Pentingnya Bekerja Dalam Perspektif Islam

Islam merupakan agama yang senantiasa menjaga kemuliaan dan kehormatan umatnya. Allah Ta’ala dan rasulnya mendorong umatnya agar bekerja dan melarang bermalas-malasan.

Dalam pandangan Islam bekerja mempunyai kedudukan yang tinggi dan mulia. Jika kita cermati dengan baik, maka kita akan medapati bahwa ajaran Islam selalu memotivasi umatnya untuk beramal dan bekerja, karena bekerja merupakan bukti kualitas keimanan seseorang. Dan sebaliknya, orang yang malas bekerja adalah ciri kelemahan imannya.

Allah menciptakan manusia agar bisa menjadi khalifah-Nya di bumi. yang di maksud khalifah di sini adalah sebagai pengganti dan penguasa . Manusia mendapatkan kemuliaan dari Allah sebagai khalifah-Nya untuk menjalankan tugas dan perintah yang diberikan kepada mereka.

Salah satu tugas utamanya adalah bekerja untuk memakmurkan bumi dan menjaga kelangsungan ekosistem kehidupan seluruh makhluk hidup di bumi.

Oleh sebab itu, Allah memerintahkan langit, bumi,hujan, matahari dan bulan agar tunduk kepada manusia. Allah turunkan hujan, kemudian menundukkan laut dan sungai, semua ini Allah lakukan untuk memudahkan manusia dalam bekerja dan memakmurkan bumi.

Dalam realitanya masih banyak kita temui, sebagian orang Islam masih bermalas-malasan dalam bekerja, sehingga berdampak pada kesejahteraan kehidupan mereka. mereka masih menyandarkan kehidupannya dari bantuan atau kasih sayang orang lain. Karenanya peminta-minta dan pengangguran di negara kita makin berkembang, dan ini merupakan bukti kesalah pemahaman mereka dalam memahami maksud bekerja.

Untuk meningkatkan semangat umat Islam dalam bekerja, maka di tulisan ini kami akan memabahas bagaimana kedudukan bekerja dalam pandangan Islam?, Bagaimana pengertian kerja dalam Islam? Dan Kenapa manusia harus bekerja?

Hakikat makna kerja dalam pandangan Islam.

Dalam pandangan Islam kerja merupakan suatu kegiatan yang dilakukan sesuai dengan ajaran Islam, yang mana kegiatan ini bisa menghasilkan manfaat dan keuntungan, baik bagi dirinya sendiri ataupun masyarakat secara umum.

Berdasarkan pengertian di atas dapat kita pahami bahwa bekerja bukan hanya sebatas menjadi pegawai di kantor, atau menjadi buruh di pabrik. Dalam pandangan Islam hakikat makna pekerjaan lebih luas dari itu, yakni setiap kegiatan yang bisa memberi manfaat untuk dirinya dan orang lain disebut dengan kerja. Bercocok tanam, berlayar, mengajar, berbisnis, semuanya dianggap sebagai pekerjaan yang mulia.

Kemudian, tidak disebut pekerjaan jika kegiatan yang dilakukannya menyelisihi syari’at, seperti; menjadi pelacur, penjual minuman keras, atau menjual alat musik, di dalam Islam pekerjaan-pekerjaan semacam ini diharamkan.

Posisi kerja dalam Islam

Perintah bekerja sesuai dengan fitrah manusia.

Dalam Islam bekerja merupakan bagian dari kewajiban. Perintah kerja bagi setiap orang merupakan perintah yang sesuai dengan kodrat dan fitrahnya manusia, sehingga dengannya ia memperoleh kemenangan di dunia dan di akhirat.

Islam merupakan agama yang mendorong umatnya untuk bekerja, agar ia terhidar dari kemiskinan. Agar seseorang terhindar dari kefakiran, maka Islam memberi solusi dengan usaha dan bekerja.

Kefakiran adalah musuh yang harus diperangi, karena orang yang tertimpa kefakiran, maka akan berdampak  dikehidupannya pada tiga hal; Imannya menipis, akalnya melemah, dan harga dirinya akan hilang di depan manusia, sehingga orang-orang menghina dan meremehkan dirinya.

Maka perangilah kemiskinan dengan bekerja, sebagaiman nasehat Ali Bin Abi Thalib kepada sahabatnya, beliau berkata: “Seandainya kefakiran itu berbentuk manusia, maka akan kuperangi dia.”

Bekerja adalah ibadah

Dalam Islam bekerja adalah suatu ibadah yang sangat dianjurkan bagi setiap muslim. Oleh karenanya, orang yang senantiasa rajin dalam bekerja adalah orang di cintai Allah dan Rasul-Nya.

Suatu ketika Rasulullah berjalan-jalan di sebuah pasar, beliau melihat seorang pemuda yang tangannya kasar karena giat bekerja, beliau besabda:

هذه يد يحبها الله ورسوله

“Ini adalah tangan yang dicintai oleh Allah dan rasul-Nya.”

Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam menyukai pemuda yang rajin bekerja, karena denganya ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Karena itu, Rasulullah memuji orang yang  bisa hidup dengan jerih payahnya sendiri, beliau bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَاماً قَطْ خَيْراً مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ .

 “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari memakan hasil jerih payahnya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Daud makan dari hasil jerih payahnya sendiri” [HR.Bukhari: 1966]

Seorang muslim yang baik harus memiliki penghasilan yang dihasilkan dari jeri payahnya sendiri. Penghasilan yang berasal dari hasil jeri payah sendiri merupakan hasil yang terbaik. Karena dengan bekerja seseorang telah menaikan kualitas kehormatan dirinya, adapun pemalas maka ia telah mencampakkan dirinya dalam kehinaan.

Dalam hadist shahih, seorang sahabat bertanya kepada Rasullulah. Ya Rasulullah, apa penghasilan yang terbaik bagi seorang muslim? Rasulullah Shalalllahu’alai Wasallam bersabda:

إن أطيب كسب الرجل من يده

 “Sebaik-baik penghasilan seseorang adalah yang berasal dari jerih payahnya sendiri.”[Al-Mu’jam Al-Aushat: 2140]

Kesalahan sebagian orang yang memisahkan antara ibadah dan kerja.

Sebagian kaum muslimin memahami bahwa bekerja dapat melalaikan ia dari akhirat, sehingga mereka meninggalkan kerja dengan alasan ibadah. Sungguh ini bukanlah pemahaman yang benar dalam Islam, karena untuk mendapatkan keberkahan dalam hidup ini, seseorang harus mengimbangi antara amal dunia dan juga akhiratnya. Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيما آتاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيا

“Dan carilah pahala untuk akhiratmu dengan mendekatkan diri kepada Allah, tetapi jangan kau lupakan bagianmu di dunia…”[QS. Al-Qashas: 77]

Seorang muslim yang cerdas dapat mengimbangi antara hak untuk Allah, hak untuk dirinya, dan hak untuk keluarganya, dan dia bisa memenuhi setiap hak-haknya sesuai dengan kadarnya masing-masing.

Ajaran Islam selalu mengajak umatnya untuk berjalan di tengah-tengah, yaitu dengan menyeimbangkan antara hak rohani dan hak jasadi. Jadi, janganlah seseorang terlalu semangat ibadah sehingga dia menelantarkan diri dan keluarganya, dan jangan juga terlalu fokus mencari dunia sampai ia lupa dengan akhiratnya. 

Seseorang yang hanya fokus beridah, shalat, atau menuntut ilmu sehingga menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya maka dia telah berdosa. Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda:

   كفى بالمرء إثماً أن يضيع من يعول

“Seseorang itu sudah cukup dikatakan sebagai pendosa apabila ia menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya” [HR.Nasai dalam Sunan Al-Kubra: 9131]

Kemudian, seorang muslim harus bekerja agar tidak menjadi beban bagi orang lain. Umar Radhiallahu’anhu menasehati para ahli Qur’an, penuntut ilmu, dan ahli ibadah agar senantiasa menjaga kewibawaannya dengan bekerja, beliau berkata:

“Wahai para ahli Qur’an, angkatlah kepala kalian, sehingga teranglah jalan. Lalu berlombalah dalam kebaikan. Dan janganlah menjadi beban bagi kaum muslimin.”[1]

Suatu hari Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam melihat seorang pemuda sedang ibadah di dalam mesjid, kemudian Rasululullah bertanya kepada para sahabatnya, siapa pemuda ini?, para sahabat menjawab: ini ada ‘Abid (orang yang fokus ibadah).

Kemudian Rasulullah bertanya, siapa yang menangung makanan dan kehidupannya? Para sahabat menjawab: Kami semua, Ya Rasulullah. Kemudian Rasulullah bersabda: “kalian lebih baik dari pemuda ini”[2]

Maka hendaknya seorang muslim, dibalik kesibukan ia menuntut ilmu dan beribadah untuk akhiratnya, tetapi jangan melupakan tanggung jawabnya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sudah tidak selayaknya lagi seorang muslim hanya berpangku tangan menanti rizki datang dari Allah sedangkan ia hanya sibuk ibadah tapi malas bekerja.

Bekerja merupakan sunnah para nabi dan rasul

Bekerja merupakan sunnah para nabi dan orang-orang shaleh. Karenanya bekerja mempunyai keutamaan yang agung dalam Islam. Banyak ayat dalam Al-Qur’an dan sunnah yang menunjukkan bahwa para nabi dan rasul hidup dengan hasil jerih payahnya sendiri.

Kebanyakan orang berpikir, kenapa para nabi harus bekerja untuk kehidupannya, padahal mereka adalah manusia pilihan Allah yang apapun di minta pasti akan di kabulkan?

Ini adalah  pembelajaran yang penting bagi kita semua, seorang nabi yang mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah, ditambah dengan memiliki pengikut yang banyak, namun mereka tetap bekerja  dan tidak pernah mengharapkan bantuan dari umatnya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.

Salah satu contoh terbaik adalah Nabi Daud Alaihissalam. Seorang nabi sekaligus raja, tidak ada kata gengsi apalagi bermalas-malasan, beliau tetap bekerja sebagai perajin besi, dengannya-lah beliau mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda:

وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

dan sesungguhnya Nabi Daud makan dari hasil jerih payahnya sendiri” [HR.Bukhari: 1967]

Begitu juga dengan Nabi Zakaria bekerja sebagai tukang kayu[3], dan dengannya beliau memenuhi kebutuhan pokoknya. Begitu  juga dengan nabi-nabi yang lain, seperti; Ishaq, Ya’qub, Syu’aib, dan Musa, semuanya bekerja sebagai pengembala domba, dan dengannya mereka mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.

Adapun Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam, tidak diragukan lagi bahwa beliau adalah panutan dan suri tauladan umat muslim dalam bekerja. Semenjak kecil, beliau sudah menjadi pekerja keras. Beliau pernah bekerja sebagai pengembala domba, kemudian menjadi pedagang, membangun rumah dan masjid dengan tangannya sendiri, berperang, mengajar, semua profesi pernah dikerjakannya.

Baca juga: Cara membayar zakat kambing dan domba

Bekerja mencegah kehinaan

Islam selalu mendorong umatnya untuk bekerja, dan mencela dari mengemis atau meminta-minta, karena mengemis merupakan perbuatan yang tercela. Agar seorang muslim bisa terhidar dari kehinaan dengan mengemis, maka Islam menjaga kemuliaan dan mencegah umatnya dari kehinaan dengan anjuran untuk bekerja keras. 

Rasulullah ketika berkhutbah di atas mimbar dan ia membahas tentang sedekah, dan melarang umatnya dari meminta-minta, beliau Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى فَالْيَدُ الْعُلْيَا هِىَ الْمُنْفِقَةُ وَالسُّفْلَى هِىَ السَّائِلَةُ 

“Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah, tangan di atas ialah orang yang memberi dan tangan yang di bawah ialah orang yang meminta-minta.”[HR.Bukhari dan Muslim]

Hadist ini menunjukkan bahwa tangan yang suka membatu orang akan mendapatkan kehormatan dan kewibaan di mata manusia, dan orang yag suka meminta-minta maka dia telah menjatuhkan harga dirinya sendiri.

Jika demikian, Bagaimana cara agar tangan kita tetap berada di atas, jika kita tidak mempunyai pekerjaan? Maka dari itu, bekerjalah sehingga kita bisa membantu orang banyak, dan terhindar dari kehinaan meminta-minta.

Diantara sifat buruk yang harus dijauhi setiap muslim adalah sifat suka meminta-minta, dan dia mampu untuk bekerja. Kehinaan orang yang suka meminta-minta bukan hanya di dunia saja, tetapi ia akan mendapatkan juga kehinaan di akhirat kelak. Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam bersabda:

مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

“Seorang yang selalu meminta-minta kepada manusia, maka di hari kiamat ia akan dibangkitkan dengan wajah yang tidak berdaging (karena hinanya).”[HR.Muslim: 1041]

Hadist ini menjelaskan bahwa sifat suka mengemis termasuk dosa, dan pelakunya berhak mendapat hukuman atas perbuatannya. Allah ta’ala akan membangkitkannya dalam keadaan wajah yang tidak berdaging sebagai kehinaan atas apa yang diperbuatnya.[4]

Bekerjalah walau hanya menjual kayu bakar

Semua jenis pekerjaan selama tidak menyelisihi syari’at adalah mulia. Rasulullah sendiri sangat menghargai semua jenis pekerjaan mesikpun hanya menjadi pemikul kayu bakar. Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda, 

لأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

“mencari kayu bakar dihutan, lalu dipikul di atas punggungnya, kemudian dia menjualnya itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada manusia, baik diberi atau ditolak. [HR.Bukhari: 2373]

Jangan gengsi dalam bekerja, walaupun pekerjaan tersebut dipandang rendah bagi sebagian orang. Menjadi pelayan, nelayan, tukang bangunan, petani, atau tukang parkir, dalam Islam  merupaka pekerjaan yang terhormat dan mulia.

Karena dengannya  ia telah menjaga kehormatan dirinya, menghindarkan dirinya dari meminta-minta atau mengharap belas kasihan orang lain.


[1] Diriwayatkan Imam Al-Baihaqi dalam Kitab Syu’aib Al-Iman: 1216

[2] Musnad Sa’id Ibnu Mansur, 2/380

[3] HR.Muslim: 2379

[4] Kitab Subul As-Salam 1/547

2 Replies to “Pentingnya Bekerja Dalam Perspektif Islam”

  1. Aulia Rahmat berkata:

    Luar biasa

  2. Aheff berkata:

    MasyaAllah, syukron ustadz ryan ilmunya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top