Menyambut Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Oleh : Mukhlis Ibnu Katsir

Dua puluh hari bulan Ramadhan telah kita lewati bersama, siapa yang mendapati dirinya berada dalam ketaatan kepada Allah ﷻ maka bersyukurlah, dan siapa yang mendapati dirinya masih dalam kelalaian maka kembalilah dan maksimalkan sisa-sisa waktu berkah ini.

Sepuluh hari terakhir bulan Ramadahan telah datang, musim yang dinantikan oleh para peserta lomba kebaikan, tempat untuk mencari keuntungan bagi para ahli ibadah, dan kesempatan emas bagi para mujtahidin.

Inilah sepuluh hari yang mana dahulu Nabi ﷺ mengikat pinggangnya serta menjauhi istri-istrinya agar memusatkan fikirannya untuk ibadah kepada Allah ﷻ. Beliau senantiasa membangunkan keluarganya pada hari-hari tersebut dan menghidupkan malamnya dengan berbagai bentuk ibadah kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓ ۚ

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya” (QS. Al-Isra:57).

Wahai saudaraku seiman..

Sebagaimana yang kita ketahui Bersama bahwa pada sepululuh hari terakhir bulan Ramadhan terdapat keutamaan sangat besar; karena salah satu malamnya adalah malam lailatul qadr yang disebutkan dalam firman Allah ﷻ,

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad-Dukhan:3-4)

Malam lailatul qadr adalah malam yang dimana Allah ﷻ menurunkan Al-Qur’an dari Lauh Mahfudz sampai ke Baitul ‘izzah yang terdapat dilangit dunia yang kita tempati. 

Malam yang memiliki kedudukan, kemuliaan, kebaikan, keberkahan, kuota pembebasan dari api neraka, juga rahmat dan ampunan dari Allah ﷻ. Itulah malam yang nilainya jauh lebih baik dari pada 1000 bulan, sebanding dengan 83 tahun 3 bulan. Rasululullah ﷻ bersabda,

هذا الشهر قد حضركم،وفيه ليلة خير من ألف شهر من حُرمها فقد حُرم الخير كله 

“Bulan ini telah hadir kepada kalian, dan di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Barangsiapa yang terhalangi olehnya maka sungguh dia telah terhalangi oleh seluruh kebaikan.” (HR. Ibnu Majah, dan hadisnya dinilai Hasan oleh Albani).

Malam lailatul qadr juga suatu malam yang diliputi dengan ketenangan dan kesejahteraan, sehingga selamat dari setan dan adzab. Allah ﷻ berfirman,

سَلَٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ

“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr:5).

Salah satu karunia Allah ﷻ kepada umat islam adalah terdapatnya malam lailatul qadar setiap tahun dan setiap bulan Ramadhan. Bagaimana tidak, jika anda memanfaatkan malam ini untuk beribadah maka seakan-akan anda telah beribadah kepada Allah ﷻ selama 83 tahun lamanya, dan Dialah dzat yang maha memiliki karunia.

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Lailatul qadr adalah sesuatu yang dikhususkan untuk umat islam, Allah ﷻ  menambahkan kemuliaan bagi mereka yang belum pernah diberikan kepada umat sebelumnya. Tidaklah orang berdoa pada malam itu melainkan dia akan beruntung, tidaklah orang meminta melainkan akan diberi, dan tidaklah orang meminta perlindungan melainkan akan dilindungi.”

Malam lailatul qadr adalah malam yang mana para malaikat turun ke bumi dengan jumlah yang lebih banyak dari pada hari-hari lainnya, bahkan lebih banyak dari pada jumlah batu kerikil yang berserakan diatas muka bumi ini.

Oleh karenanya, hendaknya kita berusaha untuk dapat menjumpai malam yang mulia ini, dan Allah ﷻ merahasiakan waktunya agar kita bersungguh-sungghuh untuk beribadah pada sepuluh hari terakhir ini dengan harapan akan menjumpai pada salah satu malam yang dia lalui.

Amalan-amalan pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan:

  1. Shalat malam.

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ ber’itikaf pada sepuluh hari penuh di akhir bulan Ramadhan dengan tujuan agar dapat meraih malam lailatul qadar; karena orang yang beri’tikaf pada sepuluh hari ini, menghidupkan malam-malamnya dengan shalat serta melantunkan untaian doa maka dia dapat dipastikan mendapatkan malam lailatul qadr.

Bukankah  Rasululah ﷺ sering mendirikan shalat hingga kedua kakinya bengkak? Dan beliau ﷺ tidak pernah menghabiskan malamnya dengan tidur diatas kasurnya. Allah ﷻ berfirman,

كَانُوا۟ قَلِيلًا مِّنَ ٱلَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.” (QS. Ad-Dzariyat:17)

Tidak diragukan lagi dengan keadaan para salaf yang selalu bersemangat untuk mengikuti jejak Rasulullah ﷺ, mereka senantiasa menghidupkan malam harinya dan juga merahasiakan doa kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَآءً خَفِيًّا

“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam:3).

Haus di siang hari dan sakit kaki di malam harinya adalah makanan kesukaan mereka, bukan banyaknya harta, bertamasya serta mengembangkan hartanya.

Dikisahkan bahwa pada suatu hari ada anak perempuan dari tetangganya Manshur bin Al-Mu’tmar rahimahullahu berkata kepada bapaknya, “ Wahai ayah, dimana kayu yang biasanya berdiri diatas atap rumah Manshur?”. “Wahai puteriku, kayu itu (yang kamu lihat) adalah Manshur, dia selalu shalat malam” jawabnya.

Maksud dari kisah ini, Manshur rahimahullahu selalu mendirikan shalat malam di atas rumahnya, anak kecil tadi mengira bahwa yang dilihatnya adalah sebilah kayu yang berdiri tegak, dan tatkala Manshur rahimahullahu meninggal dunia maka anak kecil tadi tidak bisa melihatnya kembali.  

Ibnu Abi Dzi’b rahimahullah selalu melakukan shalat malam dengan bersungguh-sungguh, hingga keluarganya berkata, “Kasihanilah dirimu”. Dia menjawab, “Sesungguhnya hari kiamat akan ditegakkan, seolah-olah ia ditegakkan esok hari”.

Begitulah keadaan mereka, dan mereka tidak pernah memutuskan kebiasaannya meskipun dalam safar, hingga kematian menjemput mereka. Sebagian mereka ada yang menjaga teman-temannya saat safar dengan mendirikan shalat, dan sebagian lain ada yang memanjangkan shalat tahajud, jika sudah meraskan ngantuk maka dia menggoyahkan kepalanya untuk mengusir rasa kantuknya.

Wahai saudaraku yang mulia,,

Barangsiapa yang memperbanyak shalat malam maka Allah ﷻ akan meringankan dia ketika berdiri di hari kiamat nanti; karena pada hari kiamat terdapat waktu perhentian yang sangat lama. Coba bayangkan, 50.000 tahun manusia berdiri di atas kakinya, tidak duduk, bersandar, apalagi terlentang. Allah ﷻ berfirman,

يَوْمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

“(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?.” (QS. Al-Muthaffifin:6)

Manusia pada saat itu akan merasakan panas yang dahsyat karena tiga hal:

a. Tempat yang sempit.

Dia tidak memiliki tempat melainkan tempat kedua kakinya saja.

b. Terik matahari.

Dia akan merasa panasnya terik matahari yang belum pernah dirasakan sebelumnya; karena saat itu matahari berjarak 1 mil (1,6 km) di atas kepala mereka.

c. Udara Jahanam.

Para malaikat menyeret neraka Jahanam sampai mendekat kepada manusia sehingga keringat mereka bercucuran serta merasa siksaan karena panasnya neraka Jahanam. Allah ﷻ berfirman,

وَجِا۟ىٓءَ يَوْمَئِذٍۭ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ ٱلْإِنسَٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكْرَىٰ

“Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya” (QS. Al-Fajr:23).

Kemudian merekapun mendatangi para nabi untuk meminta kepada Allah ﷻ agar waktu persidangan disegerakan, karena mereka tidak tahan dengan apa yang dialaminya.

Bersambung ke part II.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *