Malu mengatakan “Tidak Tahu”.

oleh: Ryan Hidayatullah, Lc

Di antara musibah terbesar yang terjadi di zaman ini adalah keberenian orang-orang berbicara tentang agama tanpa di dasari ilmu yang kuat, sehingga menyebabkan kekacauan, perpecahan, dan keributan di mana-mana. Seandainya setiap orang mengetahui kemampuan dirinya sendiri, maka kekacauan seperti  sekarang ini tidak akan terjadi.  

Imam Malik berkisah, seorang pemuda menemui Imam Rabia’ah  (gurunya Imam Malik) dan mendapati beliau sedang menangis, pemuda itu bertanya: wahai Imam, kenapa engkau menangis? Apakah engkau sedang ditimpa musibah?

Rabi’ah berkata: “Tidak, aku baik-baik saja.  Hanya saja aku menangis karena sebagian orang meminta fatwa dalam masalah agama kepada orang yang tidak memiliki ilmu dan kapasitas di bidang tersebut, sehingga menimbulkan musibah yang besar dalam islam. Kemudian Rabi’ah berkata:  mereka yang berfatwa tanpa ilmu lebih pantas di penjara dari pada pencuri.1

Jika ini terjadi di zamanya Rabi’ah, bagaimana dengan zaman kita sekarang ini, keberanian sebagian para da’i dan penuntut ilmu berfatwa tanpa dasar ilmu yang kuat. Sering kita dapati sebagian orang senang membahas perkara-perkara besar yang ada ditengah-tengah umat, keberanian mereka berfatwa, menrajihkan perkara, menghukumi orang dengan kafir atau munafik, menghalalkan darah, harta, dan kehormatan orang-orang, sehingga menimbulkan keributan di tengah masyarakat.

Ketahuilah ketika seseorang berbicara tanpa ilmu maka dia sedang melakukan perkara yang dapat mencelakai dan merugikan dirinya dan orang lain. Oleh karena itu, keberanian seseorang berbicara tanpa ilmu adalah penyakit yang harus dijauhi oleh setiap muslim, karena perbuatan ini adalah salah satu tipu daya setan yang terbesar. Allah berfirman:

 إنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya syaithan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui. [QS.Al-Baqarah:169]

Sesungguhnya berbicara tentang Allah tanpa ilmu adalah hal yang sangat berbahaya dalam agama bahkan posisinya sederajat dengan syirik atau lebih tinggi. Maka jangan katakan, kita pernah mendengar padahal kita tidak mendengar, kita mengetahui padahal kita jauh dari kata ilmu dan ahlinya, sadarlah semua fatwa yang kita katakan akan dimintai pertanggung jawaban kelak.  Allah berfirman:

 وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. [QS. Al-Isra’ : 36]

Ayat ini menunjukkan bahwasanya Allah ta’ala melarang seseorang berbicara tanpa dasar ilmu. Dan masuk di dalamnya berbicara dengan prasangka dan perkiraan, seperti perkataan: saya kira ini perkara haram, atau kemungkinan perkara ini haram. Kata-kata seperti ini dilarang dalam agama karena berbicara dengan prasangka lebih condong kepada kesalahan.2

Kehati-hatian, ketelitian, dan tidak tergesa-gesa dalam menjawab pertanyaan adalah sifat ahlussunnah dan potret dari ciri-ciri penuntut ilmu yang benar dan ulama besar. Para ulama dahulu tidak pernah malu mengatakan tidak tahu ketika menjawab persoalan. Begitu juga dengan kita agar tidak perlu malu untuk berkata tidak tahu jika memang  belum mampu menjawab,

Imam malik rahimahullah, seorang faqih dan imam besar, kami kira tidak ada satu muslim-pun yang mengingkari kepintaran dan kecerdesan yang di miliknya. Seperti yang disebutkan oleh imam ibnu mahdi, “Aku tidak melihat seorang pun yang lebih jenius daripada Imam Malik.”

Pernah suatu ketika, seseorang dari Andalusia ( Spanyol saat ini) pergi ke Madinah untuk menemui Imam malik karena dia mempunyai beberapa pertanyaan dari kaumya di Andalus. Tahukah berapa lama perjalan pemuda ini agar sampai ke Madinah? Diriwayatkan, pemuda ini telah menghabiskan waktunya selama dua bulan untuk bisa berjumpa dengan Imam malik.

Sesampainya di madinah pria ini langsung menghampiri Imam malik, dan mengajukan 42 permasalahan. Setelah Imam malik mendengar jawaban pertanyaan dari pemuda ini, yang anehnya Imam malik hanya menjawab dua pertanyaan, dan sisa empat puluh pertanyaan dijawab dengan jawaban “La Adri” aku tidak tau.

Akibat keluguan Imam malik dengan jawaban “Aku tidak tau” pemuda ini meresa kesal, dia berkata, bukankah kau imam di kota ini, yang dikenal Malik Imam Darul Hijrah? Apa yang akan aku katakan kepada kaumku nanti? Bagaimana bisa engkau mengatakan tidak tau?

Imam malik berkata: Iya aku Malik Ibnu Anas, dan katakan kepada kaummu bahwa Malik tidak bisa menjawab.

Inilah salah satu contoh dari ratusan ulama ahlusunnah yang sangat berhati-hati ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kaumnya. Bayangkanlah, seorang Imam besar, yang madzhabnya tersebar seluruh dunia, dan di anut oleh ratusan juta umat dari dulu sampai sekarang. Kecerdasan, kebesaran, dan  ketinggian derajat beliau, tidak membuatnya malu untuk mengatakan “aku tidak tau”.

Adapun penuntut ilmu di zaman sekarang merasa aib, malu, dan gengsi  apabila ditanya oleh jama’ahnya pada satu permasalahan kemudian ia mengatakan ‘Aku tidak tahu”. Sehingga dia memaksakan diri untuk menjawab pertanyaan tersebut tanpa didasari dengan ilmu. Maka tak jarang, sebagian dari mereka yang diharapkan dapat memperbaiki keadaan umat, malah menambahkan kekacauan di tengah-tengah masyarakat.

Maka hendaknya seorang penuntut Ilmu harus mengetahui kadar kemampuan dirinya, memperbanyak bekal, dan jangan tergesa-gesa ingin muncul di permukaan.  

Imam Ibnu Hazm berkata: “Musibah yang paling besar atas ilmu dan ahlinya adalah keberanian orang-orang masuk kedalam ranah ilmu tersebut padahal dia bukan ahlinya. sebagian merasa dirinya ulama padahal dia jahil. Dan sebagian menganggap dirinya bisa memperbaiki keadan padahal malah memperburuk keadaan.”3

Sumber rujukan:

1. Adabul mufti wal mustafti: 1/20

2. Tafsir Ibnu Katsir: 5/69

3. Al-Akhlaq wa siyar karangan Ibnu Hazm: 24

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top