Nafkah

Oleh : Ahmad Yasin

Manusia hidup di dunia ini memiliki tanggung jawab dan kewajiban masing-masing. Tanggung jawab itu ada yang bersifat pribadi dan juga ada yang bersifat untuk untuk orang lain. Tanggung jawab yang bersifat pribadi adalah seseorang dituntut untuk menyelesaikan kewajiban yang dibebankan kepada dirinya, dan manfaat dari kegiatan tersebut kembali kepada dirinya sendiri. Yang kedua untuk orang lain, seseorang diharuskan menyelesaikan kewajiban yang dibebankan kepada dirinya, dan manfaat dari kewajiban itu kembali kepada orang lain, seperti seseorang jika sudah menikah wajib memberikan nafkah kepada istrinya lahir maupun batin.

            Nafkah adalah sebuah tanggung jawab bagi suami yang harus ditunaikan untuk keluarganya, istri, anak, orang tua yang sudah tidak mampu bekerja, dan orang-orang yang berada dibawah pengawasannya.

            Didalam kitab Fiqih Manhaji karya Syaikh Musthofa Al Bugho dkk. menyebutkan bahwa nafkah secara bahasa adalah mengeluarkan / memberikan kebaikan, sedangkan secara istilah nafkah bermakna setiap sesuatu yang dibutuhkan manusia, mulai dari makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal. (Lihat, Dr. Mushtafa Alkhin, Dr. Musthafa Albugha, Ali Asy Syurbaji, Al Fiqh Al Manhaji juz 4 hal 169, Dar Al Qolam, Damaskus, Suriah, 1992 M)

            Nafkah hukumnya wajib bagi orang yang menjadi penanggung jawab atas orang lain. Berikut macam-macam nafkah:

  1. Nafkah untuk diri sendiri

Pada dasarnya nafkah yang pertama adalah untuk diri sendiri, dan jika ia tercukupi untuk kebutuhannya sehari semalam maka wajib bagi ia memberikan nafkah itu kepada orang yang berada dalam tanggung jawabnya. Hal ini berdasarkan hadis Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ketika ada salah seorang sahabat yang membayar 800 dirham untuk memerdekakan budak, kemudian beliau  Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

ابدأ بنفسك فتصدّق عليها، فإن فضل شيء فلأهلك، فإن فضل عن أهلك شيء فَلذي قرابتك، فإن فضل عن ذي قرابتك شيء، فهكذا وهكذا

“Dahulukanlah dirimu sendiri kemudian engkau bersedekah dengannya, jika ada kelebihan maka untuk keluargamu, jika masih ada kelebihan maka untuk karib kerabatmu, jika masih ada kelebihan dan seterusnya dan seterusnya.” (HR. Bukhari)

  • Nafkah orang tua untuk anak

Orang tua wajib memberi nafkah anak-anaknya. Ibunda ‘Aisyah Radhiyallaahu ta’ala ‘anha menyebut kisah Hindun bin Utbah yang mengadu kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tentang keadaan Abu Sufyan yang tidak menafkahinya, dan Hindun mengambil beberapa harta dari Abu Sufyan untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan anaknya tanpa sepengetahuan Abu Sufyan, lantas Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

خذي ما يكفيك وولدك بالمعروف

“Ambillah sesuatu yang menyukupimu dan anakmu dengan baik” (HR. Muslim)

Orang tua diwajibkan memberi nafkah kepada anaknya dengan dua syarat, pertama mereka mampu untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri sehari semalam dan memiliki kelebihan. Kedua disyaratkan dalam keadaan fakir dan anak itu berada dalam salah satu dari keadaan berikut:

  1. Masih kecil, karena ia tidak mampu mencari nafkah untuk memmenuhi kebutuhannya. Maka ketika ia sudah baligh, sehat dan mampu untuk bekerja mencari nafkah guna memenuhi kebutuhannya sendiri, tidak wajib bagi orang tuanya menafkahinya.
  2. Melihat keadaan, sebenarnya ia mampu bekerja untuk memenuhi kebutuhannya akan tetapi ada halangan baginya melakukan kerja tersebut. Halangan yang dimaksud ada dua, jika menuntut ilmu agama seperti belajar aqidah, fiqih dll. maka nafkah menjadi kewajiban bagi orang tuanya, namun jika ia menuntut ilmu selain ilmu agama, maka orang tuanya boleh memilih. Dan jika halangannya bukan menuntut ilmu maka tidak wajib bagi orang tuanya menafkahinya, karena ia masih bisa untuk bekerja.
  3. Dalam keadaan gila, karena ia seperti anak kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa disebabkan hilang akalnya.
  4. Anak menafkahi orang tua

Banyak sekali dalil yang menunjukkan wajibnya seorang anak berbuat baik kepada orang tuanya. Termasuk dalam perintah berbuat baik adalah memberi nafkah kepada kedua orang tua jika keduanya membutuhkan. Beberapa dalil tersebut diantaranya, firman Allah Ta’ala,

وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفاً

“Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman : 15)

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al Isra : 23)

Dan juga hadis yang dibawakan oleh ibunda ‘Aisyah Radhiyallaahu Ta’ala ‘anha,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن من أطيب ما أكل الرجل من كسبه، وولده من كسبه. وقال: أنت ومالك لوالدك، إن أولادكم من أطيب كسبكم، فكلوا من كسب أولادكم.

“Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan seseorang adalah yang berasal dari usahanya sendiri, dan anaknya adalah dari usahanya sendiri.’ Dan beliau melanjutkan (berkata kepada seseorang), ‘Kamu dan hartamu milik orang tuamu, dan sesungguhnya anak-anakmu adalah usahamu yang paling baik, makan makanlah dari usaha anak-anakmu.’” (HR. Tirmidzi)

Anak menafkahi orang tua juga memiliki syarat-syarat tertentu. Pertama, ia sendiri dan keluraganya (istri dan anaknya) tercukupi untuk kebutuhan sehari semalam. Kedua, kedua orang tuanya fakir dan tidak mampu untuk bekerja. Dan seorang ibu jika menikah lagi dengan selain bapak kandungnya, maka nafkahnya ditanggung oleh suaminya. Akan tetapi jika si ibu cerai dari suami barunya dan dalam keadaan susah, maka wajib bagi anaknya untuk menafkahi ibunya.

Dalam permasalahan nafkah orang tua kepada anak dan anak kepada orang tua, perbedaan agama tidak menjadi penghalang diantara mereka. Selama nafkah yang diberikan bukan untuk kejahatan atau bermaksiat kepada Allah.

  • Nafkah seorang suami untuk istrinya

Seorang suami wajib menafkahi istrinya atas dasar Alquran dan As Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya.” (QS. An Nisa : 34)

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

فاتقوا الله في النساء، فإنكم أخذتموهن بأمانة الله، واستحللتم فروجهنّ بكلمة الله، ولكم عليهنّ أن لا يوطئن فرشكم أحداً تكرهونه، فإن فعلن ذلك فاضربوهن ضرباً غير مبرح، ولهن عليكم رزقهن وكسوتهن بالمعروف

“Maka bertaqwalah kalian kepada Allah dalam masalah wanita, karena sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah, dan kalian menghalalkan kemaluannya dengan kalimat Allah. Maka bagi kalian atas mereka hendaknya mereka tidak mengizinkan seorang laki-laki yang kalian benci menginjak permadani (rumah) kalian, dan jika mengizinkan hal tersebut, maka pukullah dengan pukulan yang tidak melukai, dan bagi mereka atas kalian pangan dan sandangnya secara ma’ruf. (HR. Muslim)

Dan juga hadis Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam,

خذي ما يكفيك وولدك بالمعروف

“Ambillah sesuatu yang menyukupimu dan anakmu dengan baik” (HR. Muslim)

Selain nafkah sandang dan pangan serta tempat tinggal seorang suami juga harus memberi nafkah batin kepada istrinya, karena salah satu tujuan menikah adalah menjaga kemaluan dengan menyalurkan syahwat di jalan yang halal. Dan jika seorang suami tidak mampu memberi nafkah batin, maka boleh bagi istrinya untuk mengajukan gugatan cerai.

Nafkah bagi istri yang sudah dicerai

Nafkah tetap wajib bagi seorang suami walaupun istrinya sudah diceraikan. Kewajiban nafkah itu ketika masa ‘iddah, masa hamil hingga melahirkan dan menyusui (Jika menyusukannya dengan orang lain dan harus membayar upah, maka upah itu adalah menjadi tanggung jawab suami untuk membayarnya). Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ وَإِنْ كُنَّ أُولَاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَأْتَمِرُوا بَيْنَكُمْ بِمَعْرُوفٍ وَإِنْ تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ أُخْرَى

“Tempatkanlah mereka (para istri yang sudah ditalak) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya sampai mereka melahirkan, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu maka berikanlah imbalan kepada mereka; dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan, maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.” (QS. Ath Thalaq : 6)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan seorang suami untuk bermuamalah yang baik dengan istri yang sudah ia talak. Kemudian memberikan hak-hak mereka yang mereka butuhkan.

  • Nafkah untuk yang lain

Yaitu nafkah yang diberikan kepada selain yang disebutkan diatas, hal itu meliputi diantaranya, hewan ternak yang boleh dimakan atau tidak (Hewan ternak yang tidak boleh dimakan dagingnya seperti keledai, keledai ini biasanya digunakan untuk kendaraan atau menarik gerobak seperti kuda) dan juga tanaman yang ditanam untuk diambil manfaatnya. Islam sangat memperhatikan hak-hak seluruh makhluk, maka seseorang harus memperhatikan hal itu. (Lihat Dr. Mushtafa Alkhin, Dr. Musthafa Albugha, Ali Asy Syurbaji, Al Fiqh Al Manhaji juz 4 hal 169-187, Dar Al Qolam, Damaskus, Suriah, 1992 M)

Ukuran nafkah

            Pada dasarnya ukuran nafkah tidak dibatasi dengan ukuran tertentu, akan tetapi ukuran nafkah adalah sesuai yang dibutuhkan dan juga sesuai kemampuan orang yang memberi nafkah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan oleh Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan oleh Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.” (QS. Ath Thalaq : 7)

Baca juga: Istri Shalihah Menentukan Masa Depan Anak

            Maka seorang istri berhak mendapatkan nafkah sesuai dengan kebutuhan dia dan anak-anaknya, akan tetapi tidak boleh menuntut melebihi kemampuan sang suami. Begitu pula bapak, anak, dan orang-orang yang berhak mendapatkan nafkah, tidak boleh menuntut melebihi kemampuan si pemberi nafkah.

            Dan bagi yang mampu serta memiliki keluasan harta tidak boleh pelit untuk memberikan nafkah yang menjadi kewajibannya. Walaupun ia memiliki sedikit harta yang itu cukup untuk kebutuhan hidup sehari semalam, maka sisanya harus diberikan kepada orang yang nafkahnya berada dibawah tanggung jawabnya.

Beberapa kesalahan persepsi seseorang terhadap nafkah

            Sebagian orang salah persepsi terhadap nafkah dan sedekah. Kadang seseorang lebih suka sedekah daripada nafkah. Hal ini disebabkan mereka beranggapan bahwa sedekah lebih baik daripada nafkah, karena dengan sedekah Allah akan lipatgandakan hartanya. Dan seperti apa yang benar?

            Wallaahu Ta’ala A’lam, Insya Allah yang benar adalah nafkah lebih utama daripada sedekah sunnah. Karena nafkah bersifat wajib sedangkan sedekah bersifat sunnah. Dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyebut nafkah termasuk sebagai sedekah, beliau bersabda,

«إِذَا أَنْفَقَ المُسْلِمُ نَفَقَةً عَلَى أَهْلِهِ، وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا، كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً»

            “Jika seorang muslim memberi nafkah kepada keluarganya dengan niat mengharap pahala, maka hal itu adalah sedekah.” (HR. Bukhari)

            Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyebut nafkah sebagai sedekah agar manusia juga berfikir bahwa dalam nafkah itu ada pahala seperti pahala sedekah, bahkan lebih banyak, karena nafkah bersifat wajib, dan yang wajib lebih utama daripada yang sunnah. Wallaahu Ta’ala A’lam.

Rujukan :

            1. Al Quran

            2. Shahih Bukhari

            3. Shahih Muslim

            4. Sunan Tirmidzi

            5. Dr. Mushtafa Alkhin, Dr. Musthafa Albugha, Ali Asy Syurbaji, Al Fiqh

    Al Manhaji, Dar Al Qolam, Damaskus, Suriah, 1992 M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top