MESIR PRA ISLAM

Oleh : Yusuf Burhani

Dalam pentas sejarah dunia, Mesir tercatat memiliki khazanah peradaban yang sangat kaya dari zaman pra Islam hingga kejayaan Islam. Tanah ini sangat kaya akan nilai religius dan kebudayaan, itulah mengapa mesir memiliki banyak julukan diantaranya Jazirah Anbiya dan Ummu Dunya.

Tersematnya nama Jazirah Anbiya yang memiliki arti Tanah para Nabi tak lepas dari sejarah para Nabi dan Rasul yang  diutus  oleh Allah ﷻ untuk berdakwah di Mesir termasuk didalamnya kaum Bani Israel. Sedangkan nama Ummu Dunya disemat karena peradaban Mesir yang sudah dimulai sejak tahun 3200 SM dan mencapai kejayaannya dimana tidak ada di belahan bumi manapun kecuali hanya di Mesir dari masa Pharaonic[1], Hellenistic[2], Romawi hingga Islamic sehingga pantas jika orang menyebutnya sebagai Mesir Ibu Dunia.

Tersebutlah deretan Nabi dan Rasul yang Allah utus untuk bangsa Mesir maupun yang pernah singgah di tanah Mesir. Nabi Idris AS, sebagai orang pertama yang menulis dengan qalam (pena), orang pertama yang memperkenalkan baju pada manusia dengan metode jahit dengan jarum menggantikan kulit binatang yang waktu itu sangat lazim digunakan sebagai penutup tubuh. Kemudian Nabi Saleh AS yang maqom nya masih bertengger kokoh di gunung Tursina tempat Allah ﷻ  memberi wahyu kepada Nabi Musa AS.

Adapula Nabi Ibrahim AS, pernah singgah di tanah Mesir hingga menikah dengan ibunda Hajar. Kala itu ibunda Hajar merupakan budak dari salah satu Fir’aun yang berkuasa di Mesir, dari ibunda Hajar lah kemudian lahir Nabi yang agung bernama Ismail AS.

Tentang keperkasaan Fira’un dan kesombongan Bani Israel, Allah mengutus dua Rasul sekaligus untuk bangsa Mesir yaitu Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS untuk meruntuhkan tirani kecongkakan dan kesombongan mereka. Sungguh kaum yang amat banyak mendapat nikmat tetapi merekalah yang paling banyak mendustakan nikmat Allah.

 Tak menutup kemungkinan, beberapa diantara Fir’aun beriman kepada Allah seperti di masa Nabi Yusuf AS. Dimulai dari Akhnaton[3] yang mengikrarkan monoteisme teologi setelah peristiwa takwil mimpi tentang datangnya tujuh tahun musim tanam dan tujuh tahun musim paceklik setelahnya. Dengan demikian Nabi Yusuf AS menjadi Aziz Mishr atau yang menduduki posisi penting dalam kerajaan Mesir. Setelah Nabi Yusuf menjadi pembesar di Mesir, beliau memboyong seluruh keluarganya untuk hijrah menuju Mesir. Dengan demikian, datanglah seorang Nabi lagi di tanah Mesir yaitu Nabi Ya’kub AS ayah dari Nabi Yusuf AS.

Disebutkan dalam suatu riwayat bahwa ketika Nabi Isa AS kecil bersama ibundanya Sayyidah Maryam melarikan diri dari kejaran Raja Herodes di Betlehem karena menyelamatkan diri dan aqidahnya. Orang Yahudi dan Romawi berusaha membunuh bayi kecil yang bisa berbicara ini karena dapat membahayakan kekuasaan politis masing-masing.

Sayyidah Maryam dan bayinya berhijrah menuju Mesir atas perintah Allah melalui malaikat-Nya, berjalan menapaki lembah dimana Nabi Musa mendapati api dan beliau dipanggil dari sisi thur al-aiman. Sayyidah Maryam dan bayinya bersembunyi di sebuah Gua. Setelah raja yang dzalim meninggal dunia, Allahﷻ  memerintahkan Sayyidah Maryam dan Nabi Isa AS untuk kembali ke Palestina.

Hingga kini menurut kepercayaan Israiliyyat[4] dan pemeluk agama Nasrani mengatakan bahwa Gua yang pernah di tempati oleh keluarga Sayyidah Maryam telah dibangun sebuah gereja bernama Abu Serga di area Majma’ al-Adyan, Babylon yang hingga kini masih bisa memanjakan mata para turis yang datang ke Mesir.

Inilah sekelumit tentang Mesir beserta kisah para Nabi dan Rasul yang menjadi fadhilah atau keutaman tersendiri bagi negeri ini, hingga kini masih saja kaidah tentang Mesir bergaung “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”.


[1] Periode Mesir diperintah oleh para Fir’aun

[2] Periode Mesir diperintah oleh Bangsa Yunani

[3] Nama Fir’aun dimasa Nabi Yusuf (Akhna berarti Hamba, Ton berarti Tuhan)

[4] Kisah-kisah yang kerap dibawakan oleh Yahudi yang masuk Islam

Sumber:

  • Kisah penciptaan dan tokoh- tokoh sepanjang zaman, Karya Terjemahan oleh Ust. Abdul Halim
  • Sejarah Bangsa Mesir, Dr. Sayyid Abdul Aziz Salim & Dr. Shar Sayyid Abdul Aziz Salim
  • Long journey to Egypt, terbitan KMA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *