MESIR DAN KEPENDUDUKAN AWAL ISLAM DI FUSTATH & ALEXANDRIA

Oleh : Yusuf Burhani

Pada era pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, pasukan ekspansi Islam telah mendaratkan armadanya hingga bumi Syam. Melihat jarak yang jauh ini menjadikan Khalifah Umar memerintahkan untuk mencukupkan daerah perluasan hingga Syam dan belum melihat mashalat untuk lebih dari itu dikarenakan agar para sahabat Nabi tidak terlalu jauh dari pusat pemerintahan di Madinah.


Amru bin Ash seorang orator dan negosiator ulung, mantan duta Quraisy yang sudah kenyang akan pengalaman di daratan Afrika merasa perlu adanya perluasan lebih agar Islam bisa tegak di benua ini. Beliau yang ikut dalam ekspansi menuju Syam, melihat ada celah agar bisa memperluas wilayah Islam hingga menyeberang ke Mesir yang kala itu di kuasai oleh Romawi Timur. Khalifah Umar akhirnya pun luluh ketika Amru bin Ash bisa meyakinkan dirinya perihal penaklukan daerah Mesir.


Sebuah kejadian unik ketika Amru bin Ash beserta pasukan bertolak dari Syam menuju Mesir. Berangkat dari persetujuan Amirul Mukminin, Amru bin Ash semakin yakin dan bersemangat dalam ekspansi kali itu. Sampai di tengah perjalanan, Khalifah Umar merasa perlu menulis surat yang ditujukan kepada komandan pasukan yaitu Amru bin Ash.


Ketika dalam perjalanan mendekati wilayah Mesir, datang seorang pengantar surat dan memberitahukan surat yang ada padanya berasal dari Khalifah Umar. Amru bin Ash memiliki kecerdikan dan analisa yang sangat luar biasa merasakan adanya kejanggalan dalam surat ini. Beliau meminta kepada pengantar surat untuk menahan surat itu hingga dirinya dan pasukan melintasi perbatasan wilayah Mesir. Setelah Amru bin Ash dan pasukan telah melewati perbatasan Mesir, bersegera membuka surat dari Khalifah Umar. Surat itu menyatakan:
( سيأتي كتابي سريعا إن شاء الله تعالى, فإن أدركك كتابي آمرك فيه بالانصراف عن مصر قبل أن تدخلها أو شيئا من أرضها فانصرف, و إن دخلتها قبل أن يأتيك كتابي, فامض لوجهك و استعن بالله و استنصره )
Artinya: akan datang kepadamu (Amru bin Ash) surat dariku, jika surat ini datang kepamu sebelum kau dan pasukanmu memasuki wilayah (Mesir) maka aku (Umar bin Khattab) perintahkan untuk kembali dan meninggalkan penaklukan, tetapi jika datang surat ini kepadamu dan engkau telah memasuki wilayah Mesir atau sebagiannya, maka teruskanlah! Dan mohonlah pertolongan dari Allah !.


Ketika memasuki Mesir, kondisi masyarakat Qibti (bangsa asli Mesir) yang tertindas dan terjajah menjadikan mereka sangat berharap kepada pasukan muslimin untuk menyudahi penyiksaan berkepanjangan oleh Romawi. Misi pembebasan dimulai dari wilayah Alexandria, ibukota pemerintahan Romawi Timur.
Amru bin Ash berusaha mewujudkan bisyarah Rasulullah ﷺ yaitu umat Islam akan menaklukkan Kekaisaran Romawi. Melalui semangat inilah pasukan muslimin berjihad dengan dengan senjata dan juga akhlak sebagaimana yang dicontohkan oleh Baginda Nabi.


Ketika pasukan muslimin berhasil mengepung pertahanan benteng Biblis, putri kesayangan Muqouqis yang bernama Armanusa dan beberapa pelayan kerajaan sempat dijadikan sebagai tawanan perang di perkemahan arab. Mengetahui hal ini, Amru bin Ash bermusyawara dengan para sahabatnya dan melontarkan pendapatnya tentang tawanan perang. Amru bin Ash membuka dengan membaca firman Allah ﷻ ,“Tidak ada balasan untuk kebaikan kecuali kebaikan (pula)”. Beliau melanjutkan dengan mengatakan,”Muqouqis telah memberikan hadiah kepada Nabi ﷺ. Maka aku pikir kita kembalikan kepdanya putri kesayangannya dan semua pelayan kerajaan serta harta-harta mereka”.


Keputusan yang bijak ini diterima oleh para sahabat, dan dengan segera mengembalikan putri kesayangan Muqouqis dengan segala hormat beserta pelayan dan harta-hartanya. Armanusa sempat mengomentari kejadian ini dengan mengatakan,” Sesungguhnya aku merasa diriku dan kehormatanku aman di perkemahan orang Arab dan aku tidak merasakan di Istana ayahku”.


Pasukan muslimin yang di pimpin oleh Amru bin Ash segera mengepung kota Babylon (Pusat pertahanan bangsa Romawi) dan menggiring mereka keluar untuk berperang di 3 titik utama yaitu di Ummu Danin, Abbasia dan Ain Syams serta meletakkan pasukan sayap di Jabal Muqattam dan Qarafah yang siap mengintai ke arah kota Babylon.
Amru bin Ash mengepung kota Babylon selama satu tahun dan berhasil memberikan ultimatum yang menyulitkan bagi pasukan Romawi, dengan berat hati anak buah Muqouqis harus meninggalkan kota Babylon dan di beri keamanan dalam perjalanan laut. Masyarakat yang sudah kenyang akan penindasan dan penjajahan merasa bahagia dengan kehadiran pasukan muslimin dan diharapkan membawa kebaikan serta perubahan bagi negerinya.


Dengan keluar nya seluruh pasukan Romawi menjadikan hari itu sebagai proklamasi atas masuk nya Mesir ke dalam wilayah Islam pada tahun 641 M atau 21 H. Langkah cepat dilakukan oleh Amru bin Ash untuk melalukan tata kota menjadi kota yang produktif. Melihat kota Babylon yang mayoritas penduduk nya adalah Nasrani dan Yahudi menjadikan Amru bin Ash memilih untuk membangun kota baru di area camp tenda pasukan dan di namakan kota itu Fusthat (dalam bahasa Arab, Fusthat berarti tenda) dan di dirikan masjid pertama di benua Afrika bernama Masjid Amru bin Ash di kota tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *