Shalat Gerhana Matahari

Oleh : Mukhlis Ibnu Katsir

Pada tahun 2 H Allah ﷻ memerintahkan Rasulullah ﷺ beserta umatnya untuk mendirikan shalat saat terjadi gerhana matahari, dan waktu itu bertepatan dengan wafatnya Ibrahim putra Rasulullah ﷺ.

Orang-orang pada masa Jahiliyah mereka berkeyakinan bahwa gerhana matahari bertanda adanya orang besar yang meninggal dunia, oleh karenanya mereka mengaitkan gerhana matahari tersebut dengan kematian Ibrahim, namun Rasulullah ﷺ menyalahkan keyakinan tersebut serta mengabarkan bahwa itu tidak lain kecuali bentuk kebesaran Allah ﷻ.

Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ الشَّمْشَ وَالقَمَرَ آيتَانِ مِنْ آيَاتِ اللّه لاَ يَنْكسِفَانِ لمَوْت أَحَدٍ وَلا لِحَيَاتِهِ فَإِذا رَأيتُم ذلِك فَصَلّوا وَادْعُوْا حَتّى يَنْكَشف مَا بِكُم

“Sesungguhnya matahari dan bulan dua tanda kebesaran Allah, tidaklah terjadi gerhana matahari dan bulan karena kematian ataupun kelahiran seseorang, jika kamu melihatnya maka shalatlah dan berdoalah hingga apa yang menimpamu terang kembali.” (HR. Muslim)

Apa hukumnya?

Hukumnya sunnah muakkadah (ditekankan) bagi setiap orang yang terkena kewajiban shalat lima waktu; baik laki-laki maupun perempuan, muqim maupun musafir, sendiri maupun berjamaah, tapi lebih baik dilakukan secara berjamaah.

Kapan waktunya?

Shalat gerhana matahari dilakukan pada saat matahari mulai tertutup dan berakhir sampai matahari terang kembali. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

إِذَا رَأيْتُمْ ذَلِك فَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلي

“Jika kalian melihatnya, maka shalatlah hingga kembali terang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagaimana cara shalat gerhana matahari ?

Shalat gerhana matahari terdiri dari dua raka’at seperti shalat sunnah lainnya, hanya saja pada setiap raka’atnya terdapat dua kali ruku’ dan qiyam (berdiri). Supaya lebih jelas, langkah-langkahnya sebgai berikut:

  1. Niat, takbiratul Ihram, doa istiftah, ta’awwudz, membaca Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan surat panjang; seperti surat Al-Baqarah atau selainnya.
  2. Ruku’ dengan memperbanyak bacaan tasbih, lamanya sekitar durasi bacaan seratus ayat surat Al-Baqarah.
  3. I’tidal dengan membaca Sami’allahu liman Hamidah
  4. Membaca surat Al-Fathihah dan surat panjang, namun lebih sedikit dari yang pertama.
  5. Ruku’ dengan memperbayak bacaan tasbih, lamanya sekitar durasi bacaan delapan puluh ayat surat Al-Baqarah.
  6. I’tidal dengan membaca Sami’allahu liman Hamidah.
  7. Sujud dan duduk diantara dua sujud.
  8. Berdiri untuk raka’at kedua dengan gerakan seperti rakaat pertama, hanya saja lebih sedikit bacaanya.
  9. Tasyahhud dan salam.

Baca juga: Larangan Shalat di Masjid menurut Ulama Syafi’iyah

Tambahan:

  1. Jika dilakukan secara berjamaah maka disunnahkan bagi imam untuk berkhutbah setelah shalat, berdasarkan hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha.
  2. Tidak disunnahkan adzan dan iqamah, tapi diganti dengan الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ  berdasarkan hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha.
  3. Pada shalat gerhana matahari, bacaannya harus pelan. Sedangkan pada shalat gerhana bulan maka bacaannya dikeraskan.
  4. Disunnahkan untuk lama-lama pada setiap gerakan shalat; seperti saat I’tidal, sujud dan duduk diantar dua sujud.

Wallahu a’lam.

Referensi:

Al-Mu’tamad fi Al-Fiqh As-Syafi’I, Syeikh Muhammad Az-Zuhaili.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top