Pentingnya Ilmu Aqidah dalam Kehidupan Muslim

Oleh: Mukhlis Ibnu Katsir

Aqidah dalam bahasa Arab berasal dari kata ‘Aqd yang artinya mengikat sesuatu dengan kuat. Adapun menurut istilah, bermakna Rukun Iman yang enam. Jadi, ilmu Aqidah artinya ilmu yang mempelajari bagaimana beriman kepada Allah, malaikat, para Rasul, kitab-kitab, hari akhir, dan takdir.

ilmu Akidah memiliki kedudukan sangat tinggi dalam agama Islam, bahkan ilmu paling utama dari pada lainnya; karena di dalamnya membahas tentang keimanan, diantaranya iman kepada Allah SWT, Nama-nama dan sifat-Nya. Betapa banyak dalil yang mengisyaratkan tentang agungnya ilmu ini, diantaranya:

1- Aqidah adalah kewajiban pertama yang dibebankan kepada manusia.

Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, tatkala Rasulullah SAW mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ke negeri Yaman beliau berpesan,

إنَّكَ تَقْدَمُ علَى قَوْمٍ مِن أهْلِ الكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أوَّلَ ما تَدْعُوهُمْ إلى أنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى، فَإِذَا عَرَفُوا ذلكَ، فأخْبِرْهُمْ أنَّ اللَّهَ قدْ فَرَضَ عليهم خَمْسَ صَلَوَاتٍ في يَومِهِمْ ولَيْلَتِهِمْ، فَإِذَا صَلَّوْا، فأخْبِرْهُمْ أنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عليهم زَكَاةً في أمْوَالِهِمْ، تُؤْخَذُ مِن غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ علَى فقِيرِهِمْ

“Sesungguhnya kamu mendatangi kaum dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah agar mereka mentauhidkan Allah. Jika mereka sudah mengetahuinya hal itu, maka kabarkan bahwa Allah telah mewajibkan mereka untuk Shalat lima kali dalam sehari dan semalam. Jika mereka sudah shalat maka kabari bahwa Allah telah mewajibkan zakat kepada mereka, yang itu diambil dari orang kaya lalu diberikan kepada orang-orang fakir diantara mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2- Aqidah merupakan syarat diterimanya amal ibadah.

Apapun kebaikan yang dilakukan oleh seseorang, jika dia tidak beriman kepada Allah maka semua amalannya akan sia-sia. Allah berfirman,

وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَٰتُهُمْ إِلَّآ أَنَّهُمْ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ

“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS. At-Taubah:54).

3- Dakwahnya para Nabi dan Rasul.

Tidak ada seorang Nabi ataupun Rasul kecuali mengajak umatnya untuk mentauhidkan Allah SWT. Allah berfirman,

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدُونِ “

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku”. (QS. Al-Anbiya:25).

4- Aqidah adalah tujuan utama diciptakannya Jin dan Manusia.

Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adzariyat:56).

Sebagian Ulama Tafsir berkata, “Supaya mereka mentauhidkan Aku.”

Disamping kedudukan tingginya ilmu Aqidah dalam agama Islam, Ilmu Aqidah juga merupakan faktor utama yang bisa memperbaiki kepribadian seseorang; baik dalam berhubungannya dengan orang lain, maupun hubungannya dengan Allah. Hal ini terlihat dari buah hasil belajar ilmu tersebut.

Diantara manfaat yang bisa diharapkan dari belajar ilmu Aqidah adalah:

1- Membenarkan keimanan seseorang.

Dalam ilmu ini, seorang akan belajar bagaimana cara mewujudkan Rukun Iman yang enam, dan juga mempelajari perkara-perkara yang bisa merusak keimanannya.

2- Memperbaiki anggota badan.

Coba perhatikan, Jika dia beriman bahwa Allah Dzat Maha mendengar, maka dia tak akan mengeluarkan kata-kata yang tidak disenangi oleh Allah. Jika dia meyakini bahwa Allah maha melihat, maka dia senantiasa merasa diawasi oleh Allah, sehingga akan berusaha konsisten dengan perintah serta menjauhi larangan-Nya.

Jika dia meyakini bahwa Allah akan menghisab di akhirat, maka dia akan berusaha tidak mendzalimi orang lain. Jika dia meyakini bahwa Allah turun ke langit dunia di seperti malam terakhir, maka dia akan bangun shalat malam dan berdoa kepada-Nya.

3- Meluruskan amalan hati.


Banyak pembunuhan yang disebabkan karena hati yang kotor; baik hasad ataupun lainnya. Jika seseorang meyakini bahwa Allah Dzat Maha pemberi rizki, maka dia tidak khawatir rizkinya dikurangi oleh orang lain. Jika dia meyakini bahwa Allah Dzat Maha pengampun, maka dia tak akan putus asa dari rahmat serta ampunan-Nya.

4- Mengetahui nama dan sifat-Nya dan makna yang terkandung didalamnya.

Allah berfirman,

وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا ۖ

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna (nama-nama yang indah), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu.” (QS. Al-A’raf:180).

5- Mengikuti Salaf Shalih dari kalangan para sahabat, tabi’in dan taibi’ut tabi’in.

Ahlussunah wal Jama’ah adalah mereka yang mengikuti Aqidah para salaf Shalih dalam beragam, terutama masalah Aqidah; karena merekalah sebaik-baik umat Rasulullah SAW. Bagaimana mungkin seorang bisa mengikuti mereka kalau tidak tau Aqidah mereka? maka disinilah perlu untuk kita peljari Aqidah mereka, supaya kita bisa mengikuti jalan mereka.

6- Menjauhi bid’ah dan pelakunya.


Seseorang ketika memahami akidah yang benar, maka ia secara tidak langsung memahami perbuatan bid’ah; baik bid’ah dalam masalah Aqidah, maupun Amaliah. Dan ini membuatnya berlepas diri dari kebid’ahan tersebut dan pelakunya.

7- Kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Jika anda bertanya kepada semua orang, “Apa impian anda?” Maka bisa dipastikan bahwa kebahagiaan menjadi impian utama mereka, meskipun bentuknya berbeda-beda; ada yang menginginkan menjadi dokter, pembisnis, pengusaha, dll. Bahkan para pecandu maksiat; seperti khamr, zina, pembunuhan, dan perampokan juga bermimpi untuk meraih kebahagiaan.

Namun sayangnya mereka tidak mengetahui kunci dari kebahagiaan tersebut. Allah telah mengabarkan hal ini dalam Al-Qur’an,

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl:97).

Pada ayat ini, kebahagiaan dikaitkan dengan keimanan. Orang yang beramal dengan keimanan akan mendapatkan kehidupan yang indah. Di Dunia Allah berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan di Akhirat Allah berikan pahala atas amalan yang telah dia lakukan.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa orang kafir juga merasakan kebahagiaan, padahal dia enggan untuk beriman kepada Allah?

Jawabannya: Iya, memang mereka merasakan kebahagiaan, namun kebahagiaan palsu dan semu. Sementara kebahagiaan orang yang beriman adalah kebahagiaan hakiki dan kekal abadi.

Semoga Allah meneguhkan hati kita diatas keimanan dan ketakwaan kepada-Nya.

Referensi:
Kitab Al-Kalimat As-Sadidah Syarah Matan Al-Bidayah Fi Al-Aqidah, karya Syaikh Khalid Al-Juhani hafidzahullah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top