Penjelasan Hadist Lalat

Lalat adalah salah satu binatang yang  hidup berdampingan dengan manusia, karena itu, jika sesesorang menjumpai seekor lalat terjatuh di makanan atau di bejana air apa yang harus dia lakukan? Apakah air atau makanan  tersebut harus dibuang?

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam memerintahkani jika lalat hinggap di satu bejana, maka celupkan dia dalam air. Beliau bersabda:

«إذا وقع الذباب في شراب أحدكم فليغمسه ثم لينزعه، فإن في إحدى جناحيه داء والأخرى شفاء»

Apabila lalat terjatuh di minuman kalian, maka tenggelamkanlah, lalu buanglah. Kerena di salah satu sayapnya terdapat penyakit dan di sayap lain terdapat penawarnya (obat).

Penjelasan secara umum:

Secara umum hadist ini dapat kita pahami bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam menganjurkan jika lalat terjatuh dalam minuman kita, maka air tersebut tidak harus dibuang melainkan bisa dengan cara dicelupkan lalat  tersebut, kemudian dibuang. Hikmahnya adalah karena lalat akan mengeluarkan racunnya  dalam keadaan bahaya sebagai senjata perlindungan baginya. Maka syari’at memberi solusi untuk mencelupkannya agar dapat menetralisirkan racun yang dikeluarkan.

Hukum keshahihan hadist lalat:

 hadist ini terdapat di kitab Shahih Bukhari dan muslim, kitab yang tingkat kebenarannya paling tinggi setelah Al-Qur’an,  sehingga dapat dipastikan dan tidak diragukan lagi keshahihannya.

Disamping itu, terdapat sekitar tiga belas kitab hadist yang meriwayatkan hadist ini beserta sanadnya, sehinggan menambah kuat derajat keshahihan hadist ini.  Kami menjumpai ada tiga perawi dari sahabat yang membawa hadist ini bersambung ke Rasulullah shalallahu alaihi wa salam , mereka adalah:

Pertama: Dari jalur Abu hurairah radhiallahua’nhu, di antaranya terdapat di kitab:  Shahih Bukahri (3320, 5782), Sunan Abu Daud (3844), Sunan Ibnu Majah (3505), Musnad Ahmad (8141), Sunan Addarimi (2081).

Kedua: Dari jalur Abi Sa’id Al-khudri, terdapat di kitab: Sunan Nasa’i (4262), Sunan Ibnu Majah (3504), Musnad Ahmad (11189), Shahih Ibnu Hibban (1247), Sunan Baihaqi (1192).

Ketiga: Dari jalur Anas Ibnu Malik, terdapat di kitab: Mu’jam Ath-Tbrani (2735), Musnad Al-Bazzar (7323).

Maka dapat kita simpulkan bahwa hadist ini sangat kuat derajatnya, sehingga tidak ada celah kecacatan dalam hadist tersebut, baik dari perawinya maupun dari matannya.

Jenis perintah dalam hadist:

Jenis perintah Rasululah dalam Hadist ini bukan menunjukkan kewajiban melainkan Irsyad yaitu anjuran dan solusi yang diberikan syari’at untuk kaum muslimindan sebagian berpendapat di sunnahkan1 . Karena lalat adalah hewan kotor yang hidup berdampingan dengan manusia yang dapat membawa penyakit, sehingga syari’at mempunyai peran penting dalam memberi solusi tebaik kepada umatnya.

Baca juga : Status Amal Ibadah yang Bercampur Riya

Namun jika sesorang masih merasa jijik, maka dia boleh membuangnya ke tanaman atau ke tanah, setelah menculupkannya lebih dahulu sebagai bentuk keta’atan terhadap anjuran syari’at.

 Faidah dari hadist:

Ada dua kandungan dalam hadist ini yang dapat kita pelajari, pertama pembahasan persoalan fikih dan kedua persoalan medis. Berikut beberapa faidah yang dapat diambil:

Faidah dalam persoalan fiqih:

pertama:

Hadist ini menunjukkan semua jenis makanan yang berair, seperti: Kuah, susu, bubur, dan sejenisnya. jika terdapat didalamnya lalat, maka dianjurkan untuk mencelupkannya lalu lalat tersebut dibuang.  

adapun makanan yang berbentuk padat seperti nasi, maka tidak termasuk dalam hadist ini2.

kedua:

faidah kedua yang dapat kita ambil adalah bahwa lalat jika mati didalam air ditempat dia terjatuh, maka tidak membuat air tersebut najis, karena bangkai lalat tidak najis. Dan ini adalah pendapat jumhur ulama. Pendapat ini berdasakan dengan dua alasan:

 Alasan pertama:  Rasulullah shalallahu alaihi wa salam memerintahkan untuk menengelamkannya, dan biasanya cara ini dapat mematikan lalat . Apalagi jika airnya panas maka pasti dia akan mati di dalam air tersebut. Seandainya bangkai lalat najis maka rasulullah pasti akan menyuruh membuang lalat bersama airnya juga.

Alasan kedua: karena lalat termasuk incesta (serangga) yaitu hewan yang tidak mempunyai darah yang mengalir, seperti lebah, taun, laba-laba atau yang semisalnya, maka bangkainya tidak menajiskan3.

Faidah dalam medis:

Hadist ini menunjukkan salah satu mukjizat kebenaran nubuatnya Rasulullah shalallahu alaihi wa salam karena Rasulullah mengetahui salah satu sayap lalat mempunyai obat dan penyakit tanpa memakai alat bantu sejak 14 abad yang lalu.

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam menganjurkan untuk mencelupkan atau menenggelamkan seluruh badannya di minuman yang dihinggap, agar dia mengeluarkan obat (penawar) sebagaimana ia telah mengeluarkan racunnya. Karena lalat mempunyai kebiasaan ketika dalam keadaan bahaya dia akan mengeluarkan racunnya sebagai senjata untuk menjaga dirinya. Maka Nabi memerintahkan agar racun pada sayap lalat itu dilawan dengan penawar yang telah Allah sediakan pada sayap yang lainnya. Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda:

فَإِنَّهُ يقدم السم وَيُؤَخر الشِّفَاء

“Karena sesungguhnya dia(lalat) mendahului racunnya dan mengakhirkan penawarnya.”

Inilah salah satu faidah dari segi medis yang belum pernah diketahui dan diteliti oleh pakar medis di zaman itu, dan ini menunjukkan bahwa kabar ini bersumber dari wahyu ilahi.

Syubhat hadist:

Sampai saat ini masih ada sebagian orang yang melempar syubhat dalam hadist ini, untuk membuat keraguan bagi kaum muslimin sehingga menjauhkan mereka dari sunnah-sunnah Rasulullah.

Mereka mengingkari hadist ini, karena bertentangan dengan realita dan akal pikiran. Bagaimana bisa pada dua sayap lalat, salah satunya terdapat penyakit dan satunya lagi terdapat penawarnya?

Jawabannya:

Selain lalat, Allah telah menciptakan banyak hewan yang terdapat dalam tubuhnya dua sifat yang saling kontradiksi, sebagian tubuhnya memberi manfaat dan sebagiannya lagi membuat mudharat, seperti lebah yang dapat mengeluarkan madu dari mulutnya dan memberi sengatan dari bagian tubuh lainnya, begitu juga kalajengking yang ditubuhnya terdapat bisa dan penawarnya, dan hewan yang lainnya.  Jawaban syubhat ini juga telah dibantah Ibnu Hajar dengan menukil perkataan Ibnu Jauzi dan Imam Khatabi4.

Kemudian hasil riset para ahli medis membenarkan bahwa sayap kiri lalat terdapat racun  dan penawarnya terdapat di sayap kanannya5.  Dan ilmuan yang pertama kali meniliti masalah ini adalah profesor dari Uneversitas Off Hull di Jerman Priefeld, pada tahun 1871.

Dia menemukan bahwa lalat membawa parasit dari jenis jamur yang disebut “Ambosamousky” jenis parasit ini yang selalu hidup dengan lalat5. Dari ilmuan ini, penelitian lalat dari ahli medis terus berkembang sampai sekarang. Sehingga mereka membenarkan bahwa di dua sayap lalat terdapat penyakit dan obat penawarnya.

Sumber rujukan:

1. Kitab Fathul Baari (10/250), As-Siraj Al-munir (1/186).

2. Kitab Fathu Zul Jalali Wal Ikram, karangan Syehk Shaleh al-Utsaimin (1/190).

3. Kitab Ma’alim As-Sunan (4/259), Zaad Al-Ma’aad (4/111-112), Subul As-Salam (1/37-38).

4. Kitab Fathul Baari (10/251).

5. Kitab Daf’u As-Syubhat (171), karangan perkumpulan ulama Universita Al-Azhar, Mesir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top