Tanggung Jawab Orang Tua #Part 2

Oleh: Ahmad Yasin

Sebagai orang tua banyak sekali tanggung jawab yang harus diemban. Mari simak bersama-sama ulasan berikut!

Memberi Nafkah

Orang tua wajib menafkahi anaknya (dengan harta yang halal) tatkala anak tidak mampu mencari nafkah sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam kitab fiqih manhaji disebutkan ada tiga kategori dimana orang tua wajib menafkahi anaknya;

  1. Ketika anaknya fakir dan masih kecil, karena ia tidak memiliki perangkat untuk memenuhi kebutuhannya.
  2. Fakir dan dalam keadaan tertentu seperti menuntut ilmu agama; aqidah, hadis, fiqih, tafsir dll.
  3. Fakir dan gila. (Lihat Fiqh Manhaji ‘Ala Madzhab Asy Syafi’i juz 4 hal. 172)

Besaran nafkah yang harus diberikan tidak ada batasan, akan tetapi sesuai kebutuhan anak. Namun pemberian nafkah ini tidak memaksa orang tua untuk memenuhi semua kebutuhan anak jika orang tua tidak mampu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.” (Surat Ath-Thalaq 7)

Memberikan Pendidikan Agama

Seperti yang kita ketahui bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepadaNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Surat Adz-Dzariyat 56)

Orang tua akan ditanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang pertanggung jawabannya atas anaknya termasuk pendidikannya. Seorang anak tergantung orang tuanya ingin menjadikan dia menjadi Yahudi atau Nashrani atau Majusi. Rasulullaah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda,

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

 “Tidak ada seorang anakpun yang terlahir kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari)

Di sinilah peran penting orang tua dalam membentuk kepribadian anaknya. Maka orang tua harus benar-benar memperhatikan pendidikan anaknya. Sama-sama kita ketahui menuntut ilmu wajib hukumnya bagi setiap muslim dan muslimah berdasarkan hadis Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Menurut Syaikh Burhanudin Az Zarnuji kewajiban menuntut ilmu ini bukan bermaksud harus mempelajari semua bidang ilmu, melainkan memperlajari ilmu yang menjadi penopang untuk melalukan kewajibannya.

Misal ketika anak sudah baligh maka dia wajib shalat, pada waktu ini orang tua wajib mengajarkan shalat kepada anaknya, jika orang tua belum mampu mengajarnya maka wajib mencarikan guru. Begitu juga ketika anak wajib berzakat, berpuasa dll. (Lihat Syarh Ta’lim Muta’allim hal. 12)

Perkara wajib dalam menuntut ilmu pada dasarnya terbatas pada rukun iman dan rukun islam. Dan setelah itu ilmu-ilmu yang lain menjadi wajib hukumnya jika dibutuhkan. Misal seseorang ingin berdagang, maka ia wajib belajar fiqih muamalah agar tahu halal haram dari muamalahnya tersebut, ketika ingin mendalami ilmu tafsir maka wajib mempelajari perangkat-perangkatnya seperti; bahasa arab, ulumul quran dll.

Perhatian! bagi orang tua, perkara urgent setelah rukun iman dan rukun islam yang sering dilupakan adalah belajar fiqih muamalah. Maka mari bersama-sama mempelajari ilmu ini agar kita selamat dari harta haram. Fiqih muamalah adalah bidang ilmu fiqih yang mempelajari tentang tata cara jual beli, barter, wakaf, shodaqoh, dll. Bagaimana orang bisa tahu harta itu halal atau haram tanpa mengetahui ilmunya?

Berlaku Adil Dalam Memberi Hadiah

Orang tua harus adil jika memberi hadiah kepada anaknya tanpa membeda-bedakannya. Jika anak pertama dikasih hadiah baju maka anak yang lain harus dikasih hadiah yang sama. Hal ini berbeda dengan nafkah, karena nafkah adalah memenuhi kebutuhan anak, sebagai contoh, anak pertama pada tataran kuliah otomatis uang yang diberikan lebih banyak daripada anak kedua yang masih SD sesuai kebutuhannya masing-masing. 

Hadiah adalah pemberian yang bersifat tambahan setekah memenuhi kebutuhan anak. Belaku adil dalam meberi hadiah kepada anak berdasarkan hadis Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam yang memerintahkan sahabat Basyir untuk adil kepada anak-anaknya tatkala beliau memberi hadiah kepada salah satu anaknya dan mempersaksikannya dihadapan beliau. Maka Rasulullaah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, “Apakah engkau memberi anak-anakmu yang lain seperti anakmu itu?” shabat Basyir berkata, “Tidak”. Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda,

فَاتَّقُوا اللَّهَ ، وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ

“Bertakwalah pada Allah. Bersikap adillah terhadap anak-anakmu.” An Nu’man berkata bahwa ayahnya kembali dan menarik hadiah tersebut. (HR. Bukhari)

Wallaahu a’lam.

Rujukan:

  1. Al Quran
  2. Shahih Bukhari
  3. Sunan Ibnu Majah
  4. Fiqh Manhaji ‘Ala Madzhab Asy Syafi’i
  5. Syarh Ta’lim Muta’allim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *