senjata utama bagi orang yang beriman? Bukan senjata terakhir, maka mintalah kepada Allah ﷻ agar wabah ini diangkat dari kaum muslimin serta mohonlah perlindungan kepada-Nya. Dialah dzat yang Maha melindungi, Maha perkasa, dan Maha berkuasa. Oleh karenanya, disyariatkan berdoa di dalam shalat saat tertimpa suatu musibah, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasululullah ﷺ selama satu bulan penuh, setelah terbunuhnya 70 sahabat dari kalangan ahli Al-Qur’an di sumur ma’unah. Ini yang dinamakan dengan qunut nazilah, tepatnya setelah ruku’ dan selesai dari ucapan,

سمِعَ اللهُ لمن حمِدَه ربَّنا ولك الحَمْدُ

“Allah ﷻ mendengar orang yang memuji-Nya, wahai Tuhan kami hanya milik-Mu segala bentuk pujian.”

Bagaimana cara qunut nazilah?

Pertama membaca qunut biasa,

اَللُّهمَّ اهْدِنِىْ فِیْمَنْ هَدَیْتَ وَعَافِنِى فِیْمَنْ عَافَیْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِیْمَنْ تَوَلَّیْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِیْمَا اَعْطَیْتَ وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَیْتَ فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ یُقْضَى عَلَیْكَ وَاِ نَّهُ لاَ یَذِلُّ مَنْ وَالَیْتَ وَلاَ یَعِزُّ مَنْ عَادَیْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَیْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَیْتَ وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَیْكَ

“Ya Allah berilah hidayah kepadaku sebagaimana orang yang telah Engkau berikah hidayah. Dan berilah kesehatan kepadaku sebagaimana orang yang Engkau telah berikan kesehatan. Dan jagalah aku sebagaimana orang yang telah Engkau jaga. Dan berilah keberkahan bagiku terhadap apa yang telah Engkau karuniakan. Dan selamatkan aku dari bahaya kejahatan yang telah Engkau tentukan. Maka sesungguhnya hukum milik-Mu, dan tidak ada satupun yang dapat menghakimi-Mu. Dan sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin. Dan tidak mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha tinggi Engkau. Segala pujian atas apa yang Engkau tentukan. Aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu.”

Lalu dilanjutkan dengan doa qunut nazilah.

Bagaimana lafadz doa qunut nazilah?

Tidak terdapat hadis yang menyebutkan doa khusus untuk qunut nazilah, oleh karenanya dibolehkan untuk merangkai untaian doa sendiri dengan ungkapan kata yang mengandung makna permohonan untuk diangkatnya musibah tersebut. Namun ada beberapa doa dari Rasulullah ﷺ yang selayaknya diselipkan dalam doa kita; karena mencakup segala bentuk penyakit yang membahayakan,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلاَءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kerasnya musibah, kesengsaraan yang parah, takdir buruk dan kesenangan musuh (dengan musibah yang menimpa kaum muslimin).”

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَیِّئْ الْأَسْقَامِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, kusta dan penyakit yang keji.”

            Dari percakapan di atas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa kebijakan pemerintah tentang larangan shalat berjama’ah dan shalat jum’at di masjid bukanlah suatu masalah, sehingga wajib bagi kita untuk mendengarkan serta mengikuti arahan-arahan mereka, dan kita tetap berada dalam satu barisan di masa pandemi seperti ini; karena dengan adanya kekompakkan kita, maka wabah tersebut akan cepat terangkat Insya Allah. Dan jangan mudah termakan oleh berita-berita yang sifatnya provokasi; karena banyak oknum tidak bertanggung jawab yang menginginkan kehancuran umat Islam dengan berbagai cara yang mereka usahakan.

Wallahu a’lam.


[i] Minhaj Thalibin hal. 38.

[ii] Fatawa Ar-Ramli juz 1 hal. 241.

[iii] Nihayah Muhtaj juz 2 hal. 158.

[iv] Raudhah Thalibin juz 1 hal. 341.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top