Permisi “Mbah” numpang lewat.

Oleh: Ryan Hidayatullah Lc.

Ketakutan yang berlebihan dari gangguan jin dan memohon perlindungan dari makhluk yang dianggap berkusa di suatu tempat, adalah salah satu keyakinan yang diajarkan dalam ajaran agama orang-orang jahilayah dahulu. Sehingga mempercayai mitos atau khurafat menjadi ciri khas pada keyakinan mereka orang-orang jahiliah. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَأَنَّهُ كانَ رِجالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزادُوهُمْ رَهَقاً

Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia memohon perlindungan kepada laki-laki dari jin, maka jin-jin itu menambahkan bagi manusia dosa dan ketakutan. (QS. Al-Jin[72]: 6)

Ayat ini menjelaskan bahwa, ada diantara orang-orab arab jahiliah dahulu apabila mereka melintasi suatu tempat yang sunyi dan gelap mereka akan meminta perlindungan kepada jin yang dianggap mempunyai kekusaan di tempat itu.

Imam As-Suddi berkata: Salah satu kebiasaan orang-orang jahiliah apabila mereka melewati suatu lembah atau tempat mereka seraya berkata: Aku memohon perlindungan dari pemilik tempat ini agar tidak meganggu diriku, hartaku, anakku, dan domba-dombaku1.

Sungguh yang sangat disayangkan kepercayaan semacam ini masih banyak diyakini oleh sebagian kaum muslimin di zaman sekarang –semoga Allah mengampuni mereka-, bisa jadi dikarenakan ketidaktahuan mereka atau karena terpengaruh dengan cerita-cerita orang banyak sehingga membuat mereka takut.

Karena itu, sering kita dapati sebagian orang-orang mengatakan, jika kalian melewati tempat ini atau masuk ke dalam hutan ini agar jangan lupa meminta pemisi, sambil berkata: Nek, permisi numpang lewat jangan ganggu saya ya! Atau ada juga dengan cara memberikan isyarat baik seperti klakson atau menghidupkan lampu jika melewati tempat yang angker, dipercaya dengan melakukan hal seperti itu, seseorang tidak akan diganggu oleh jin yang dianggap berkuasa di tempat itu.

Ketahuilah, sesungguhnya perbuatan semacam ini tidak layak dilakukan oleh seorang muslim yang cerdas. Seharusnya muslim sejati itu menggantungkan hati dan semua urusannya hanya kepada Allah semata, dan  meyakini bahwa jin dan manusia memiliki kedudukan yang sama dihadapan Allah ta’ala yaitu sebagai makhluk-Nya, Bahkan dari sisi kemulian manusia memiliki  keutamaan di atas para jin. Jika demikan, bagaimana bisa sebagian manusia memohon perlindungan dari jin yang mereka sendiri tidak mempunyai kuasa untuk memudharatkan dan memberi manfaat?

Di samping itu, kepercayaan mitos seperti ini juga dapat menjatuhkan seseorang dari perbuatan syirik,di karenakan dua sebab utama:

Pertama: Meyakini bahwa jin dapat memberi mudharat dan manfaat.

Kedua : karena memohon perlidungan adalah bentuk dari do’a yang hanya boleh dilakukan untuk allah semata. Allah berfirman:

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan jika syaitan menganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguh dialah yang maha mendengar lagi maha mengetahui. (QS. Fushilat: 36).

Jika demikian, apa yang harus dilakukan seorang muslim ketika melewati atau singgah di suatu tempat yang dianggap angker? Bagaimana Islam mengajarkan umatnya agar mereka terlepas dari perbuatan syirik?

Khalwah Binti Hakim As-Sulamiyah berkata bahawa ia pernah mendengar Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. لَمْ يَضُرُّهُ شَىْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ

 “Barang siapa yang singgah di suatu tempat lantas ia mengucapkan: [A’UDZU BI KALIMAATILLAHIT TAAMMAATI MIN SYARRI MAA KHOLAQ] Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya)”, Maka tidak ada sama sekali yang dapat memudhorotkannya, sampai ia berpindah dari tempat tersebut” [HR. Muslim no. 2708]

Hadist ini mengajarkan kita bahwa seorang muslim yang kuat aqidah dan tauhidnya, apabila ingin melintasi atau singgah disuatu tempat, agar senantiasa memohon perlindungan hanya kepada Allah dari makhluk yang jahat baik dari jin ataupun binatang buas. Oleh Karena itu, Rasulullah menganjurkan bagi orang yang beriman untuk selalu membacakan zikir ini jika dia ingin berdiam atau melewati suatu tempat, agar tidak ada yang dapat membahayakannya. Maka tidak selayaknya seorang muslim meminta perlindungan dari “mbah” yang dianggap sebagai penghuni tempat tersebut, karena ini adalah perkara tercela yang dapat merusak aqidah seorang muslim.   

Semoga Allah ta’ala memberi petunjuk kepada kita semua.

Sumber rujukan:

Tafsir  Ibnu Katsir: 4/429.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *