Pertanyaan: Apa hukum menyalurkan zakat kepada sanak kerabat?.


Jawaban:


Oleh: Ustadz Ryan Hidayatullah Lc.

Pada dasarnya zakat hanya diperuntukkan bagi delapan golongan yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an. Allah ﷻ berfirman:


إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ


“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah:60).


Dan ini adalah hasil kesepakatan dari para ulama. Namun mereka berbeda pandangan jika penerima zakat tersebut termasuk sanak kerabatnya, apakah dibolehkan? Disini ada tiga pendapat:

Pertama:

Kerabat memiliki dua bagian, dan masing-masing memiliki hukum tersendiri:
a. Kerabat yang menjadi asal usul dari keturunan pemberi zakat, seperti; ayah, ibu, anak, kakek dan nenek. Dalam masalah ini mereka tidak boleh untuk menerima zakat.
Alasannya: karena ada terdapat kewajiban salah satu pihak kepada yang lainnya dan juga dikhawatirkan pemberi zakat akan mengambil manfaat dari pemberian zakatnya .
b. Kerabat yang tidak masuk dalam golongan pertama, seperti: paman, bibi, sepupu, kakek dan nenek. Pada masalah ini mereka dibolehkan untuk menerima zakat, apalagi jika mereka termasuk golongan yang mebutuhkan, tentunya lebih diprioritaskan. Ini adalah pendapat Ulama Hanafiyah dan sebagian Ulama Hanabilah.1

Kedua:

Boleh memberikan zakat kepada sanak kerabat secara mutlak; baik kerabat dari usul ataupun yang lainnya, bahkan mereka lebih berhak dari pada orang lain.
Alasannya: karena zakat yang diberikan untuk kerabat akan menghasilkan dua kebaikan, yaitu; sedekah dan memperkuat tali persaudaraan. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Salman bin ‘Amri radhiyallahu ‘anhu:


إِنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ


“Sesungguhnya sedekah kepada orang miskin pahalanya satu sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat pahalanya dua; pahala sedekah dan pahala menjalin hubungan kekerabatan.[2]

Namun ada syaratnya, yaitu; pemberi zakat tidak memiliki tanggung jawab untuk menafkahi orang yang menerima zakat. Ibnu Taimiah rahimahullahu berkata: “Memberikan zakat kepada orang tua atau kepada anak yang mana nafkahnya tidak di atas tanggung jawabnya, jika mereka termasuk orang yang terlilit utang, budak mukatab (budak yang ingin merdeka dan perlu tebusan) atau ingin berperang di jalan Allah, maka hal ini dibolehkan, berdasarkan pendapat yang paling kuat.”[3]

Ketiga:

Bolehnya menerima zakat dengan syarat kerabat tersebut termasuk dalam delapan golongan yang tercantum dalam Al-Qur’an. Imam Nawawi rahimahullahu berkata, “Para ulama syafiiyah menyatakan bahwa mendistribusikan sedekah, zakat, dan kaffarah kepada kerabat hukumnya sunnah, jika mereka memang termasuk orang yang berhak menerimanya. Dan mereka lebih utama dibanding yang lain.”[4]


Dari perkataan para ulama di atas bisa kita ambil kesimpulan bahwa para ulama membagi kerabat menjadi dua bagian;
1. Kerabat yang masih diberi nafkah, dalam keadaan ini mereka tidak diperbolehkan untuk menerima zakat. Seperti ayah memberikan kepada anaknya, anak memberikan kepada orangvtuanya dan suami memberikan kepada istrinya. Dan dikhawatirkan manfaat dari zakat kembali kepada pemberi zakat saja, sehingga perpindahan hak milik secara sempurna tidak terwujud .

2. Kerabat yang nafkahnya tidak ditanggung oleh pemberi zakat. Pada keadaan ini mereka boleh untuk menerima zakat, bahkan lebih utama sekiranya bisa menguatkan tali persaudaraan antar saudara. Seperti seseorang memberikan zakat kepada paman, bibi atau sepupunya.


Wallahu a’alam .

Sumber rujukan:

1 – Kitab Badai’ As-Shanai’ (2/49) / Syarhul Mumti’ (6/262) .
2 – HR. An Nasai no. 2582, At Tirmidzi no. 658, Ibnu Majah no. 1844.

3 – Majmu’ Fatawa ( 25 / 90 – 92 ) 4 – Syarah Al-Muhadzab (6/210).

2 tanggapan untuk “Pertanyaan: Apa hukum menyalurkan zakat kepada sanak kerabat?.

  • 16 Mei 2020 pada 3:28 pm
    Permalink

    Alhamdulillah , Semoga diberi pencerahan , kemudahan dan Kesehatan utk T.Ryan. serta bermanfaat utk Ummat.
    amin

    Balas
    • 18 Mei 2020 pada 6:19 pm
      Permalink

      Terimakasih telah berkunjung di web kami, semoga bermanfaat.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *