Bagaimana Status Ibadah Yang Bercampur Riya?

Ikhlas merupakan syarat penting dalam ibadah, karena tidak diterima suatu ibadah kecuali dengan mengharapkan keridhaan dari Allah semata. Karena itu, tidak selayaknya seorang muslim melakukan ibadah karena riya, seperti; mengharapkan pujian dari manusia, mendapatkan uang, atau mencari ketenaran. Maka barang siapa yang melakukan ibadah dengan tujuan dunia maka amalannya akan sia-sia dan tertolak.

Diantara kekhawatiran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam kepada umatnya adalah sifat riya. Riya adalah melakukan suatu ibadah untuk mendapati pujian orang atau mencari ketenaran.

Kekhawatiran Rasulullah dengan sifat riya karena ia sering terbesit di dalam hati seorang muslim, baik dia sadari atau tidak. Bahkan kebanyakan orang shaleh takut jika riya masuk ke dalam hati mereka.  Riya juga disebut sebagai kesyirikan yang tersembunyi, tetapi mempunyai dampak yang besar bagi pelakunya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ: فَسُئِلَ عَنهُ؟ فَقَالَ: الرِّيَاءُ

“perkara yang paling aku takutkan pada kalian adalah syirik kecil. sahabat bertanya, apa dia ya Rasulullah? Dia adalah Riya.” [HR.Ahmad]

Dalam kesampatan ini, penulis ingin membahas masalah besar yang sering dirasakan sebagai kaum muslimin, bagaimana jika riya menimpa seorang muslim dalam ibadahnya? Bagaimana status ibadah jika bercampur dengan riya? Apakah ibadah tersebut batal, atau tidak? Apakah pelakunya berdosa, atau tidak?

Dengan mengharapkan pertolongan Allah, penulis akan mencoba membahas persoalan-persoalan ini, sesuai dengan kemampuan kami.

Status amalan yang bercampur dengan riya, batalkah?

Ibadah yang niatnya bercampur dengan riya, tidak lepas dari tiga keadaan berikut:

pertama: yang menjadi faktor pendorong dari awal mula ibadah adalah untuk mencari kenikmatan dunia semata.

Seperti seseorang melakukan ibadah hanya untuk mendapatkan pujian di depan manusia, jika tidak ada orang yang melihatnya, maka ibadah tersebut tidak dikerjakannya. Atau seperti orang yang bersedekah di depan manusia agar tidak dikira pelit.

Ketahuilah, Bentuk riya seperti ini hampir tidak kita jumpai dalam diri seorang mukmin, karena sifat ini merupakan karekter khusus bagi orang-oran munafik.

Allah ta’ala menjelaskan bahwa orang-orang munafik tidak mengerjakan shalat kecuali untuk meperlihatkan keshalihan di depan manusia, Allah berfirman:

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Apabila mereka berdiri untuk shalat mereka lakukan dengan malas. Mereka lakukan dengan maksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali hanya sedikit sekali.” [An-Nisa’: 142]

Begitu juga Allah ta’ala mensifati orang-orang kafir dengan sebutan “orang yang suka dipuji”, Allah berfirman:

 وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَاللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji (riya) serta menghalangi orang-orang dari jalan Allah. Allah meliputi segala yang mereka kerjakan”. [Al-Anfal: 47]

Adapun hukum amalan mereka, tidak diragukan lagi pasti tertolak, dan bagi pelakunya berdosa serta mendapatkan azab dari Allah ta’ala, karena ini mereka telah mempersetukan Allah.

Kedua: Amalan yang  bercampur antara ikhlas karena Allah dan riya, dan munculnya riya di awal mula ibadah, maka hukum ibadah seperti ini, menurut pendapat yang benar batal dan tertolak.

Pendapat ini juga merujuk dari sebagian ulama salaf, diantaranya; Ubadad Ibnu Shamit, Abu Darda’, Hasan, Sa’id Ibnu Musayib, dan selain mereka.

Ibnu Rajab berkata: “Kami tidak mendapati perselisihan pendapat di kalangan salaf dalam masalah ini, walaupun kami mendepati perbedaan diantara ulama mutaakhirin”[2]  

Adapun dalil yang menguatkan pendapat ini diantaranya; sabda Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam dalam hadis Qudsi:

أنا أغْنى الشُّركاء عنِ الشِّرْك، مَن عمِل عملاً أشْرك فيه معي غيري، تركتُه وشِرْكَه يقول الله – تبارك وتعالى:

Allah Ta’ala berfirman: “Aku tidak butuh terhadap orang-orang musyrik atas kesyirikan yang mereka lakukan. Barangsiapa yang menyekutukan Aku dengan sesuatu yang lain, akan Ku tinggalakan ia bersama kesyirikannya” (HR. Muslim 2985)

عن النبي: لَا يَقْبَلُ الله عَمَلًا فِيْهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِن خَرْدَلٍ مِنَ الرِّيَاء

“Tidak diterima sesuatu ibadah jika terdapat riya dalam dirinya walaupun hanya seberat biji sawi”[1]

Hadist ini sangat jelas menunjukkan bahwa ibadah yang dilakukan karena Allah Ta’ala sekaligus untuk pamer, dan niat pamer terjadi di awal mula ibadah bukan ditengah-tengahnya maka amalan tersebut tertolak.

Bagaimana jika seseorang melakukan ibadah tapi bertujuan mencari manfaat untuk kepentingan dunianya?  

Permasalahan ini penting untuk diketahui, bagaimana status ibadah seseorang yang mempunyai dua tujuan, yaitu untuk taqarrub kepada Allah ta’ala sekaligus mencari maslahat dunia, tetapi harus di garis bawahi bukan niat riya atau pamer.

Misalnya; seseorang berpuasa untuk ibadah sekaligus menurunkan berat badan, atau orang berhaji untuk ibadah sekaligus berbisnis atau ingin melihat tempat-tempat bersejarah, atau juga guru yang mengajar karena ibadah sekaligus untuk mencari penghasilan.

Dalam masalah ini, ulama membedakan hukum mencari maanfaat untuk kepentingan dirinya dengan riya mencari pujian manusia.

ibadah yang tujuannya riya atau pamer, telah kita bahas hukumnya di atas. Adapun jika tujuannya untuk mencari manfaat dunia, maka hukumnya dilihat dari segi niat yang lebih dominan. Jika yang lebih dominan adalah tujuan ibadah, maka ibadahnya tetap sah dan diterima, namun pahalanya tidak penuh, namun berkurang sesuai kadar niat dunianya.

Sebagaimana firman Allah ta’ala tentang orang berhaji yang berniaga:

 لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلاً مِنْ رَبِّكُمْ

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu” (QS. Al Baqarah: 198)

Dan juga sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bagi orang yang berjihad untuk rampasan perang,

إِنَّ الغَزَاة إِذَا غَنِمُوا غَنِيْمَةً تَعَجَّلُوا ثُلُثَيْ أَجرِهِم, فَإِنْ لَمْ يَغنِمُوا شَيْئًا تَمّ لَهُم أَجْرُهم

”Para mujāhidin jika mereka bertujuan mengambil ghanīmah (harta rampasan) maka mereka telah mengambil sepertiga pahalanya, jika mereka tidak mengambilnya maka sempurnalah pahala jihad mereka”

Adapun jika yang lebih dominan adalah niat dunianya, maka dia tidak mendapatkan pahala dari ibadahnya, tetapi ia hanya mendapatkan balasan dari tujuan dunianya saja.

Jika niat ibadahnya dan dunia sama besarnya, maka hukumnya sama yaitu tidak ada pahala baginya[3]. Dalam hadist, rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ غَزَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَمْ يَنْوِ إِلاَّ عِقَالاً فَلَهُ مَا نَوَى

”Barangsiapa yang berjihād dijalan Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan dia tidak mempunyai tujuan kecuali untuk ghanīmah maka dia tidak mendapatkan apa-apa, kecuali apa yang dia niatkan.”

Juga dalam Shahihain, hadits dari Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من كانت هجرته لدنيا يصيبها، أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه

“Barangsiapa yang hijrahnya karena tujuan dunia, atau untuk menikahi seorang wanita, maka balasan hijrahnya itu sekedar apa yang ia tuju itu” (HR. Bukhari-Muslim)

Kesimpulan yang dapat kita ambil, jika seseorang melakukan ketaatan dengan niat ibadah karena Allah, kemudian ia mendapatkan seseuatu untuk manfaat dunianya berupa uang misalnya, maka ibadahnya tetap sah dan sekaligus pahala sempurna dari Allah Ta’ala, karena uang bukan tujuan utamanya.

Sebaliknya, jika tujuan utamanya hanya mencari manfaat dunia, dan tidak ada sedikutpun keikhlasan pada dirinya, maka amalanya menjadi sia-sia bahkan bisa menjadi kecelakaan baginya di akhirat.

Ketiga: faktor utama pendorong dalam ibadahnya ikhlas karena Allah Ta’ala, namun di tengah-tengah ibadah terbesit niat untuk pamer, maka dalam hal ini terdapat dua keadaan:

a. Keadaan pertama: Jika dia telah berusaha melawan riya tersebut dan hatinya gelisah karenanya, maka hal ini tidak berpengaruh pada ibadahnya sedikitpun. Karena dia telah berusaha melawan dan menolaknya sesuai dengan kemampuan.

Misalnya: seseorang shalat dengan niat ikhlas, kemudian di rakaat kedua terbesit riya dalam dirinya, sehingga dia memanjangkan ruku’ dan sujudnya dengan niat pamer. Maka dalam keadaan seperti ini, apabila orang tersebut telah berusaha melawannya , maka tidak berpangaruh apapun dari ibadahnya. 

b. keadaan kedua: Jika dia merasa tenang dengan riya tersebut, kemudian tidak ada usaha untuk mencegah atau menolaknya, maka hukum asal ibadanya batal dan tertolak.

Namun, terdapat perincian hukum dalam masalah ini. karena hukumnya berbeda sesuai jenis ibadah yang dilakukannya.

Semua ibadah yang dilakukan seorang muslim tidak lepas dari dua macam jenis [4];

Pertama: Ibadah yang memiliki keterkaitan antara awal dan akhirnya, yaitu jika awalnya rusak maka akhirnya juga ikut rusak. Seperti; shalat, puasa, atau haji.

Contoh: seseorang melaksanakan shalat ikhlas lillah ta’ala, kemudian terbesit niat pamer dalam dirinya di tengah-tengah ibadah. Jika dia tidak berusaha menolak atau mencegahnya, maka riya tersebut bisa membatalkan shalatnya.

Kedua: Ibadah yang tidak memiliki keterkaitan atau tidak berhubungan antara awal dan akhirnya, yakni jika awalnya rusak maka tidak mempengaruhi akhirnya, karena tidak memeliki keterkaitan. Seperti; zikir, membaca AL-Quran, atau sedekah.

Contoh: seseorang memiliki uang seratus ribu, kemudian dia bersedekah lima puluh ribu dari uang tersebut dengan niat ikhlas. Tidak lama kemudian, dia menambah sedekahnya lima puluh ribu lagi dengan niat pamer. Maka hukum sedekah pertama sah dan diterima ibadahnya, adapun sedekah yang kedua tertolak.

Begitu juga dengan orang yang membaca Qur’an, jika terbesir niat riya atau ingin memamerkan bacaannya, maka cukup baginya untuk berhenti sejenak agar riyanya terputus, kemudian dia kembali membaca setelah memperbarui niatnya.     

Baca juga: Bahaya Syirik

Perkara yang dikira riya padahal bukan.

Ada beberapa perkara sebagian orang mengira perbuatannya termasuk riya, sehingga ia meninggalkan ibadah agar selamat dari sifat riya, diantara perkara penting yang harus kita ketahui Adalah:   

Mendapat pujian manusia setelah melaksanakan ibadah tertentu.

Bukanlah termasuk riya jika seseorang melakukan ketaatan karena Allah, kemudian dia mendapatkan pujian dari manusia, dan dia senang dengan pujian yang dia dapat tersebut, maka ini tidak mempengaruhi ibadah yang telah dilakukannya, karena ini adalah kenikmatan yang Allah segerakan di dunia sebelum dia akhirat.

Dalam hadist shahih, dari Abu Dzar Radhiallahu’anhu berkata, seseorang datang menghadap Rasulullah untuk bertanya; Ya Rasulullah! Aku mendapatkan pujian dari manusia atas ibadah yang aku kerjakan, dan aku senang dengan pujian tersebut, bagaimana status ibadahku? Rasulullah bersabda, “Hal itu merupakan kabar gembira seorang mukmin yang disegerakan.” [HR.Muslim: 2642]   

Merasa senang karena orang mengetahui ibadah yang dilakukannya.

Bukanlah termasuk perkara riya seseorang senang disebabkan ibadah yang dilakukan selama hidupnya diketahui orang lain. Karena kesenangan yang didapati seseorang karena keta’atan atau kesedihan karena amalan buruknya adalah bukti keimanan seseorang. Rasulullah Shalallahu’alai Wasallam bersabda;

مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُه وسَاءَتهَ سَيَّئَتُه فَهُوَ مُؤْمِن   

“Barangsiapa yang senang dengan amalan kebaikannya dan merasa sedih dengan keburukannya maka dia adalah orang yang beriman”. [HR.Tirmidzi: 2195]

Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah; Ya Rasulullah! Bagaimana jika seseorang menyembunyikan ketaatanya, kemudian Allah tampakkan ibadahku ini dihadapan orang lain, dan aku senang dengan hal tersebut. Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam menjawab: “engkau mendapatka dua pahala: Pahala ibadah yang engkau sembunyikan dan pahala ibadah yang terlihat”. [HR.Tirmidzi: 2384]

note : untuk pembahasan yang lengkap bisa klik judul ini Antara Ikhlas Dan Riya

Menampakkan ibadah untuk memotivasi orang banyak.

Tidaklah termasuk perkara riya jika seseorang menampakkan ibadahnya di depan orang, sebagai pembelajaran dan motivasi orang lain dalam ibadah. Karena ini termasuk dalam perkara mengajak orang lain dalam berbuat baik.

Maka tidak masalah seorang guru menceritakan kebaikannya di depan murid-muridnya sebagai motivasi buat mereka. Begitu juga boleh bagi seorang ayah menampakkan ibadahnya di depan anaknya, agar mereka dapat mengikutinya.

Sebagaimana Rasulullah juga pernah menampakkan ibadahnya di depan para sahabat-sahabatnya agar dapat ditiru.

Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda: “sesungguhnya Aku melakukan ini agar kalian dapat mengikutiku, dan bisa mempelajari bagaimana aku shalat”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Mengambil imbalan dari ibadah yang dikerjakan.

Bukanlah termasuk riya jika seseorang mengambil upah dari orang lain selama motivasi ibadahnya karena Allah Ta’ala. Maka mengambil pemberian semacam ini tidak merusak ibadah, dan dia tetap mendapatkan pahala yang sempurna di akhirat.

Adapun jika tujuan ibadahnya untuk Allah sekaligus mencari uang, maka ibadahnya tetap diterima, namun sebagian pahalanya akan berkurang.

Misalnya, seorang Imam mesjid boleh mengambil uang jika ada yang memberinya, selama dia tidak menjadikan uang tersebut sebagai pendorog utama dia dalam beribadah. Atau jika seorang da’i yang berdakwah dengan niat ibadah karena Allah, kemudian ada orang yang memberinya upah sebagai penghormatan atau tanda terima kasih, dan dia mengambilnya, maka dia mendapatkan pahala penuh dari Allah Ta’ala, karena uang bukan tujuan utamanya. Wallahu A’lam.

Keikhlasan butuh kesungguhan

Dari tulisan ini kami mengajak kaum muslimin agar selalu berusaha untuk ikhlas dalam segala amal ibadah, dan menutup semua celah yang bisa mendatangkan riya dalam diri. kemudian minta perlidungan dari Allah agar terhidar dari penyakit riya dalam ibadah.

Bersungguh-sungguhlah dalam memperbaiki niat ibadah kita, dan jangan pernah hiraukan bisikan setan untuk meninggalkan kebaikan karena alasan riya, sesungguhnya setan selalu berusaha menghalangi manusia dari kebaikan.

Melatih keikhlasan dalam ibadah memang berat, Imam Yusuf Ibnu Hasan Ar-Razi berkata; “menurutku hal yang paling berat di dunia ini adalah menimbulkan keikhlasan saat melakukan keta’atan. Sungguh aku telah berusaha menjatuhkan riya dalam hatiku ini, akan tetapi dia selalu datang dari arah yang tidak aku duga”.[5]

Semoga allah memberi taufik kepada kita semua.


[1] Kitab Al-Hilyah (8240) dari jalur Yusuf Ibnu Asbath

[2] Jami’ Al-‘Ulum Wa Al-Hikam (1/38)

[3]  Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Al-Ghazali, di nukil Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari (1/18). dan  Sha’ani dalam Subul As-Salam (2/660)

[4]  Fathu Al-Bari: (1/18)

[5]  Jami’ Al-‘Ulum Wa Al-Hikam: (1/42)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top