Penuntut Ilmu Tidak Boleh Berputus Asa.

oleh: Ryan Hidayatullah Lc.

Kebanyakan dari penuntut ilmu pasti pernah merasakan kesulitan dalam memahami, mempelajari, dan menghafal pelajaran. Terkadang sebagian dari kita sering berkata, aku telah mempelajari ini dan ini tetapi aku tidak dapat memahaminya kecuali sedikit. Sebagian lagi berkata, aku telah menghafal Al-Qur’an bertahun-tahun tetapi aku hanya bisa menghafal sedikit.

 Apa yang seharusnya dilakukan penuntut ilmu ketika menghadapi keadaan seperti ini? Haruskah dia berputus asa dan bersedih? Mengeluh dan Berbalik arah? Atau mencari solusi dan jalan keluar dari permasalahannya?

Seorang penuntut ilmu ketika menemui kesulitan dalam memahami pelajaran, atau susah dalam menghafal, maka dia harus mempunyai prinsip dan sikap sebagai berikut:

Pertama: Jangan berputus asa dan merendahkan diri sendiri.

Putus asa dan tidak percaya diri adalah sebab terbesar yang menjadikan penuntut ilmu gagal dalam meraih ilmu pengetahuan. Selayaknya penuntut ilmu tidak berkecil hati atau merendehkan diri, dengan lemahnya kemampuan dalam menghafal, cepat lupa, atau lemah dalam pemahaman. Ketahuilah semua permasalahan ini akan hilang dengan dua cara:

1. Meluruskan niat hanya untuk mencari keridhaan Allah.

Imam Ad-Daruqutni berkata: “Dahulu kami pernah mencari ilmu dengan niat selain Allah, namun ilmu tersebut menjauh dari kami sampai kami melurus niat karena Allah (agar ilmu tersebut mendekat).”

2. Berusaha keras dan jangan pernah berhenti.

Imam Abu Hilal Al-‘Askari salah satu ulama besar di bidang balaghah, adab, dan syi’ir, beliau pernah berkata tentang dirinya: “ketika di awal-awal dalam menuntut ilmu, aku merasa kesulitan dalam menghafal, kemudian aku berusaha keras dengan membiasakn diriku untuk menghafal, sampai aku dapat menghafal Qasidah Ru’batun sekitar dua ratus bait dalam semalam.”1

Imam Ahmad bin Hambal pernah berkata: “Sungguh aku telah menghabiskan waktuku sembilan tahun hanya untuk memahami permasalahan haidh wanita.”2   

Kedua: Berdoa agar dibukakan pintu pemahaman.

ketahuilah bahwa permasalahan kesulitan dalam memahami ilmu, ini  juga pernah dirasakan oleh beberapa ulama-ulama hebat yang kita kenal sampai saat ini. Diantaranya, seperti: Al-Ashma’i (ulama besar dalam bidang bahasa dan sya’ir arab) kesulitan dalam memahami ilmu ‘Arudh, Ibnu Shalah (ulama besar di bidang ilmu hadist) pernah kesulitan memahami ilmu manthiq, Mu’adz bin Muslim Al-Kufi (ulama besar di ilmu nahwu) kesulitan dalam memahami ilmu sharaf, Imam As-Suyuti (ulama ahli di ilmu hadist dan tafsir) pernah kesulitan menguasai ilmu hitung-hitungan, Imam Al-Ghazali juga kesulitan memahami ilmu nahwu, dan masih banyak lagi, yang tidak mungkin kami sebutkan satu persatu.3

Maka dari itu, apabila seorang penuntut ilmu masih merasa kesulitan dalam memahami sebagian ilmu setelah dia berusaha dengan sungguh-sungguh, maka hendaklah dia berdo’a dan memohon agar allah membuka pintu pemahaman untuknya, karena ilmu milik Allah dan Allah tidak memberikannya kecuali bagi siapa yang dia kehendaki.

Imam Ibnu Taimiah rahimahullah pernah berkata4:Apabila aku mendapati kesulitan dalam memahami tafsir dari ayat-ayat Al-Qur’an, maka aku akan berdo’a, dan kemudian aku dapat memahaminya :

اَللّهُمَّ يَا مُعَلِّم آَدَم وَ إِبْرَاهِيْم عَلِّمْنِي, وَيَا مُفَهِّم سُلَيْمَان فَهِّمْنِي

“Ya Allah! Wahai Dzat yang telah mengajarkan adam dan Ibrahim, ajarilah aku. Wahai Dzat yang telah memahamkan Sulaiman pahamkanlah aku.

Ketiga: Menjauhi maksiat.

Menjauhi maksiat merupakan sebab yang paling utama dalam membantu menguatkan hafalan dan mudah dalam memahami ilmu. Sesungguhnya ilmu hanya dapat diperoleh dengan ketakwaan. Allah berfirman:

وَاتَّقُوْا الله وَ يُعَلِّمُكُمُ الله وَاللهُ بِكُلِّ شَيْئٍ عَلِيْم.

“Dan bertakwalah kalian kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarkan kalian. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Begitu juga dengan perkataan imam syafi’i yang menunjukkan bahwa ilmu pengatahuan adalah cahaya Allah dan tidak mungkin diberikan kepada ahli maksiat. Imam Asyafi’i rahimahullah berkata:

Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menasehatiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.

Inilah tiga sikap yang harus ada dalam diri setiap penuntut ilmu di manapun berada. Adapun kunci utama kesuksesan penuntut ilmu adalah menumbuhkan sifat sabar dalam diri. Sesungguhnya ilmu tidak bisa diraih dengan senda gurau dan bersantai-santai, melainkan dengan kesabaran, kesungguhan, dan kerja keras.

Ketahuilah bahwa batu sebesar dan sekeras apapun dia, dapat berlubang hanya dengan satu tetesan air yang jatuh diatasanya dengan terus menerus.

 Karena itu dengan sabar dan usaha keras kita juga dapat menghancurkan tembok setebal apapun yang menghadang di hadapan kita. Ibnu Hazm Al-Andalusi pernah berkata:

قطرة الماء تثقب الحجر ، لا بالعنف و لكن بتواصل السقوط

“Tetesan Air dapat melubangi batu bukan dengan kekerasan, tetapi dengan jatuh secara terus menerus.”

Begitu juga dengan kisahnya ulama besar rujukannya ilmu nahwu, beliau adalah Imam Al-Kisa’i. Dikisahkan bahwa beliau telah mempelajari ilmu nahwu bertahun-tahun akan tetapi tidak sanggup menguasainya. Suatu hari beliau melihat seekor semut sedang membawa makanan di atas punggungnya. Semut itu berusaha menaiki tembok dengan membawa makanan tersebut. Setiap kali semut itu naik, iapun terjatuh. Namun dia tetap berusaha berkali-kali, hingga ia akhirnya berhasil naik ke atas tembok. Kemudian Al-Kisa’i berkata dalam hatinya: “Semut ini telah bersabar dan berusa keras hingga akhirnya ia berhasil.” Kemudian beliaupun bersabar sampai akhirnya beliau menjadi imam besar di ilmu nahwu.5

Semoga Allah memberi taufik untuk semuanya.

Sumber rujukan:

1. Ma’alim Fi Thariq Thalib Al-Ilmi (1/29).

2. Thabaqat Al-Hanabilah (1/268).

3. Hilyah Talabul Ilmi, karangan As-Syehk Bakar Abu Zaid (1/206).

4. Fatawa Ibnu taimiyah (4/38).

5. Dikisahkan oleh Syehk Utsaimin dalam Syarah Hilayah Thalabil Ilmi (1/207).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *